Dr. H. Muhammad Afifuddin, Lc., MA. adalah sosok ulama dan akademisi yang telah memberikan banyak kontribusi dalam dunia pendidikan, penelitian, dan pengajaran Al-Qur’an. Kiprahnya sebagai dosen, pengasuh pesantren, serta penulis karya-karya ilmiah menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus mengembangkan diri dalam ilmu dan agama.
Sesi ini dipandu oleh moderator yang dengan baik mengarahkan jalannya diskusi, sehingga pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dapat terjawab dengan jelas. Semoga kajian ini bermanfaat dan semakin memperkaya khazanah keilmuan kita dalam memahami tafsir Al-Qur’an.
KH Thoyfur mengakhiri pertemuan dengan mengijazahkan kitab Firdaus al-Na’im kepada para peserta Pekan Ngaji Tafsir Nusantara. Beliau juga memohon maaf atas keterbatasannya hadir secara langsung, serta memanjatkan doa untuk kesehatan dirinya dan para peserta.
Pada akhir kajian, KH Thoyfur menjelaskan historiografi penyusunan Al-Qur'an, mulai dari zaman Nabi Muhammad, Khalifah Abu Bakar, hingga Khalifah Utsman bin Affan. Kodifikasi Al-Qur'an dilakukan pada masa Khalifah Utsman karena banyaknya penghafal Al-Qur'an yang gugur dalam perang melawan kaum murtad. Al-Qur'an yang telah dikodifikasi ini kemudian diduplikasi menjadi beberapa mushaf yang disebarkan ke kota-kota besar pada masa itu, seperti Mekkah, Basrah, Kufah, dan Syam.
Gambaran tersebut menyimpukan bahwa dalam melestarikan Sunni di Pulau Madura melalui karya tulisan berupa kitab, ulama pesantren yang patut untuk dipelajari adalah Kyai Toifur Ali Wafa.
Beliau mengatakan : Manusia terbagi menjadi tiga kelompok 1. Orang yang beriman 2. Orang Kafir 3. Orang yang ragu Kelompok kedua dan ketiga itu akan mempunyai persamaan ketika di akhirat.