Syekh Izzuddin bin Abdissalam: Ulama Besar Mazhab Syafi’i abad ke-6

Syekh Izzuddin bin Abdussalam telah membuktikan bahwa keterbatasan finansial bukanlah penghalang bagi seseorang untuk menjadi alim. Ia menjadi simbol harapan bahwa seseorang yang lahir dari keluarga miskin pun mampu tumbuh menjadi seorang ulama besar yang keilmuannya diakui oleh dunia Islam.

Dokumentasi


Dalam dunia keilmuan Islam, kita mengenal beberapa tokoh intelektual Muslim yang terkemuka di zamannya. Syekh Abdul Qadir Al-Jailani terkenal dengan gelar Sulthonul Auliya (rajanya para wali), sedangkan Syekh Izzuddin bin Abdissalam masyhur dengan sebutan Sulthonul Ulama (rajanya para ulama).

Syekh Izzuddin bin Abdissalam adalah sosok ulama yang luar biasa. Beliau adalah seorang ilmuwan, mujtahid, hakim, dan pendidik yang memberikan pengaruh besar dalam dunia Islam.

Beliau lahir di Damaskus, Irak, pada tahun 577 H dan wafat pada tahun 660 H. Dimakamkan di Maqbarah al-Qarrafah al-Kubra, Mesir. Beliau berasal dari keluarga miskin dan serba kekurangan, bukan keturunan raja atau ulama besar.

Nama lengkap beliau adalah Imam Abdul Aziz bin Abdussalam bin Abul Qasim bin Hasan as-Sulami ad-Dimisyqi asy-Syafi’i. Gelar Izzuddin (yang berarti "kehormatan agama") diberikan sesuai dengan kebiasaan di Damaskus pada masa itu. Setiap khalifah, sultan, pejabat, terlebih lagi ulama, diberi tambahan gelar kehormatan pada namanya.

Keilmuan dan Gelar Kehormatan

Keluasan ilmu Syekh Izzuddin bin Abdissalam tercermin dari berbagai gelar yang disematkan kepadanya. Sebagaimana disebutkan oleh Syekh Khairuddin ad-Dimisyqi dalam salah satu kitabnya, dalam mazhab Syafi’i, beliau mendapat gelar sebagai:

  • Fuqaha (ahli fiqih) yang telah mencapai derajat mujtahid,

  • Mufassir (ahli tafsir),

  • Syaikhul Islam (Tuan Guru Islam),

  • Ahadu A‘immah al-A’lam (salah satu imam terkemuka), dan

  • Muhaddits (ahli hadits).

Namun, gelar yang paling istimewa adalah Sulthânul ‘Ulamâ’ (Rajanya Para Ulama). Gelar ini diberikan karena sumbangsihnya yang besar dalam perkembangan ilmu pengetahuan, terutama dalam ilmu fiqih.

Masa Kecil dan Perjalanan Keilmuan

Kehidupan Syekh Izzuddin sejak kecil penuh dengan kesulitan. Kondisi ekonomi yang sangat terbatas membuatnya tidak dapat menempuh pendidikan sebagaimana ulama lain pada umumnya. Ia lebih memilih mencari nafkah dan bekerja untuk keluarganya.

Namun, meskipun baru mulai menuntut ilmu di usia yang tidak lagi muda, semangatnya dalam belajar sangat tinggi. Ia menghafal kitab-kitab dan secara berkala menimba ilmu dari para ulama besar di masanya. Syekh Izzuddin menempuh pendidikan agama di Damaskus dan pernah menjadi salah seorang khatib di Masjid Umayyah Damaskus.

Beliau dikenal sebagai sosok yang tegas dalam menegakkan kebenaran. Hal ini terbukti ketika ia menentang kebijakan penguasa Damaskus yang menyerahkan dua wilayah kepada Tentara Salib. Karena sikapnya ini, ia dipenjara oleh penguasa Damaskus. Setelah dibebaskan, beliau hijrah ke Mesir dan diangkat sebagai hakim di Kairo.

Kisah Awal Futuh Syekh Izzuddin bin Abdussalam

Suatu malam yang sangat dingin, seperti biasanya, Syekh Izzuddin menginap di teras masjid. Karena kelelahan, ia tertidur lelap. Pada tengah malam, ia mengalami mimpi basah (ihtilam). Beliau pun bergegas mandi di kolam masjid. Namun, ia sempat ragu karena cuaca Damaskus saat itu sangat dingin. Sesaat muncul di benaknya keinginan untuk menunda mandi hingga pagi. Namun, dengan segera ia memutuskan untuk tetap mandi saat itu juga, tanpa peduli seberapa dinginnya air. Setelah selesai, ia kembali tidur.

Tanpa disangka, kejadian ini berulang hingga tiga kali dalam satu malam. Setiap kali terjadi, beliau tetap memaksakan diri untuk mandi, hingga akhirnya beliau tidak sadarkan diri karena kedinginan. Dalam keadaan tersebut, beliau mendengar suara lirih yang berkata:

يَا ابْنَ عَبْدِ السَّلَامِ أَتُرِيْدُ الْعِلْمَ أَمِ الْعَمَلَ؟

"Wahai Ibn Abdussalam, apa yang engkau kehendaki, ilmu atau amal?"

Mendengar pertanyaan ini, Syekh Izzuddin spontan menjawab:

"Tentu saja ilmu, karena dengannya aku akan bisa beramal."

Biidznillah, keesokan harinya Syekh Izzuddin seakan mendapat futuh (terbukanya pemahaman yang diraih tanpa belajar). Berkat kegigihannya malam itu, Allah memberikan hidayah. Hatinya terasa begitu lapang. Hal itu beliau buktikan dengan menghafal kitab at-Tanbih karya Syaikh asy-Syairazi dalam waktu yang relatif singkat. Ia pun terus menekuni ilmu dan mendatangi ulama-ulama besar di masanya, seperti Syekh Syaifuddin al-Amid dan Syekh Fakhruddin Ibnu Asakir. Hingga akhirnya ia menjadi ulama besar di Damaskus. (As-Subki, Thabaqat asy-Syafi’iyah, 1413, juz VIII, h. 213).

Kisah inspiratif ini memberikan pelajaran berharga bahwa sebelum mendapatkan futuh, seseorang harus berusaha dengan sekuat tenaga.

Keistimewaan Syekh Izzuddin bin Abdissalam

Beberapa karakter utama beliau adalah:

  1. Keberanian dalam Menegakkan Kebenaran

Syekh Izzuddin berani menentang ketidakadilan, bahkan jika harus berhadapan dengan para sultan dan pejabat. Salah satu bukti keberaniannya adalah ketika ia mengkritik kebijakan penguasa Ayyubiyah yang menjual jabatan kepada orang-orang yang tidak memenuhi syarat.

  1. Ketekunan dalam Menuntut Ilmu

Meski baru serius menuntut ilmu di usia yang tidak lagi muda, Syekh Izzuddin mampu menguasai berbagai cabang keilmuan dalam waktu singkat. Ini menunjukkan ketekunannya yang luar biasa dalam menuntut ilmu.

  1. Kedalaman Spiritualitas dan Ketakwaan

Sejak muda, beliau terkenal dengan ibadah dan kezuhudannya. Kisah futuh yang dialaminya menunjukkan kedalaman spiritualnya dan kesungguhannya dalam menjalankan syariat Islam.

  1. Produktivitas dalam Ilmu dan Dakwah

Tidak hanya mengajar dan berdakwah, Syekh Izzuddin juga aktif menulis dan memberikan fatwa. Banyak dari karyanya menjadi rujukan penting dalam fiqih, tafsir, dan ushul fiqih.

Produktivitas dan Karya

Syekh Izzuddin bin Abdissalam adalah sosok yang sangat produktif. Dalam bidang kepenulisan, ia telah menghasilkan sekitar 30 karya tulis, bahkan ada beberapa karyanya yang belum tersebar secara luas.

Beberapa karyanya yang terkenal antara lain:

  • Tafsir al-Kabir li Ibn Abdissalam (tafsir Al-Qur’an)

  • Qawaidul Ahkam fi Mashalihil Anam (kaidah hukum Islam)

  • al-Ilmam fi Adillatil Ahkam (fiqih)

  • al-Fatawa Syekh al-Izz

  • al-Isyarah ilal Ijaz fi Ba’di Anwa’il Majaz

Syekh Izzuddin bin Abdussalam telah membuktikan bahwa keterbatasan finansial bukanlah penghalang bagi seseorang untuk menjadi alim. Ia menjadi simbol harapan bahwa seseorang yang lahir dari keluarga miskin pun mampu tumbuh menjadi seorang ulama besar yang keilmuannya diakui oleh dunia Islam.

_____

Oleh : Naily Syarofah Maulidiyah, Mahasantri Semester 4


#Biografi
SHARE :
Berikan Komentar
Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin

LINK TERKAIT