Gambaran tersebut menyimpukan bahwa dalam melestarikan Sunni di Pulau Madura melalui karya tulisan berupa kitab, ulama pesantren yang patut untuk dipelajari adalah Kyai Toifur Ali Wafa.
Dokumentasi
Biografi dan Perjalanan Intelektualitas
Kyai Toifur Ali Wafa
Ulama pesantren di Madura selain berperan di tiga sektor––pesantren,masyarkat, dan organisasi, terdapat beberapa di antara mereka dengan jumlah yang sangat terbatas yang juga turut melestarikan paham Sunni melalui karya tulisan. Salah satu di antaranya adalah K.H. Toifur Ali Wafa. Lelaki kelahiran 20 Sya’ban 1384 H (1963 M) itu merupakan salah satu ulama pesantren yang paling produktif dalam menulis. Karya yang dia tulis berjumlah 43 buku dalam bahasa arab.
Kitab-kitab Karya Kyai Toifur Ali Wafa
Salah satu buku monumentalnya adalah Firdaus al-Na’im: Sebuah Tafsir Al-Qur’an.
Dia merupakan pengasuh Pondok Pesantren Assadad. Pondok tersebut berdempetan dengan rumahnya di desa Ambunten, Kabupaten Sumenep. Di lembaga pendidikan Islam tersebut dia mengajarkan beberapa buku-buku ajar pesantren sebagaimana pada umumnya, di samping pula kadang-kadang membedah buku-bukunya sendiri. Dia mengajar studi keislaman biasanya selepas salat Maghrib secara berjama’ah dan subuh di Masjid yang berada di halaman pesantren. Pesantren yang dia asuh itu masih tergolong sebagai pesantren tradisional (salaf). Di sana, dia tak membuka sekolah formal. Tapi meskipun demikian, dia tak melarang para santri—bagi yang berkehendak—untuk belajar di sekolah formal.
Selain di pesantren dia juga aktif melestarikan paham Sunni di masyarakat. Keterlibatan dia di masyarakat sama dengan kyai-kyai yang lain, yaitu mengisi ceramah, pengajian, dll. Walaupun nama dia tak terlalu populer bagi kalangan masyarakat Madura bagian Barat, dia merupakan salah satu tokoh tarekat naqsyabandi yang di segani di sumenep. Basis kekuatan masa dia memang di Madura bagian Timur. Meskipun termasuk ulama yang produktif menulis, di masyarakat dia bukan terkenal lantaran buku-bukunya tetapi karena karisma dan ketauladannya yang lemah lembut. Kesibukan dia sebagai pangasepoh di masyarakat nampaknya melebihi kesibukan dia sebagai guru di pesantren. Tapi sesibuk apa pun., dia tetap selalu menyediakan waktu khusus berada di pesantren. Dia memilih malam untuk tetap berada di pesantren, terutama di rumahnya. Belakangan ini dia tak mau menerima undangan masyarakat bila mana penyelenggaraan acaranya di malam hari. Dia beraktifitas di masyarakat selalu di siang hari. Di malam hari, total mulai menjelang maghrib hingga setelah pengajian subuh, dia khususnya waktunya untuk berada di pesantren. Sebagai kyai yang memiliki daya intelektualitas mumpuni, namanya tentu tak asing lagi bagi kalangan para kyai NU yang lain. Di sumenep, dia bergabung dengan organisasi yang berlambang bumi dan bintang sembilan itu. Salah satu peran yang dia tekuni adalah mengisi pengajian kitab kuning pada waktu-waktu tertentu di pengurus cabang Nahdlatul Ulama (PCNU). Di samping aktif menyumbangkan intelektualitas keislaman kepada para anggota organisasi tersebut, dia juga meyepuhi––sebagai Ketua Umum––sebuah wadah gerakan para kyai, komunitas Majelis Alumni-Alumni Pondok Pesantren (MassaPontren).
Salah satu tujuan utama gerakan tersebut adalah membentengi paham Sunni dari rongrongan ajaran lain. Agenda yang dijalankan adalah pertama, pengajian rutin setiap bulan. Kyai Toifur merupakan salah seorang ulama yang kerap kali dimintai untuk membacakan teks kitab kuning tertentu di agenda tersebut. Kedua, penyuluhan ke pesantren-pesantren dan sekolah-sekolah tentang pentingnya Sunni melalui beberapa anggota yang sudah direkrut. Ketiga adalah menghimbau kepada masyarakat untuk tak menjual tanah kepada asing melalui kompolan maupun ceramah. Agenda yang sudah berhasil adalah terwujudnya peraturan kepada seluruh siswi Muslimah di Sumenep untuk menggunakan kerudung. Data ini penulis peroleh ketika mewawancarai Kyai Toifur di rumahnya.
Salah satu dari keberhasilan Massa Pontren adalah diterapkannya sampai sekarang peraturan berkerudung bagi para siswi Muslimah. Melalui komunitas itu, dia nampaknya ingin supaya paham Sunni betul-betul terlestarikan di Pulau Madura. Dia tak ingin paham Sunni yang berkembang di masyarakat Madura tercampuri oleh paham-paham lain. Pemahaman keagamaan dia ini dapat tergolong ekslusif. Hal tersebut dapat dipahami lantaran dia merupakan santri jebolan Mekkah. Dia merupakan salah satu ulama Madura yang memiliki jaringan keilmuan yang kuat dengan Mekkah.
Sebelum mendirikan Pondok Pesantren Assadad itu pada tahun 1992, dia sempat merantau ke Mekkah. Perjalanan dia itu dalam rangka menimba ilmu kepada beberapa ulama yang berada di sana. Diantara ulama yang dia jadikan guru adalah Syeikh Ahmad Dardum dan Syeikh Ismail Zein. Kepada Syeikh Dardum, dia belajar studi gramatika bahasa Arab (nahwa) dan hukum Islam (fiqh). Salah dua buku yang pernah dia pelajari kepada gurunya yang terkenal sebagai pakar nahwa itu adalah pertama, Syarah Ibn Aqil karya Ibn Aqil yang merupakan buku komentar atas buku gramatika bahasa Arab yang terkenal puitik, Al-Fivah karya Ibn Malik dan kedua, buku fiqh yang berjudul Kifayatul Akhyar karya Abu Bakar bin Muhammad bin Abdul Mu'min. Kitab kuning terakhir tersebut merupakan buku komentar atas karya Abu Syuja'. Taqrib.
Biasanya dia berangkat ke rumah gurunya itu. Syeikh Dardum, pada pagi hari. Di sore harinya, selepas menunaikan salat Ashar, dia pergi ke rumah Syeikh Ismail. Di sana, dia belajar banyak kitab-kitab kuning hingga malam. Dari selepas Ashar hingga Maghrib dia belajar karya para ulama terdahulu seperti Nihayatul Muhtaj dan beberapa kitab fiqh lain. Setelah Isya' dia belajar kitab-kitab Hadits (kutub al-sittah).
Sebelum merantau ke Mekkah, sebagaimana kebanyakan para ulama Madura yang lain, dia juga pernah menempuh pendidikan Islam di Pulau Madura dan beberapa di Pulau Jawa. Studi keislaman perdananya dia dapatkan dari orang tuanya sendiri, Kyai Ali Wafa, seorang ulama yang terkenal sebagai tokoh tarekat naqsyabandiyah di Sumenep. Dia belajar kepada ayahnya tentang metode membaca Al-Qur'an-mulai dari mengenal huruf hingga dapat membacanya secara baik-(baca: sesuai tajwid) dan praktik salat (Madura: duana bajang). Setelah dapat membaca Al-Qur'an dan mempraktikkan salat dengan baik, dia kemudian melanjutkan belajar tentang beberapa kitab kuning dasar. Di antaranya adalah jurmiyah, kafrawi, mutammimah, matan safinah, matan sullam, aqidatul awam, risalah mukhtashar fi 'ilmi al-tauhid, bidayh al- hidayah, dll. Tak lama setelah menyelesaikan beberapa buku ajar dasar pesantren tersebut hingga dia berhasil dapat membaca kitab kuning dengan baik, ayahnya wafat. Umur Kyai Toifur muda saat itu belum menginjak usia ke-14 tahun. Saat itu dia sudah menjadi yatim. Tapi status ke-yatiman-nya tak membuat semangat dia dalam mengejar pendidikan keislaman surut. Dia melanjutkan studinya kepada saudaranya, Kyai Ali Hisyam. Kepadanya dia belajar buku-buku karya Syeikh Nawawi Banten, seperti Kasyifah al-Najah, buku komentar atas Safina, Syarah Sullami, dan Syarah Bidayah al-Hidayah.
Pada saat sudah menginjak usia yang ke-14 tahun, dia berangkat ke Mekkah untuk menunaikan rukun Islam yang kelima (hajj). Pada tahun itu pula dia dijodohkan dengan salah satu putri Kyai Abdullah Salil Kholil dan sampai sekarang menjadi istrinya. Sepulang dari Mekkah dia kembali mengejar pendidikan keislaman. Kali ini dia dibawa oleh saudarannya, Kyai Hisyam, untuk bertemu dengan Kyai Ahmad Zaini bin Miftahul Arifin, salah seorang ulama Sumenep yang pernah menjadi Imam Besar Masjid Istiqlal di Jakarta. Kyai Hisyam menyampaikan pinutur kepada Kyai Zaini bahwa ada surat dari ayahnya Kyai Ali Wafa sebelum wafat. Surat itu kira-kira berisi tentang pesan Kyai Ali Wafa kepada Kyai Zaini untuk membantu putranya bila mana suatu saat nanti tak ada umur. Singkat cerita, Kyai Toifur muda diterima di pesantren untuk menjadi santri baru. Di sana dia menghabiskan waktu belajarnya hanya depalapan bulan. Sebab tak lama setelah kepulangannya dari Jakarta, Kyai Zaini yang mendapatkan titipan putra Kyai Ali Wafa itu pun wafat. Akhirnya terpaksa Kyai Toifur muda harus meninggalkan pesantren. Tapi walaupun sebentar, di sana dia sudah sempat menyelesaikan studinya tentang beberapa disiplin pengetahuan keislaman, seperti fiqh, hadits, dan nahwu.
Kemudian selepas belajar dari pesantennya Kyai Zaini, dia melanjutkan ke pesantren Sidogiri. Di sana dia langsung belajar kepada Kyai Abdullah Salil Kholil. Beberapa kitab yang dia pelajari adalah Shahih Bukhari, Asymani Syarah Al-Fiyah, Syarah Baiquniyah. Syarah Sullam Munawwaraq fi Mantiq wa al-Luma, dll. Sebagai memang terjadi dalam tradisi pesantren, selain belajar di pondok dia juga belajar kepada kyai tertentu dalam waktu tertentu (nyolok). Selama bulan puasa (ramadhan), dia mengaji kitab kuning kepada Kyai Jamaludin. Kitab kuning yang dia pelajari dengan sistem bandongan adalah Shokik Bukhari. Selama satu bulan suntuk, Kyai Jamaludin menuntaskan (khatam) pembacaan teks. Waktunya seharian penuh, muali dari selepas Subuh hingga tengah malam. Waktu istirahatnya hanya di waktu salat dan setelah Maghrib. Selebihnya hanya untuk mengaji kitab. Kyai Toifur muda mengikuti pengajian itu dengan aktif sebulan penuh.
Saat dia sedang aktif-aktifnya belajar di pesantren, kakak kandungnya- yang selama ini membiayai dia menyusul ayahnya. Kyai Hisyam meninggal dunia di usia muda. Lantaran ditinggal kakaknya itu, dia terpaksa untuk pulang ke kampung halaman dan berhenti mondok. Meskipun keadaan mendesak seperti itu, dia tetap semangat untuk meneruskan studi. Dia bercita-cita untuk melanjutkan studi keislamannya di Mekkah. Cita-cita tersebut terlaksana lantaran pertemuannya dengan salah seorang Habib-Fadhlil Muhammad bin Sholih al-Muhdlar di rumah Habib Husein bin Abdullah al-Hinduan, Ambunten. Berkat pertemuan tersebut, dia bisa melanjutkan studinya di Mekkah.
Di kota Mekkah lah dia kemudian belajar untuk menulis. Kemungkinan besar latar belakang pendidikan keagamaan itu yang membuat dia dapat dengan mahir menelurkan karya-karya dalam bahasa Arab. Ulama pesantren di Madura jarang yang dapat meniru produktifitas dia dalam berkarya. Ulama sekaliber kyai Habibullah Kalabaan-pendiri pondok pesantren salaf terbesar di Sumenep saja baru berhasil menulis kitab kurang lebih tiga karya. Salah satunya adalah syarah Al-Fiyah Ibn Malik. Kyai Toifur bagi kalangan para kyai selain terkenal karena prilakunya yang sopan juga karena karyanya yang banyak. Gambaran tersebut menyimpukan bahwa dalam melestarikan Sunni di Pulau Madura melalui karya tulisan berupa kitab, ulama pesantren yang patut untuk dipelajari adalah Kyai Toifur Ali Wafa.
Abul Ulya (mahasantri semester 1)
Tim Media Ma'had Aly Darul Ulum Jombang