Al-Fatihah bukan sekadar bacaan, tetapi munajat seorang hamba kepada Tuhannya. Karena ia adalah dialog suci, maka dimulai dengan pujian kepada Allah sebelum masuk pada permohonan.
Surah Al-Qur’an memiliki keterpaduan struktur yang menakjubkan. Setiap surah tidak berdiri sendiri, tetapi saling berkaitan dalam susunan yang penuh hikmah. Salah satu bentuk keterpaduan itu tampak jelas pada hubungan antara Surah Surah Al-Fatihah dan Surah Al-Baqarah. Para ulama, termasuk Jalaluddin as-Suyuthi dalam Asrār Tartīb as-Suwar, menjelaskan bahwa Al-Fātiḥah merupakan ringkasan (ijmāl) dari seluruh kandungan Al-Qur’an, sedangkan Al-Baqarah adalah perincian (tafsīl) dari makna-makna glo
Berdasarkan kajian tafsir Al-Qur’an bil-Qur’an terhadap QS. al-Baqarah [2]: 174, dapat disimpulkan bahwa Al-Qur’an secara tegas mengecam perbuatan menyembunyikan wahyu dan memperjualbelikannya demi kepentingan duniawi. Penguatan melalui ayat-ayat lain menunjukkan bahwa keuntungan dunia yang diperoleh dari perbuatan tersebut sangat kecil dan tidak sebanding dengan kerugian besar di akhirat. Pendekatan tafsir Al-Qur’an bil-Qur’an dalam ayat ini menegaskan kesatuan pesan Al-Qur’an tentang pentingny
Melalui ayat ini, Al-Qur’an mendidik manusia agar hidup sederhana, santun, dan tidak terjebak dalam rasa bangga yang berlebihan karena di situlah letak keindahan akhlak seorang mukmin.
QS. Al-Baqarah ayat 93 menegaskan bahwa iman dan ketaatan merupakan dua unsur yang tidak terpisahkan. Pengakuan iman tanpa ketaatan hanyalah ilusi religius yang dikritik keras oleh Al-Qur’an. Melalui kisah Bani Israil, ayat ini mengajarkan bahwa iman sejati harus tercermin dalam sikap patuh, tunduk, dan konsisten terhadap perintah Allah. Dengan demikian, kualitas iman seseorang dapat diukur dari sejauh mana ketaatan itu diwujudkan dalam kehidupan nyata.
Pengaitan QS. an-Nisā’ : 32 dengan QS. az-Zukhruf : 32, QS. an-Najm [53]: 39 dan QS. an-Nisā’ : 54 menunjukkan penerapan tafsir al-Qur’an bil-Qur’an yang menegaskan kesatuan nilai usaha, pembagian rezeki, dan tanggung jawab individual dalam Al-Qur’an. Pendekatan ini sejalan dengan metode yang digunakan dalam Tafsir Hidāyat al-Qur’ān fī Tafsīr al-Qur’ān bi al-Qur’ān karya Dr. KH. M. Afifudin Dimyathi, Lc., M.A. (Gus Awis), yang menempatkan QS. an-Nisā’ [4]: 32 sebagai landasan teologis independe