Kuliah Umum Ma'had Aly: Prof. Dr. Said Agil Al-Munawwar. Pentingnya Studi Ulumul Quran Klasik di Tengah Era Kontemporer

Pentingnya mempelajari ulumul quran menurut beliau adalah, agar tidak terjadi kesalahan dalam membaca alquran karena kesalahan kecil seperti demikian akibatnya bisa fatal, sedangkan beliau menegaskan mengenai sifat alquran dan bersifat sepanjang masa, dan mengkritik orang orang yang menganggap alquran secara tekstual dengan menyodorkan sifat dari ilmu sababun nuzul oleh sebab itu muncullah kaidah "Al-ibratu bil umumil lafdzi la bi khusus al sabab".

Pada hari senin (29/1) Prof.Dr Said Agil Munawwar melakukan safari ilmu di Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang dengan memberikan kuliah umum bertajuk "Revitalisasi Studi ilmu Qur'an klasik di era kontemporer", kuliah ini dihadiri oleh segenap masyayikh ponpes darul ulum, perwakilan guru unit, serta beberapa perwakilan dari luar Pondok Pesantren Darul Ulum. 


Acara dibuka dengan pembacaan ayat ayat suci Al-quran, menyanyikan Lagu Indonesia Raya serta pembukaan yang dibuka oleh Ketua Umum Majelis Pimpinan Pondok Pesantren Darul Ulum KH Cholil Dahlan serta  doa oleh KH Zaimuddin Wijaya As'ad. 



Adapun pada kesempatan tersebut, professor yang dikenal juga sebagai mantan menteri agama tersebut menyatakan bahwa ketika kita berbicara mengenai Al-qur'an maka tidak ada habisnya, hal ini dibuktikan dengan kitab kitab ulumul quran yang begitu banyaknya hingga pada saat ini sejak zaman ulama salaf. 



Berbicara mengenai ulumul quran, beliau juga menyoroti mengenai karya fenomenal di bidang tersebut, yang ditulis oleh Imam Jalaluddin As-Suyuthi dengan Al-Itqannya yang dikatakan lebih lengkap dari karya pendahulunya "Al itqan ialah kitab yang sedemikian lengkapnya hingga dalam jangka waktu yang lama belum ada ulama yang mampu membuat kitab seperti ini, sehingga memunculkan kritik bahwa ulumul quran hanya berkutat di kitab Imam Suyuthi tersebut" Ujar tokoh kelahiran Palembang ini . 



Sementara itu,pada pembahasan berikutnya 

Beliau juga menyinggung persyaratan persyaratan utama untuk menjadi seorang muffassirin,yaitu alim dalam bahasa arab serta memahami metode-metode tafsir agar tidak tersesat,dan juga seorang yang alim dalam Al-Qur'an dan juga mengamalkannya, 

"Karena seseorang yang ingin menjadi muffassirin harus dijadikan teladan juga" Pungkas beliau. 



Pentingnya mempelajari ulumul quran menurut beliau adalah, agar tidak terjadi kesalahan dalam membaca alquran karena kesalahan kecil seperti demikian akibatnya bisa fatal, sedangkan beliau menegaskan mengenai sifat alquran dan bersifat sepanjang masa, dan mengkritik orang orang yang menganggap alquran secara tekstual dengan menyodorkan sifat dari ilmu sababun nuzul oleh sebab itu muncullah kaidah "Al-ibratu bil umumil lafdzi la bi khusus al sabab".


Disamping itu satu hal yang cukup menarik untuk disorot ialah mengenai kayanya khazanah ulama nusantara dalam ilmu alquran, beliau menyinggung mengenai naskah naskah ulama Nusantara yang terdapat di perpustakaan-perpustakaan di seluruh dunia seperti di Universitas Leiden, Belanda,dimana banyak sekali naskah naskah ulama nusantara yang dibawa kesana, harapan beliau adalah agar ada dari para mahasantri maupun kalangan lainnya agar mau menjadi filolog agar dapat mengkaji kitab kitab tersebut di Indonesia


Kemudian acara ditutup dengan pertanyaan-pertanyaan serta pertunjukan qiroat surat pendek dan diakhiri dengan sesi foto bersama dengan segenap struktural mahad aly darul ulum serta mahasantri/wati.


Kontributor 

Mahasantri

Ismail Hasyim Ma'arif


Tim Media Ma'had Aly Darul Ulum Jombang

Berikan Komentar
Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin

LINK TERKAIT