Ujian Hidup dan Janji Allah: Tak Ada Beban Melebihi Kemampuan

Setiap makhluk hidup di dunia ini pasti memiliki cobaan masing-masing. Ada yang diuji dengan keimanan dan ketakwaan, ada pula yang diuji dengan rasa tidak percaya diri (insecure), merasa dirinya tidak mampu, atau dihimpit oleh berbagai permasalahan hidup—baik dengan teman maupun orang-orang terdekat. Sering kali, kita merasa ingin menyerah saat berada dalam kondisi seperti ini. Alih-alih bertahan, kita merasa menjadi orang paling menderita di muka bumi.

Dokumentasi


Setiap makhluk hidup di dunia ini pasti memiliki cobaan masing-masing. Ada yang diuji dengan keimanan dan ketakwaan, ada pula yang diuji dengan rasa tidak percaya diri (insecure), merasa dirinya tidak mampu, atau dihimpit oleh berbagai permasalahan hidup—baik dengan teman maupun orang-orang terdekat. Sering kali, kita merasa ingin menyerah saat berada dalam kondisi seperti ini. Alih-alih bertahan, kita merasa menjadi orang paling menderita di muka bumi.

Sebagian dari kita bahkan memilih pergi ke psikolog untuk mencari ketenangan dari hiruk-pikuk dunia luar. Namun, satu hal yang tidak boleh kita lupakan adalah bahwa setiap ujian tidak akan pernah melebihi batas kemampuan manusia. Allah telah menegaskan hal ini dalam firman-Nya di QS. Al-Baqarah ayat 286:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala dari kebajikan yang diusahakannya, dan ia mendapat siksa dari kejahatan yang diperbuatnya.” (QS. Al-Baqarah: 286)

Dalam Tafsir Fathul Bayān karya Al-Qanuji, dijelaskan bahwa Allah tidak akan membebani seorang hamba di luar batas kemampuannya. Ini adalah bentuk kasih sayang dan rahmat Allah. Kata “taklīf” (التكليف) berarti beban atau perintah yang mengandung kesulitan, sedangkan “wus‘” (وسع) berarti kapasitas atau kemampuan. Maka, penggabungan kedua kata ini memberi makna bahwa setiap beban pasti sesuai dengan batas kemampuan hamba-Nya.

Allah juga menegaskan hal serupa dalam QS. Al-Baqarah ayat 185:

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran.”

Imam al-Qurthubi dalam Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān menjelaskan bahwa para ulama sepakat: Islam tidak membebankan sesuatu yang berada di luar kemampuan manusia. Meski ada perbedaan pendapat secara akal tentang kemungkinan beban yang melampaui batas, namun mayoritas ulama menegaskan bahwa secara syariat, hal tersebut tidak terjadi.

Contoh yang sering dikemukakan adalah kisah Abu Lahab. Ia dibebani untuk beriman, namun Al-Qur’an telah menegaskan bahwa ia tidak akan beriman. Ini memicu diskusi di kalangan ulama: apakah ini termasuk beban di luar kemampuan? Sebagian menyatakan bahwa hal ini terkait ketetapan takdir, bukan pembebanan syariat yang mustahil dijalankan. Pendapat yang lebih kuat adalah bahwa Allah tetap tidak membebani manusia dengan hal yang mustahil dilakukan, sebagaimana ditegaskan dalam ayat-ayat di atas.

Ujian hidup memang bisa terasa sangat berat: hijrah, meninggalkan harta atau keluarga demi agama, kehilangan, dan sebagainya. Namun, semuanya masih dalam batas kemampuan manusia. Allah tidak memerintahkan sesuatu yang merusak, apalagi menyakiti diri secara tidak wajar. Semua telah ditakar dengan adil dan penuh rahmat.

Justru, sering kali pikiran kitalah yang menjadi beban terbesar. Kita bersedih karena tidak disukai manusia, padahal Allah—Tuhan yang menciptakan seluruh alam—tetap menyayangi kita. Apakah layak kesedihan karena makhluk melebihi harapan kepada Sang Khaliq?

Hidup ini fana. Segala sesuatu yang kita miliki hanyalah sementara. Maka tetaplah berbuat baik, kapan pun, di mana pun, dan kepada siapa pun. Ujian hidup bukan untuk menjatuhkan, tapi untuk mendewasakan dan menguatkan.

Perbaikilah niat kita kembali. Mereka tidaklah salah, tapi kitalah yang sering terlalu berharap untuk dibalas oleh manusia. Maka, berbuat baiklah dengan ikhlas. Bukankah Allah adalah sebaik-baik Dzat yang memberi dan membalas amal hamba-Nya?

Terlalu rendah rasanya jika semua kebaikan kita ditujukan hanya untuk meraih rida atau kesenangan dari manusia semata. Itulah kenapa Imam Syafi’i pernah berkata kepada muridnya Robi’ bin Sulaiman yang diabadikan dalam kitab Hilyatul Auliya:

يا ربيع، رضا الناس غاية لا تُدرك، فعليك بما يُصلحك فالزمه، فإنه لا سبيل إلى رضاهم

“Wahai Robi’, rida manusia merupakan tujuan yang tidak bisa diraih, maka hendaknya engkau mencari perkara yang baik bagimu, lazimilah (tetapilah) perkara tersebut, karena sungguh tidak ada cara untuk meraih rida manusia.”

Para ahli hikmah juga berkata:

رِضَا النَّاسِ غَايَةٌ لَا تُدْرَك، وَرِضَا اللهِ غَايَةٌ لَا تُتْرَك، فَاتْرُكْ مَا لَا يُدْرَك، وَأَدْرِكْ مَا لَا يُتْرَك

“Rida manusia merupakan tujuan yang tidak bisa diraih, sedangkan rida Allah merupakan tujuan yang tidak boleh ditinggalkan, maka tinggalkanlah apa yang tidak bisa diraih, dan raihlah apa yang tidak boleh ditinggalkan.”

Juga disebutkan dalam firman Allah dalam QS. Al-Ankabut ayat 69:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat baik.”

Dalam Tafsir Ibnu Katsir, beliau mengutip sebuah riwayat yang menjelaskan makna ihsan:

Telah menceritakan kepada kami Abu Ja‘far ar-Razi, dari al-Mughirah, dari asy-Sya‘bi, ia berkata: Isa bin Maryam (‘alayhis-salām) berkata:

“Sesungguhnya ihsan itu adalah engkau berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat kepadamu. Bukanlah ihsan itu berbuat baik kepada orang yang juga berbuat baik kepadamu.”

Pada pengajian kitab Al-Itqan fi Ulumil Qur’an, KH Afifuddin Dimyathi menjelaskan bahwa membalas kejahatan ada beberapa tingkatan:

  1. Membalas dengan berlebihan, dan ini tidak diperbolehkan karena ada firman Allah QS. Al-Baqarah ayat 190:

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

  1. Membalas dengan sepadan, dan ini diperbolehkan karena ada firman Allah QS. An-Nahl ayat 126:

وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُمْ بِهِ ۖ وَلَئِنْ صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِّلصَّابِرِينَ

  1. Membalas tidak sepadan seperti berkata kasar (misuh dalam bahasa Jawa), dan ini diperbolehkan karena ada firman Allah QS. An-Nisa’ ayat 148:

لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَن ظُلِمَ ۚ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا

  1. Diam (ini derajat taqwa), karena ada firman Allah QS. Ali ‘Imran ayat 134:

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ

  1. Disakiti namun memaafkan (derajat tinggi), karena ada lanjutan ayat QS. Ali ‘Imran 134:

وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ

  1. Ihsan – inilah yang terbaik: ketika kamu disakiti tetapi membalas dengan kebaikan. Ini adalah derajat wali, dan seorang wali akan dicintai Allah karena ada firman Allah QS. Ali ‘Imran ayat 134:

وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Sebagai penutup, penulis ingin menyampaikan tafsiran dalam kitab Tafsir Bahrul Madid juz 1 disebutkan:

من علامات النجاح في النهايات الرجوع إلى الله في البدايات.

“Di antara tanda-tanda keberhasilan di akhir adalah kembali kepada Allah di awal.”

Dan dalam kelanjutannya:

كل من رجع أمره كله إلى الله، قضى الله حوائجه كلها.

“Setiap orang yang mengembalikan seluruh urusannya kepada Allah, maka seluruh kebutuhannya akan dipenuhi oleh Allah.”

Semoga kita semua mampu menjadi pribadi yang kuat menghadapi ujian, dan tetap istiqamah dalam kebaikan, bukan karena berharap balasan manusia, tetapi karena ingin mendapatkan rida Allah.

Aliyah Rochaliyah
Mahasantri Semester 2


Berikan Komentar
Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin

LINK TERKAIT