Syajaratul Ma’arif merupakan salah satu karya monumental dalam khazanah Islam. Kitab ini tidak hanya membahas tafsir Al-Qur’an, tetapi juga membimbing pembaca untuk mencapai ihsan dalam berbagai aspek kehidupan. Dengan pendekatan yang kuat dalam tauhid, akhlak, dan fikih, kitab ini menjadi rujukan penting bagi siapa saja yang ingin mendalami Islam secara mendalam dan sistematis.
Dokumentasi
Dalam khazanah Islam, terdapat banyak karya ulama yang membahas kemuliaan Al-Qur’an. Beberapa di antaranya tergolong sebagai turats, yakni kitab-kitab peninggalan para cendekiawan dan ahli ilmu dari generasi terdahulu. Salah satu turats yang komprehensif dalam memaparkan isi dan penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an adalah Syajaratul Ma’arif, karya Syekh al-‘Izz bin Abdus Salam (577-660 H).
Seorang ulama nasional, KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha, memuji Syajaratul Ma’arif dengan mengatakan, “Kitab ini merupakan metode terbaik dalam ilmu tafsir.”
Secara filologis, kitab ini memiliki nilai yang sangat berharga. Naskah aslinya tersebar di berbagai perpustakaan dunia. Salah satu manuskripnya berada di Perpustakaan Escorial, Spanyol, sementara naskah lainnya berbentuk tulisan tangan di al-Makhthuthat al-‘Arabiyah, Kairo, Mesir. Manuskrip ini terdiri dari 109 lembar dengan tulisan pada dua sisi kertas, sebagian di antaranya dilengkapi tanda baca Arab. Ditulis pada tahun 655 Hijriyah, lima tahun sebelum Syekh al-‘Izz wafat.
Dalam kata pengantar penerbit, disebutkan bahwa Syajaratul Ma’arif dapat disejajarkan dengan kitab-kitab turats lainnya, seperti Bulugh al-Maram, Zadul Ma’ad, dan Riyadh ash-Shalihin. Bahkan, boleh jadi karya Syekh al-‘Izz ini lebih variatif dan menarik.
Secara bahasa, Syajaratul Ma’arif berarti “Pohon Ma’rifat”. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
اَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ اَصْلُهَا ثَابِتٌ وَّفَرْعُهَا فِى السَّمَاۤءِۙ ٢٤ تُؤْتِيْٓ اُكُلَهَا كُلَّ حِيْنٍ ۢ بِاِذْنِ رَبِّهَاۗ وَيَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ ٢٥
“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” (QS Ibrahim: 24-25)
Pohon dalam ayat ini melambangkan manusia, dengan akar sebagai tauhid. Jika keyakinan terhadap Allah kuat, maka jiwa manusia pun akan kokoh, seperti pohon yang tinggi dengan batang, ranting, daun, dan buah yang banyak.
Syekh al-‘Izz bin Abdus Salam menekankan bahwa manusia harus mengenal Tuhannya dengan baik. Pada bagian awal kitab, beliau menguraikan tema tauhid sebagai fondasi utama. Buah dari ma’rifat (mengenal Allah) adalah kondisi ruhani yang luhur, perkataan yang bernilai, serta perbuatan yang diridhai Allah. Hal ini pada akhirnya akan membawa seseorang ke derajat yang tinggi di akhirat.
Menurut Syekh al-‘Izz bin Abdus Salam, terdapat enam keutamaan manusia, baik yang diperoleh melalui usaha maupun pemberian Allah tanpa usaha:
Akal
Sifat mulia
Pengetahuan yang diilhamkan
Karomah
Kenabian
Risalah
Lalu, bagaimana cara meraih keutamaan tersebut? Dalam kitab ini, Syekh al-‘Izz membimbing kita menapaki jalan sebagai seorang salik, yakni seseorang yang berjalan menuju pengenalan kepada Tuhannya. Salik adalah hamba yang memiliki irfan, pengetahuan mendalam tentang Allah, hingga mencapai kondisi ihsan. Ihsan adalah melakukan segala sesuatu demi menggapai maslahat di dunia dan akhirat, sebagaimana firman Allah:
“Dan berbuat baiklah (ihsanlah). Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al-Baqarah: 195)
Setiap orang yang taat kepada Allah sebenarnya telah berbuat ihsan pada dirinya sendiri. Ketaatan tersebut juga dapat memberikan manfaat bagi orang lain dan lingkungan sekitarnya. Ihsan juga berarti mencegah kerusakan (mafsadat), yang merupakan lawan dari maslahat.
Kitab ini membahas beragam tema, antara lain:
Berakhlak dengan asma dan sifat Allah
Perintah dan larangan batin
Perintah dan larangan lahir
Ihsan dalam berbagai aspek kehidupan, seperti akhlak, perbuatan, perkataan, harta, doa, dan jihad
Kitab ini kemudian ditutup dengan pembahasan tentang wara’, yakni sikap hati-hati dalam beragama. Selain membahas tauhid dan akhlak, kitab ini juga menyinggung tema-tema fikih dalam kerangka ihsan, seperti shalat, zakat, pengelolaan harta, hingga muamalah.
Dalam menyusun karyanya, Syekh al-‘Izz senantiasa bersandar pada tiga hal sekaligus, yaitu ayat-ayat Al-Qur’an, hadis-hadis Nabi Muhammad SAW, serta kaidah-kaidah ilmu ushul. Hal ini menjadikan kitab ini memiliki metode yang sangat komprehensif. Kejelian Syekh al-‘Izz sebagai seorang alim juga tampak jelas. Salah satu ciri khasnya adalah beliau jarang mengutip hadis di luar yang bersumber dari Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, sehingga kitab Syajaratul Ma’arif hampir tidak mengandung hadis-hadis lemah.
Kitab ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Salah satu terjemahan yang cukup baik adalah terbitan Pustaka al-Kautsar dengan judul Syajaratul Ma’arif: Tangga Menuju Ihsan (2008).
Syajaratul Ma’arif merupakan salah satu karya monumental dalam khazanah Islam. Kitab ini tidak hanya membahas tafsir Al-Qur’an, tetapi juga membimbing pembaca untuk mencapai ihsan dalam berbagai aspek kehidupan. Dengan pendekatan yang kuat dalam tauhid, akhlak, dan fikih, kitab ini menjadi rujukan penting bagi siapa saja yang ingin mendalami Islam secara mendalam dan sistematis.
_____
Oleh: Nurun Nihayatul Muflikhah, Mahasantri Semester 6
Tim Media Ma'had Aly Darul Ulum Jombang