Al-Qur’an memberikan panduan yang jelas dan menyeluruh dalam menghadapi penyalahgunaan kekuasaan dan korupsi. Melalui ayat-ayat seperti QS. An-Nisa: 58, QS. Al-Ma’idah: 8, dan QS. Al-Baqarah: 188, kita diajarkan untuk menunaikan amanah, menegakkan keadilan, dan menjauhi perbuatan yang merugikan masyarakat. Dalam konteks kekuasaan dan kepemimpinan, Al-Qur’an mendorong penguasa dan pemegang amanah untuk berintegritas, bertanggung jawab, dan berlaku adil tanpa memandang kepentingan pribadi.
Salah satu hal menarik dari “Al-Washaya Al-‘Asyr” adalah tidak disinggungnya perkara makanan dan minuman. Ini menyiratkan pesan yang dalam: bahwa menjaga kemurnian moral, baik dalam hubungan dengan Tuhan maupun sesama manusia, jauh lebih utama daripada tenggelam dalam perdebatan panjang seputar hukum halal dan haram.
Walaupun secara linguistik kata الوالدين lebih condong kepada ibu, namun makna zhahir ayat tetap menunjuk kepada keduanya: ayah dan ibu. Sebagaimana dalam firman Allah: وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا “Hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua (ibu dan ayah).”
Kita tidak dituntut untuk serba bisa. Tapi kita semua dituntut untuk berusaha dan mau bekerja sama. Organisasi bukan tempat untuk tampil tanpa fungsi, bukan pula panggung untuk menghindar dari tanggung jawab.
Kunjungan ini menjadi bagian penting dari proses pembinaan berkelanjutan oleh Kementerian Agama dalam upaya menjamin mutu dan arah pengembangan Ma’had Aly di seluruh Indonesia.
Tentu penjelasan ringkas al-Sya‘rawi ini memerlukan catatan kaki-catatan kaki lebih lanjut. Kutipan di atas semakin mengundang banyak pertanyaan seperti bagaimanakah petunjuk-petunjuk al-Qur’an dan sunnah Nabi tentang tugas manusia sehubungan dengan alam semesta, atau dalam konteks keindonesiaan, bumi pertiwi? Bagaimanakah sikap ideal yang bisa kita lakukan dalam memperingati hari bumi ini? Bagaimana sejatinya tuntunan ilahi perihal tugas kita yang di satu sisi “melestarikan” dan di sisi lain “m