Akhlak Rendah Hati: Pelajaran Hidup dari QS. Luqman 18–19 dalam Hidayatul Qur’an

Melalui ayat ini, Al-Qur’an mendidik manusia agar hidup sederhana, santun, dan tidak terjebak dalam rasa bangga yang berlebihan karena di situlah letak keindahan akhlak seorang mukmin.

Dokumentasi


Di tengah kehidupan yang semakin gemar menampilkan pencapaian dan pengakuan, sikap rendah hati terasa seperti sesuatu yang langka. Banyak orang tanpa sadar terjebak dalam rasa bangga berlebihan merasa lebih unggul, lebih benar, atau lebih pantas dihargai. Padahal, Al-Qur’an sejak lama telah mengingatkan bahwa kesombongan, sekecil apa pun bentuknya, adalah penyakit hati yang merusak akhlak.

Nasihat itu tertuang dengan sangat lembut dalam QS. Luqman ayat 18–19. Dalam Tafsir Hidayatul Qur’an, KH. Afifuddin Dimyathi menjelaskan ayat ini sebagai pendidikan akhlak yang praktis dan membumi, karena menyentuh langsung cara manusia bersikap dalam kehidupan sehari-hari.

Kesombongan sering kali tumbuh tanpa disadari. Ayat “Janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia dan jangan berjalan di bumi dengan angkuh” mengajarkan bahwa kesombongan tidak selalu hadir dalam bentuk terang-terangan. Menurut KH. Afifuddin Dimyathi, sombong bisa muncul secara halus: enggan menghargai orang lain, merasa diri paling benar, atau memandang rendah sesama. 

Al-Qur’an mendidik manusia agar menyadari bahwa semua kelebihan ilmu, harta, kedudukan bukan hasil kehebatan diri semata, melainkan titipan Allah yang sewaktu-waktu bisa diambil kembali.

Kesederhanaan dalam Sikap Hidup

Ayat ini dikuatkan dengan larangan berjalan di bumi secara berlebihan dan penuh kesombongan. Tafsir Hidayatul Qur’an mengaitkannya dengan ayat lain yang menyatakan bahwa manusia tidak akan mampu menembus bumi dan tidak akan setinggi gunung. Ini menjadi pengingat bahwa kesombongan tidak sebanding dengan keterbatasan manusia.

Akhlak rendah hati justru lahir dari kesadaran akan posisi manusia sebagai hamba Allah, bukan sebagai pemilik mutlak kehidupan.

Melembutkan Suara, Menjaga Adab

QS. Luqman ayat 19 melanjutkan nasihat dengan perintah agar berjalan secara pertengahan dan merendahkan suara. Dalam Hidayatul Qur’an, ayat ini dipahami sebagai pendidikan adab berbicara. Suara yang terlalu keras dan penuh pamer diibaratkan sebagai suara yang buruk, seperti suara keledai.

Islam tidak mengajarkan sikap berlebihan, baik dalam gerak maupun ucapan. Kesantunan dan ketenangan menjadi ciri akhlak orang beriman.

Akhlak sebagai Cermin Keimanan

KH. Afifuddin Dimyathi juga mengaitkan ayat ini dengan pujian Allah kepada orang-orang yang merendahkan suara di hadapan Rasulullah. Ini menunjukkan bahwa akhlak lahir adalah pantulan dari iman dalam hati.

Orang yang rendah hati, tenang, dan santun dalam bersikap akan lebih mudah menjaga hubungan baik dengan Allah dan sesama manusia.

Penutup

QS. Luqman ayat 18–19, sebagaimana dijelaskan dalam Tafsir Hidayatul Qur’an, mengajarkan bahwa kemuliaan hidup tidak terletak pada kesombongan, tetapi pada akhlak yang rendah hati. Cara berjalan, cara berbicara, dan cara memperlakukan orang lain adalah bagian dari ibadah yang sering luput dari perhatian.

Melalui ayat ini, Al-Qur’an mendidik manusia agar hidup sederhana, santun, dan tidak terjebak dalam rasa bangga yang berlebihan karena di situlah letak keindahan akhlak seorang mukmin.


Oleh : Aminatunniswah 

Mahasantri Ma’had Aly Darul Ulum Semester 7

Berikan Komentar
Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin

LINK TERKAIT