Sesi ini dipandu oleh moderator yang dengan baik mengarahkan jalannya diskusi, sehingga pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dapat terjawab dengan jelas. Semoga kajian ini bermanfaat dan semakin memperkaya khazanah keilmuan kita dalam memahami tafsir Al-Qur’an.
Pekan Ngaji Tafsir Nusantara yang diselenggarakan oleh Ma’had Aly Darul Ulum terus berlanjut dengan antusiasme tinggi dari para peserta. Memasuki hari ketiga, acara ini semakin menarik dengan adanya sesi Bedah Kitab, yang bertujuan untuk memperdalam pemahaman tafsir serta menggali khazanah keilmuan Islam yang berkembang di Nusantara.
Pada sesi kali ini, kitab yang dibahas adalah Tafsir Firdaus An-Na’im, karya KH. Thoifur bin Ali Wafa, sebuah kitab tafsir yang memiliki kekayaan pemikiran dan nilai-nilai khas dalam memahami Al-Qur’an. Bedah kitab ini dipandu oleh Abdullah Sahal, mahasantri semester 4 di Ma’had Aly Darul Ulum, yang berperan sebagai moderator. Sementara itu, dua narasumber yang dihadirkan adalah Ustadz Khobiru Amru dan Abdul Karim Amrullah, dua pemateri yang memiliki keahlian dalam bidang tafsir dan kajian keislaman.
Diskusi ini diharapkan dapat memberikan wawasan baru serta memperkaya pemahaman santri dan peserta terhadap tafsir karya para ulama’ Nusantara.
Sebagai narasumber pertama, Ustadz Khobiru Amru membuka sesi dengan pemaparan materi mengenai sumber penafsiran dalam kitab Firdaus An-Na’im. Beliau menegaskan bahwa hal yang harus kita ketahui bersama sebelum kita menbedah lebih lanjut suatu karya, harap kita mencari tahu tentang penulis karya tersebut. Diketahui bahwa KH. Thoifur adalah sosok mufasir yang banyak menguasai berbagai bidang keilmuan, yang dapat dilihat dari setiap lembaran-lembaran karya beliau yakni kitab tafsir firdaus an na'im.
Selanjutnya narasumber menjelaskan bahwa mashodir atau sumber2 yang digunakan oleh KH. thoifur sama dengan Mashodir yang dijelaskan oleh syaikhina afifuddin Dimyathi dalam karya beliau "Ushuluhu wa Manahijuhu" Yakni terdapat 6 sumber2 penafsiran :
Ulumul Qur'an
Hadis
Pendapat sahabat
Pendapat tabi'in
Bahasa Arab
Rasio dan, penalaran
Kemudian ustadz Khobiru Amru melanjutkan pemaparan dengan menjelaskan tentang 6 sumber penafsiran tersebut :
Ulumul al- qur'an
Misal pada Surah al-Fatihah ayat ke 7.
صِرَ ٰطَ ٱلَّذِینَ أَنۡعَمۡتَ عَلَیۡهِمۡ....
Menurut syaikh Thoifur, orang-orang yang telah dianugerahi nikmat adalah orang-orang yang namanya disebut dalam surah an-nisa' ayat 69 :
وَمَن یُطِعِ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ فَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ مَعَ ٱلَّذِینَ أَنۡعَمَ ٱللَّهُ عَلَیۡهِم مِّنَ ٱلنَّبِیِّـۧنَ وَٱلصِّدِّیقِینَ وَٱلشُّهَدَاۤءِ وَٱلصَّـٰلِحِینَۚ وَحَسُنَ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ رَفِیقࣰا
"Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul (Muhammad), maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pecinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid dan orang orang salih. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya."
Hadis
KH. Thoifur menggunakan sumber ini sejak surah al-fatihah ayat 7 juga.
...غَیۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَیۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّاۤلِّینَ
Dua term ini yang dimaksud adalah orang yahudi yaitu orang yang dimurkai oleh Allah, sedangkan orang nasrani adalah orang-orang yang sesat.
Sebagaimana dalam hadis riwayat Imam Tirmidzi :
عن عدي بن حاتم عن النبي صلى هللا عليه وسلم قال اليهود مغضوب عليهم والنصارى ضالل وكل من اليهود والنصارى وكذلك سائر الكفار مغضوب عليه وضال لكن الغضب أخص أوصاف اليهود...(رواه الترمذي)
Baik Yahudi dan Nasrani keduanya adalah golongan yang sesat dan dimurkai oleh Allah. Namun sifat yang paling melekat pada kaum Yahudi adalah dimurkai oleh Allah, sebagaimana dalam firman Allah Surat Al-Ma'idah: 60 :
مَن لَّعَنَهُ ٱللَّهُ وَغَضِبَ عَلَیۡهِ
Sedangkan sifat yang melekat pada kaum nasrani adalah kesesatan, sebagaimana dalam firman Allah :
قُلۡ یَـٰۤأَهۡلَ ٱلۡكِتَـٰبِ لَا تَغۡلُوا۟ فِی دِینِكُمۡ غَیۡرَ ٱلۡحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوۤا۟ أَهۡوَاۤءَ قَوۡمࣲ قَدۡ ضَلُّوا۟ مِن قَبۡلُ وَأَضَلُّوا۟ كَثِیرࣰا وَضَلُّوا۟ عَن سَوَاۤءِ ٱلسَّبِیلِ
Pendapat sahabat dan tabi'in
Pada surah al-Furqon ayat 27
وَیَوۡمَ یَعَضُّ ٱلظَّالِمُ عَلَىٰ یَدَیۡهِ یَقُولُ یَـٰلَیۡتَنِی ٱتَّخَذۡتُ مَعَ ٱلرَّسُولِ سَبِیلࣰا
KH. Thoifur menuqil pendapat imam Atho' murid Ibnu Abbas :
قال عطاء يأكل الظالم يديه حتى يأكل مرفقيه ثم ينبتان ثم يأكلهماوهكذا
كلما نبتت يداه يأكلهما تحسرا علىمافعل
Bahwa lafadz یَعَضُّ ٱلظَّالِمُ berma'na haqiqi yaitu menggigit, bukan bermakna majazi (kiasan).
Bahasa Arab
Pada surah Yasin ayat 22 :
وَمَا لِیَ لَاۤ أَعۡبُدُ ٱلَّذِی فَطَرَنِی وَإِلَیۡهِ تُرۡجَعُونَ
Menurut KH. Thoifur pada lafadz ini bisa jadi mengundang unsur balaghah ihtibak, yaitu ungkapan yang menghilangkan sebagian kata namun maknanya masih bisa dipahami. Yang sebenarnya adalah
وما لي لا أعبد الذي فطرني وفطركم وإليه ترجعون وأرجع
Disini dapat diketahui bahwa KH. Thoifur sangat sensitif dalam menganaisis bahasa arab.
Narasumber berharap Mahasantri Ma'had Aly Darul Ulum dapat menggali lebih lanjut unsur balaghah dalam karya KH. Thoifur dan dapat meneruskan perjuangan-perjuangan yang telah beliau awali.
Setelah pemaparan dari Ustadz Khobiru Amru, acara Bedah Kitab Tafsir Firdaus An-Na’im dilanjutkan dengan pemateri kedua yang disampaikan oleh Abdul Karim Amrullah atau ustadz Aam sebagai sapaan akrab beliau, seorang magister lulusan Universitas Al-Azhar, Mesir. Dalam sesi ini, beliau mengawali pembahasannya dengan menjelaskan latar belakang penamaan kitab Tafsir Firdaus An-Na’im. Nama Firdaus al-Na'im diambil sebagai tafa'ul mengharap berkah dari salah satu nama surga; Surga Firdaus. Harapannya, tafsir ini dapat mengantarkan para penghafal Al-Qur'an dan pengkajinya menggapai nikmat surga kelak.
Setelah membahas latar belakang penamaan kitab Firdaus al-Na’im, Ustadz Aam melanjutkan pembahasan dengan menjelaskan latar belakang penulisan kitab tafsir ini. Beliau menekankan bahwa motivasi utama dalam penyusunannya adalah untuk mendorong para Ahlu Qur’an agar terus mengkaji kitab suci melalui sumber tafsir yang mu’tabar. Selain itu, penyusunan kitab ini juga bertujuan untuk memudahkan pembaca dalam memahami al-Qur’an dengan menyajikan kumpulan perkataan para mufassir secara sistematis dan ringkas.
Kemudian beliau menerangkan tentang sistematika penyusunan kitab yang tersusun secara rapi dengan mencatumkan informasi surat meliputi ta'rif, jumlah ayat, makkiyah, madaniyah, dll. Kitab Tafsir Firdaus al-Naim juga dikategorikan menggunakan manhaj tahlili. Hanya saja, uraian tafsir yang ringkas memberikan kesan tafsir tahlili rasa ijmali. Seperti halnya Kitab Hasyiyah al-Shawy, syarh dari Kitab Tafsir Jalalain.
Namun semua corak tersebut tidak ada yang dominan dan bersifat umum (global), sehingga semua orang dapat menikmati karya beliau. Metode pengambilan referensi dalam tafsir ini terbagi menjadi dua jenis utama, yaitu Tafsir bi al-Ma’tsur (30-40%) dan Tafsir bi al-Ra’yi (60-70%).
Sebenarnya, masih banyak aspek yang dapat dibahas dalam tafsir ini, mulai dari metodologi penafsiran hingga kedalaman analisis terhadap berbagai ayat. Namun, untuk mempersingkat waktu, narasumber langsung menyampaikan kesimpulan bahwa KH. Thoifur Ali Wafa menggunakan metode tahlili dalam membersamai tafsir ini. Meskipun demikian, dalam banyak ayat, beliau lebih menitikberatkan pada penyajian inti makna secara umum serta pembahasan kosakata yang dianggap asing dan memiliki keterkaitan makna dalam ayat. Tafsir ini disusun dengan bahasa yang renyah, sederhana, dan mudah dipahami, sehingga makna dan pesan ayat dapat diterima dengan baik oleh pembaca. Selain itu, karya ini mencerminkan keluasan ilmu dan wawasan bacaan penulisnya, menjadikannya sebagai salah satu karya tafsir yang layak dibaca dan menjadi bagian dari khazanah keilmuan tafsir Nusantara. Di dalamnya, tersusun lebih dari 15 cabang ilmu yang menjadi syarat seorang mufassir, yang disebutkan pengarang dalam berbagai cuplikan ayat, memperkaya pemahaman pembaca terhadap kandungan Al-Qur’an.
Dengan demikian, rangkaian acara bedah kitab ini telah selesai, memberikan wawasan yang mendalam tentang metode dan isi tafsir yang dibahas. Sebagai penutup, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab, di mana peserta berkesempatan untuk berdiskusi langsung dan menggali pemahaman lebih dalam. Sesi ini dipandu oleh moderator yang dengan baik mengarahkan jalannya diskusi, sehingga pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dapat terjawab dengan jelas. Semoga kajian ini bermanfaat dan semakin memperkaya khazanah keilmuan kita dalam memahami tafsir Al-Qur’an.
NAMA: NURUN NIHAYATUL MUFLIKHA
Mahasantri Semester 6
Tim Media Ma'had Aly Darul Ulum Jombang