Jika setiap Muslim mempraktikkan ajaran Islam dalam menjaga lingkungan, maka bumi akan menjadi tempat yang lebih baik, lebih bersih, dan lebih sehat untuk generasi yang akan datang.
Dokumentasi
Bumi adalah rumah bersama bagi seluruh makhluk hidup. Allah SWT menciptakan bumi ini tidak hanya sebagai tempat tinggal manusia, tetapi juga sebagai tempat beribadah, belajar, dan merenungi tanda-tanda kekuasaan-Nya. Di dalam bumi, terdapat segala sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia untuk bertahan hidup—air, udara, tanah, tumbuhan, hewan, dan sumber daya alam lainnya. Semua itu adalah nikmat yang wajib kita syukuri dan pelihara.
Sayangnya, seiring berjalannya waktu, manusia sering lalai dalam menjaga dan merawat bumi. Pencemaran lingkungan, penebangan hutan liar, pemborosan energi, limbah yang mencemari sungai dan laut, serta eksploitasi alam yang berlebihan telah menyebabkan kerusakan yang nyata. Perubahan iklim, banjir, kekeringan, dan kepunahan spesies adalah sebagian kecil dari dampak kerusakan tersebut.
Padahal, dalam Islam, menjaga lingkungan bukan hanya anjuran etika sosial, tetapi juga perintah agama. Manusia diamanahkan oleh Allah sebagai khalifah di muka bumi, yang artinya kita memiliki tanggung jawab untuk menjaga, merawat, dan memakmurkan bumi—bukan merusaknya.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
وَلَا تُفْسِدُوا فِي ٱلْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَـٰحِهَا ۚ وَٱدْعُوهُ خَوْفًۭا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ ٱللَّهِ قَرِيبٌۭ مِّنَ ٱلْمُحْسِنِينَ
(QS. Al-A’raf: 56)
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”
Ayat ini mengajarkan bahwa bumi ini telah diciptakan dalam keadaan baik dan seimbang. Allah menegaskan agar manusia tidak merusaknya, baik dengan perbuatan langsung seperti merusak alam, maupun secara tidak langsung seperti bersikap boros, rakus, dan lalai dalam pengelolaan sumber daya.
Allah juga mengingatkan dalam firman-Nya yang lain:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
(QS. Ar-Rum: 41)
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Ayat ini menegaskan bahwa banyak bencana dan kerusakan lingkungan yang terjadi adalah akibat dari ulah manusia itu sendiri. Maka, penting bagi kita untuk melakukan muhasabah diri—introspeksi terhadap perilaku kita terhadap alam. Sudahkah kita bersikap bijak dalam menggunakan air? Sudahkah kita hemat dalam menggunakan energi? Sudahkah kita menjaga kebersihan lingkungan?
Bahkan dalam Islam, tindakan yang merusak bumi termasuk perbuatan zhalim. Ketika seseorang membuang limbah ke sungai, membakar hutan demi keuntungan, atau membuang sampah sembarangan, itu bukan sekadar tindakan sosial yang ceroboh, tetapi juga dosa ekologis yang mendatangkan murka Allah.
Rasulullah SAW adalah teladan terbaik dalam hal mencintai alam. Beliau melarang penebangan pohon sembarangan bahkan dalam keadaan perang, menganjurkan hemat air meskipun saat berwudhu di sungai, dan menyuruh umatnya menjaga kebersihan lingkungan sebagai bagian dari iman.
Jika setiap Muslim mempraktikkan ajaran Islam dalam menjaga lingkungan, maka bumi akan menjadi tempat yang lebih baik, lebih bersih, dan lebih sehat untuk generasi yang akan datang.
M. Wajdi An-Najih
Mahasantri Semester 4
Tim Media Ma'had Aly Darul Ulum Jombang