CARA BARU BERINTERAKSI DENGAN AL-QUR’AN YANG LEBIH INTENSIF

Ketika membaca Al-Qur’an, seseorang dianjurkan untuk: Mendengarkan bacaan dengan penghayatan. Melihat mushaf dengan kekhusyukan. Merenungkan makna dengan hati dan akal bersih.

Dokumentasi

Interaksi dengan Al-Qur’an bukan hanya soal membaca dan menghafal, melainkan membangun hubungan yang hidup dan mendalam dengan Kalamullah. Dalam membina hubungan ini, ada dua prinsip dasar yang perlu menjadi acuan utama:


1. Menjauhkan Diri dari Kesombongan

Kesombongan adalah penghalang utama hidayah. Allah secara tegas menyatakan bahwa orang-orang yang sombong akan dipalingkan dari memahami ayat-ayat-Nya.

QS. Al-A’raf: 146


 سَأَصۡرِفُ عَنۡ ءَایَـٰتِیَ ٱلَّذِینَ یَتَكَبَّرُونَ فِی ٱلۡأَرۡضِ بِغَیۡرِ ٱلۡحَقِّ 


“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan diri di bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda (kekuasanku).


2. Menjadi Pribadi yang Bersyukur

Syukur adalah kunci untuk memahami dan merasakan keberkahan Al-Qur’an. Allah menjanjikan bahwa hanya orang-orang yang bersyukurlah yang akan diberikan keberagaman makna dalam ayat-ayat-Nya.

QS. Al-A’raf: 58


كَذَٰلِكَ نُصَرِّفُ ٱلْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَشْكُرُونَ


“Demikianlah Kami ulang-ulang ayat-ayat Kami bagi kaum yang bersyukur.”


Kata نُصَرِّفُ bermakna ننوع  “Kami variasikan/ulang-ulang,” menunjukkan bahwa kemanfaatan dan kedalaman makna Al-Qur’an hanya bisa ditangkap oleh mereka yang bersyukur.


TIGA PERANGKAT SYUKUR UNTUK BERINTERAKSI DENGAN AL-QUR’AN


Allah menyebut secara rinci tiga perangkat utama dalam bersyukur dan berinteraksi dengan Al-Qur’an, sebagaimana tertuang dalam:

QS. An-Nahl: 78


 وَٱللَّهُ أَخۡرَجَكُم مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَـٰتِكُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ شَیۡـئاً وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَـٰرَ وَٱلۡأَفۡـِٔدَةَ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ 


“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, lalu Dia memberikanmu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur.”


Tiga perangkat tersebut adalah:


السَّمْعُ (Pendengaran)

الْأَبْصَارُ (Penglihatan)

الْأَفْئِدَةُ (Hati dan nalar)


Namun, sedikit sekali manusia yang benar-benar bersyukur atas ketiga perangkat ini untuk memahami Al-Qur’an, sebagaimana dalam:


QS. Al-Mulk: 23


قُلۡ هُوَ ٱلَّذِیۤ أَنشَأَكُمۡ وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَـٰرَ وَٱلۡأَفۡـِٔدَةَ قَلِیلاً مَّا تَشۡكُرُونَ


“Dialah yang menciptakanmu dan menjadikan bagimu pendengaran, penglihatan, dan hati. Tetapi sedikit sekali kamu bersyukur.”


PENJELASAN TIGA PERANGKAT DALAM BERINTERAKSI DENGAN AL-QUR’AN


1. Pendengaran (السَّمْعُ)

Pendengaran adalah gerbang utama hati. Banyak makna dalam Al-Qur’an yang bisa dirasakan hanya dengan mendengar bunyinya. Beberapa contoh rahasia bunyi dalam Al-Qur’an: Ketika Lafal Menggambarkan Makna


Al-Qur’an bukan hanya kitab bacaan, tapi juga keajaiban fonetik. Setiap bunyi, pelafalan, dan tekanan suara dalam Al-Qur’an tidak sekadar indah didengar, tapi juga mengisyaratkan makna yang dalam. Berikut adalah beberapa contoh bagaimana bunyi dalam Al-Qur’an mencerminkan isi dan pesan yang ingin disampaikan.


1. Bunyi yang Berat, Mengisyaratkan Hati yang Berat


QS. At-Taubah: 38

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَا لَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ انْفِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى الْأَرْضِ


“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa ketika dikatakan kepada kamu, ‘Berangkatlah (untuk berperang) di jalan Allah,’ kamu merasa berat dan cenderung kepada bumi?”


Kata اثَّاقَلْتُمْ terasa berat saat dibaca, membutuhkan tekanan lidah dan tenaga. Para ulama tafsir pun bertanya: Mengapa tidak menggunakan kata “تَثَاقَلْتُمْ” yang secara makna serupa namun lebih ringan dilafalkan?


Jawabannya adalah karena bunyi kata “اثَّاقَلْتُمْ” menyiratkan beratnya jiwa dan keengganan kaum munafik, sebagaimana beratnya kata itu saat diucapkan. Inilah bentuk keselarasan antara bunyi dan makna.


2. Bunyi yang Lambat, Menggambarkan Sikap yang Lamban


QS. An-Nisa’: 72

وَإِنَّ مِنكُمْ لَمَن لَّيُبَطِّئَنَّ


“Sesungguhnya di antara kamu pasti ada orang yang sangat lamban untuk pergi (berjuang).”


Kata لَّيُبَطِّئَنَّ secara alami akan dibaca lambat oleh siapa pun yang membacanya. Hal ini terjadi karena susunan huruf dan tasydidnya membuat lidah secara naluri memperlambat lafal.


Maknanya pun selaras: orang yang disebut dalam ayat ini adalah mereka yang enggan dan lambat bergerak, dan Al-Qur’an menyampaikannya bukan hanya secara verbal, tapi juga secara suara.


3. Bunyi yang Kuat, Menggambarkan Kekuatan Tiupan Sihir


QS. Al-Falaq: 4

وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ


“Dan dari kejahatan perempuan-perempuan penyihir yang meniup pada buhul-buhul (talinya).”


Mengapa kata ini berbentuk النَّفَّاثَاتِ, bukan النَافِثَاتِ?


Huruf ف dalam النَّفَّاثَاتِ ditasydid (ditekankan) dan memiliki sifat syiddah, yaitu tekanan kuat saat diucapkan. Ulama balaghah menyimpulkan bahwa:

النَّفَّاثَاتِ menimbulkan efek suara napas yang keras dan mendesak, menggambarkan tiupan sihir yang kuat dan berenergi.

Jika dibaca النَافِثَاتِ, maka hembusannya menjadi lemah dan tidak menggambarkan kekuatan sihir tersebut.


Bunyi tasydid ini menjadi simbol tiupan sihir yang menyerang.


4. Akhiran Huruf Nun dan Mim: Menumbuhkan Irama dan Keriangan


Banyak ayat dalam Al-Qur’an , seperti:


المتقين

يؤمنون

ينفقون


Termasuk dalam surah Ar-Rahman kebanyakan diakhiri dengan huruf Nun (ن).Para ulama menyebut huruf ini mengandung nuansa at-tarannum atau dendangan.


Nun dan Mim menghasilkan bunyi yang lembut, mendayu-dayu, dan bersifat musikal.


Bunyi ini menumbuhkan keriangan, kenyamanan, dan membuat pembaca tidak cepat bosan.


Inilah salah satu rahasia mengapa membaca Al-Qur’an terasa menyejukkan hati,karena iramanya mendukung maknanya.


5. Mengapa Surah Al-Falaq Tidak Diakhiri Nun atau Mim?


Berbeda dengan ayat-ayat lain, semua ayat dalam Surah Al-Falaq diakhiri dengan huruf-huruf qalqalah seperti د, ق, ب yang memantul saat dibaca.

Contoh:


الفلق

وقب

حسد


Qalqalah berarti memantul, dan ini bukan kebetulan. Bunyi pantulan ini mengisyaratkan bahwa sihir atau kejahatan yang diarahkan kepada kita akan kembali (memantul) kepada pelakunya.


Bacaan surah ini secara bunyi mencerminkan perlindungan:

“Jika kamu disihir, maka bacalah, dan sihir itu akan kembali kepada pelakunya.”

6. Izhar dan ikhfa’ pada QS. Az-Zalzalah: 7–8 


فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ

وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ


Izhar pada Amal Kebaikan


Bacaan izhar pada “خَيْرًا يَرَهُ” mengisyaratkan bahwa:

Amal kebaikan biasanya dilakukan secara terang-terangan, penuh keyakinan, dan tanpa rasa malu.

Kebaikan membawa cahaya dan keterbukaan, sehingga tidak ada yang perlu disembunyikan darinya.


 Ikhfa’ pada Amal Keburukan


Sebaliknya, bacaan ikhfa’ pada “شَرًّا يَرَهُ” mengandung makna bahwa:

Amal keburukan sering dilakukan secara tersembunyi, penuh keraguan dan rasa takut diketahui.

Keburukan cenderung disamarkan, dilakukan diam-diam, bahkan oleh pelakunya sendiri ingin dilupakan atau disangkal.


2. Penglihatan (الْأَبْصَارُ)

Salah satu perangkat utama dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an adalah penglihatan (البصر). Dengan mata, kita tidak hanya membaca huruf-huruf Al-Qur’an, tetapi juga mengamati susunan, tulisan, dan bentuknya yang sarat makna. Setiap huruf, bahkan bentuk penulisannya, menyimpan rahasia dan hikmah yang mendalam.


Pengalaman KH. Afifuddin Dimyathi

Dalam sebuah perjalanan silaturrahmi ke Pondok Pesantren Tahfidz Darussalam dan ilmu Al-Qur'an Martapura yang di asuh oleh KH. Muhammad Wildan salman.

KH. Afifuddin Dimyathi sempat menziarahi makam Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari. Di daerah Dalam Pagar(nama kampung), beliau diberi kesempatan untuk melihat langsung mushaf tulisan tangan Syekh Muhammad Arsyad. Yang menarik, mushaf tersebut sudah ditulis menggunakan rasm Utsmani, bentuk penulisan khas Al-Qur’an yang digunakan hingga kini.


Melalui pengamatan mushaf tersebut, beliau menyadari betapa banyak rahasia Allah tersimpan dalam bentuk tulisan Al-Qur’an, bukan hanya dalam makna teksnya.


Tadabbur Melalui Rasm Utsmani


Salah satu bentuk tadabbur melalui penglihatan adalah dengan mengamati secara seksama struktur tulisan dalam rasm Utsmani. Banyak rahasia makna yang tidak tampak dalam terjemahan atau bacaan biasa, namun terlihat jelas dalam penulisan lafaz.


Contohnya dapat dilihat dalam 

QS. Al-Baqarah ayat 218:


إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجٰهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُوْلَئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ


Dalam ayat ini terdapat dua kata kerja:


هَاجَرُوا (berhijrah)

جٰهَدُوا (berjihad)


Secara gramatikal, kedua kata ini sama-sama dalam bentuk fi’il madhi (kata kerja lampau) untuk pelaku jamak, namun bentuk penulisannya berbeda:


هَاجَرُوا ditulis lengkap dengan huruf alif.

جٰهَدُوا ditulis tanpa alif setelah huruf jim.


 Hikmah Perbedaan Penulisan

Kata هَاجَرُوا berasal dari kata hijrah, yang secara makna berarti pindah dari satu tempat ke tempat lain. Oleh karena itu, ditulis dengan huruf alif, menandakan adanya perpindahan fisik yang nyata. Dalam rasm Utsmani, huruf ha dan jim tidak bersambung untuk menunjukkan pergerakan dan pemisahan.

Sementara itu, kata جٰهَدُوا berasal dari kata jihad, yang tidak selalu bermakna berpindah tempat. Jihad bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja, bahkan terhadap hawa dan nafsu sendiri. Karena tidak selalu membutuhkan perpindahan fisik, maka penulisan جٰهَدُوا tidak memakai alif, menggambarkan kestabilan dan ketetapan di tempat.


3. Hati dan Nalar (الْأَفْئِدَةُ)

Perangkat ketiga yang Allah anugerahkan kepada manusia untuk memahami dan berinteraksi dengan Al-Qur’an adalah الأفئدة yaitu hati, nalar, dan pikiran yang bersih. Dengan perangkat inilah kita mampu menembus makna terdalam dari ayat-ayat suci, bahkan hingga hikmah yang tersembunyi di balik struktur kalimat.


Tadabbur dengan Hati: Makna di Balik Bentuk Jamak dan Mufrad


Contoh indah dari tadabbur melalui nalar dan hati dapat ditemukan dalam Surat An-Nisa’ ayat 13–14.


Ayat 13: Bentuk Jamak untuk orang yang ta'at


وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ وَذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ


“Barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, niscaya Dia akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Dan itulah kemenangan yang agung.”


Dalam ayat ini, kata خَالِدِينَ (kekal) menggunakan bentuk jamak.


Ayat 14: Bentuk Mufrad untuk orang yang maksiat


وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا


“Barang siapa durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya dan melanggar batasan-batas-Nya, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam neraka. Ia kekal di dalamnya.”


Namun dalam ayat ini, kata خَالِدًا (kekal) menggunakan bentuk mufrad (tunggal).


Apa Hikmahnya?


Perbedaan ini bukan tanpa tujuan. Di baliknya, terdapat pelajaran jiwa dan psikologi manusia yang sangat dalam:


Kebahagiaan hakiki adalah kebahagiaan yang dirasakan bersama. Oleh karena itu, kenikmatan surga digambarkan dalam bentuk jamak (خَالِدِينَ) karena di sana, para penghuni akan saling berbagi kebahagiaan dalam suasana kebersamaan. Inilah bentuk kesempurnaan nikmat, ketika seseorang bahagia: dan ia melihat orang lain di sekitarnya juga bahagia.


Sebaliknya, penderitaan yang dirasakan sendiri akan terasa lebih berat dan menyiksa. Oleh sebab itu, siksaan neraka digambarkan dengan bentuk mufrad (خَالِدًا), karena kesendirian dalam kesengsaraan memperparah rasa sakit. Dalam ilmu jiwa, kesedihan yang dibagi bisa mengurangi beban, namun kesedihan yang ditanggung sendiri akan menjadi lebih dalam dan menyakitkan.


Inilah Keajaiban Al-Qur’an


Al-Qur’an bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi juga mengajarkan ilmu jiwa, rasa, dan hikmah, bahkan melalui bentuk kata yang digunakan.


Dengan menggunakan hati yang bersih dan akal yang jernih, kita akan menyadari bahwa setiap lafaz dalam Al-Qur’an adalah pilihan yang penuh makna. Bahkan perbedaan antara bentuk tunggal dan jamak pun mengandung pelajaran mendalam tentang hakikat kebahagiaan dan penderitaan manusia.


KESIMPULAN: MENGGALI HIKMAH DENGAN TIGA PERANGKAT


Ketika seseorang membaca Al-Qur’an, ia dianjurkan untuk:

Mendengarkan bacaan dengan penuh penghayatan.


Melihat mushaf dengan penuh kekhusyukan dan perhatian pada struktur tulisan.


Merenungkan makna dengan hati dan akalnya yang bersih.


Ini semua karena Allah menjanjikan bahwa siapa pun yang diberi hikmah (termasuk pemahaman terhadap Al-Qur’an), ia telah diberi kebaikan yang banyak:


QS. Al-Baqarah: 269

یُؤۡتِی ٱلۡحِكۡمَةَ مَن یَشَاۤءُۚ وَمَن یُؤۡتَ ٱلۡحِكۡمَةَ فَقَدۡ أُوتِیَ خَیۡرࣰا كَثِیرࣰاۗ وَمَا یَذَّكَّرُ إِلَّاۤ أُو۟لُوا۟ ٱلۡأَلۡبَـٰبِ


“Dia menganugerahkan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa diberi hikmah, sungguh dia telah diberi karunia yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal (ulul albab).”


Semoga kita semua menjadi hamba yang tidak hanya membaca Al-Qur’an, tetapi berinteraksi secara hidup dan dalam, menggunakan pendengaran, penglihatan, dan hati kita sebagai perangkat tadabbur. Itulah jalan menuju kemuliaan bersama Al-Qur’an.


Kajian KH Afifudin Dimyathi di Pondok Pesantren Tahfidz dan ilmu Al-Qur'an Darussalam Martapura, selasa, 24 Juni 2025


Muhammad Ilyas Kurniawan

Mahasantri semester 2

Ma'had 'Aly Darul Ulum Peterongan.

Berikan Komentar
Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin

LINK TERKAIT