Dua Jalaluddin, Satu Tafsir yang Tak Lekang Zaman

Bagaimana jika sebuah tafsir ditulis oleh dua sosok yang terpaut zaman, guru dan murid, tetapi hasilnya begitu seragam sampai hampir tidak bisa dikenali mana tulisan sang guru dan mana tulisan si murid? Itulah Tafsir al-Jalalain, karya dua ulama Mesir bergelar Jalaluddin, yang tetap dikaji selama berabad-abad.

Dokumentasi



Bagaimana jika sebuah tafsir ditulis oleh dua sosok yang terpaut zaman, guru dan murid, tetapi hasilnya begitu seragam sampai hampir tidak bisa dikenali mana tulisan sang guru dan mana tulisan si murid? Itulah Tafsir al-Jalalain, karya dua ulama Mesir bergelar Jalaluddin, yang tetap dikaji selama berabad-abad.

Al-Jalalain berarti "dua Jalal". Yang pertama adalah Jalaluddin al-Mahalli (w. 864 H), ulama Mesir bermazhab Syafi'i yang dikenal tajam pemahamannya. Yang kedua adalah muridnya, Jalaluddin as-Suyuthi (849-911 H), yang tumbuh yatim, hafal Al-Qur'an sebelum usia delapan tahun, dan menulis ratusan kitab di berbagai cabang ilmu. Sang guru al-Mahalli menulis tafsir dari surah al-Kahfi hingga an-Nas, lalu sempat menafsirkan al-Fatihah sebelum wafat. Karya itu dilanjutkan oleh muridnya as-Suyuthi, yang menulis dari al-Baqarah hingga al-Isra' sekitar tahun 870 H dengan mengikuti metode gurunya. Itulah sebabnya hasilnya terasa begitu menyatu.

Lalu, seperti apa wajah kitab ini? Secara umum, penjelasannya diselipkan di antara kata-kata ayat sehingga alur pembacaannya tidak terputus. Dalam menafsirkan, penulis biasanya memulai dari kedudukan (i'rab), kemudian menjelaskan makna kosakata, dan terakhir menyampaikan makna ayat secara keseluruhan. Perbedaan pendapat tidak dibahas bertele-tele, dan penulis cenderung menyebut pendapat yang dinilai paling kuat. Perbedaan qira'at pun disinggung secukupnya, dengan tetap mengikuti urutan mushaf dan keterangan Makkiyah atau Madaniyah di awal tiap surah.

Kesederhanaan inilah yang menjadikannya sebagai pintu masuk yang ramah ke dunia tafsir. Penjelasannya padat tetapi tidak membingungkan, dan banyak ulama menelaahnya serta menulis catatan atasnya, tanda bahwa kitab ini hidup dalam tradisi keilmuan, bukan sekadar dibaca sekali lalu disimpan.

Namun, kitab yang ringkas sering kali menyimpan kedalaman yang baru terbuka melalui seorang guru. Dalam tradisi Islam, dari siapa sebuah ilmu dipelajari, sama pentingnya dengan apa yang dipelajari. Di sinilah kesempatan berharga ini. Prof. Dr. As-Said Muhammad Ali Al-Azhari adalah Guru Besar Universitas Al-Azhar yang juga mengajar di Masjid Al-Azhar dan Masjid Sayyidina Husein. Beliau menempuh jalur formal hingga doktor, sekaligus jalur talaqqi langsung kepada para ulama, hingga meraih sanad Qira'at 'Asyrah dan ijazah berbagai kitab turats. Bekal ini sangat relevan dengan kitab yang begitu memperhatikan bahasa dan qira'at, karena belajar dari ulama bersanad berarti menyerap ilmu beserta adab dan cara memahaminya. Beliau juga dikenal menyeimbangkan ilmu syariat dengan penyucian jiwa, dan akrab dengan Indonesia lewat kunjungannya ke berbagai pesantren.

Kesempatan duduk bersama ulama Al-Azhar untuk mengkaji kitab yang telah dibaca selama berabad-abad tidak datang setiap hari. Jangan lewatkan Muhadhoroh 'Aam bersama Prof. Dr. As-Said Muhammad Ali Al-Azhari di Ma'had Aly Darul Ulum.

Sumber: Muqoddimah Tafsir Jalalain; Yusria Amalia & Bashori, "Kajian Kitab Tafsir al-Jalalain", At-Ta'lim Vol. 2 No. 1 (2025); Sri Mahrani, "Metode Jalaluddin al-Suyuthi dalam Menafsirkan al-Qur'an" (UIN Suska Riau, 2011).

Tim Media Ma'had Aly Darul Ulum Jombang

Berikan Komentar
Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin

LINK TERKAIT