HARI PERTAMA PEKAN TAFSIR NUSANTARA, KAJIAN KITAB TAFSIR AL-BAYAN FI MA’RIFATI MA’ANI AL-QUR’AN OLEH DR. KH. SHODIQ UTSMAN

“Ayat-ayat ono ing duwur nerangke yen bondo, kedudukan, iku ora keno digawe anggak-anggakan, yen wis mati bondone iku ora keno nebusi duso,opo maneh pangkate kang wus ilang”.

Dokumentasi

Pada sabtu (18/1), Ma’had Aly Darul Ulum Jombang menyelenggarakan Pekan Ngaji Tafsir Nusantara di Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang, acara ini diadakan untuk menghidupkan Kembali Khazanah Tafsir Nusantara, Adapun Rangkaian acara ini terdiri dari empat sesi yang dibagi menjadi empat hari dimulai pada sabtu, 18 Januari 2025, hingga Selasa, 22 Januari 2025.

Acara berlangsung selama empat hari berturut-berturut dengan mengundang para mufassir masyhur di Jawa-Madura, Adapun nama-nama para mufassir yang akan mengisi acara ialah sebagai berikut:
1. Dr. KH. Shodiq Hamzah Utsman 

2. KH. Zamroji Halim

3. KH. Thoifur Ali Wafa

4. Dr. KH. Afifuddin Dimyathi Romly, M.A

Kajian pada hari pertama mengkaji kitab Al-bayan fi ma’rifatil qur’an, acara dimulai dengan sambutan dari Mudir ‘Am Mahad ‘aly Daul Ulum Jombang, KH. Muhammad Afifuddin Dimyathi. Lc,MA, beliau memberikan apresiasi dan rasa syukurnya atas terselenggarakan acara ini beserta testimoni dari para masyaikh

Lebih lanjut lagi, beliau menerangkan tiga tujuan adanya acara kajian ini’:

. Ta’lim al-tafasir (mempelajari tafsir-tafsir)

. ta’rif al-mufassirin (mengetahui para mufassir)

.at-tabbaru’ bihim (mencari barakah dari para mufassir)

Disamping itu Beliau juga menerangkan harapannya agar dengan acara ini dapat memotivasi para santri agar ampu menerbitkan karya-karya agar memperkaya khazanah tafsir nusantara.

Kemudan sambutan kedua diberikan oleh KH Zaimuddin Wijaya As’ad. SU Dimana beliau menyatakan rasa bangganya atas terselenggaranya acara

Setelahnya dilanjutkan dengan Tilawatul Qur’an yang diisi oleh salah satu dosen Mahad ‘Aly Darul Ulum, Ahdiyat Mahathir, SQ

Acara doa diisi oleh KH Zulfikar As’ad dan Rais Syuriah PCNU, Ahmad Hasan Hasibuan, beserta Anggota Majlis PPDU, KH Hamid Bisri 

Memasuki acara puncak yaitu Kajian Ngaji Tafsir oleh KH, Shodiq Utsman, pemaparan terdiri dari dua sesi:

. sesi diskusi, bagian ini menerangkan motif Kyai Shodiq Menyusun kitab ini yakni pada kejadian pandemi COVID-19 yang sempat melanda Indonesia beberapa tahun silam, beliau menyusun kitab tafsir al-bayan selama dua tahun dan selesai bertepatan dengan dicabutnya PPKM oleh pemerintah, beliau Menyusun karya tersebut untuk mengisi kekosongan waktu dan juga beliau ingin untuk menghadirkan Tafsir dengan Bahasa Jawa dikarenakan firman allah yang berbunyi

وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهٖ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ ۗ

.  Kami tidak mengutus seorang rasul pun, kecuali dengan bahasa kaumnya, agar dia dapat memberi penjelasan kepada mereka                                                                                                                   

Terinspirasi dari ayat ini beliau bertekad mengarang sebuah kitab tafsir Al Quran 30 Juz yang Berbahasa Jawa Krama Untuk Menghadirkan Sebuah Kitab tafsir yang relevan yang agar dipahami oleh masyarakat secara Universal dan juga menghidupkan Budaya menulis dengan Bahasa jawa oleh karenanya kitab ini di tulis dengan huruf latin 

Adapun motif berikutnya ialah menghadirkan sebuah karya yang dapat di pahami secara mudah namun padat dengan makna baik secara makna leksikal maupun retorikal Untuk menyempurnakan terjemahan  Al Quran versi Kementerian agama

Lebih lanjut beliau menerangkan sistematika Kitab tafsir Al Quran Adapun susunannya 

Adalah: 

.Letak turunnya ayat

.jumlah kalimat, huruf, serta ayat

. Fadhilah ayat

.Tafsir perkata

. Asbabun nuzul ayat (apabila terdapat asbabun nuzul)

. serta pemahaman ayat.

Pada Kajian bedah kitab yang diselenggarakan kali ini, maqra yang dibaca dimulai dari Al Nasr hingga Surah An-nas beberapa hal yang membuat kitab ini memiliki karateristik tersendiri sebagaimana dijelaskan oleh beliau termasuk penjelasan mengenai pemahaman ayat seperti contoh, penjelasan mengenai matinya istri abu lahab yang dijelaskan dalam kitab ini dengan deskripsi berikut

Bojone Abu Lahab iku Asmone Ummi Jamil. Ummi jamil iku Getinge karo Muhammad nganti ora karuan. Nganti nggolek kayu rii digendong dewe, yen tekan ndalan kayu rii mau disebar supoyo nabi Muhammad yen ngambah dalan keno rii.

Siji dino nggendong rii sak bengkok nganggo slendang lulu. Sangkip kesele Ummi Jamil nuli lungguh ing nduwur watu. Ndelalah ono malaikat kang membo-membo menungso, nuli tali lulup mau di talek’ake ono ing gulune dewe, ditarik deneng malaikat, hinggo mati ketekek. Mestine sing nekek ora liyo yoiku malaikat.

Deskripsi ini menjelaskan tentang istrinya Abu Jahal yang dijelaskan pada surat al-lahab, sang muallif berusaha menerangkan cerita ini dengan Bahasa yang mudah dimengerti yang tidak lazim nya ditemukan pada kebanyakan tafsir

Penggunaan Bahasa jawa sebagai Bahasa primer tidak menanggalkan ketelitian kitab tersebut, malah semakin memperjelas maknanya, sang muallif pada penjabaran didepan peserta menggunakan metode nahwu Sharaf, balaghah bahkan ‘ilal untuk menjelaskan asal mula lafadz yang dianggap unsanitary seperti contoh pada penjelasan lafadz 

قل

Dimana beliau menjelaskan asal mulanya dengan mengorek sedikit kaidah dari ilmu ‘ilal 

Kemudian hal unik yang disinggung beliau ialah terdapat pemahaman ayat yang dapat memperdalam pemahaman atas ayat seperti contoh pada surat al-ikhlas Dimana pembaca dapat memperluas wawasan dengan mengetahui nama nama lain al-ikhlas seperti 

. surat at-tafriq

. surat ma’rifat

. surat al-baro’ah

. surat al-asas

Sedangkan dalam surat nashr hal yang menjadi karateristik khas kitab ini ialah penjelasan mengenai dua versi nama surat ini, an-nashr untuk menjelaskan peristiwa fathu Makkah, maupun surat at-taudi’ yang menjelaskan bahwa kanjeng nabi arep pamitan 

Satu hal yang wajib disoroti ialah Upaya kyai shodiq untuk menghadirkan sebuah bahan kajian yang bersifat dialog interaktif antara sang penulis dan pembaca untuk memahami kalam Ilahi, hal ini dibuktikan dari pemaparan berikut

“kanjeng nabi kang ma’shum iku wae ijeh maos, dzikir,tasbih, lan istighfar opo maneh umatte?? Semongso-mongso marek-mareki mati supoyo ngakeh-ngakehane dzikr, tasbih lan istighfar. Lan kudu getun nganti duenu anggepan ye aku ora duwe salah, amergi yen mengkono Alamat dibisiki iblis”

Penggunaan Bahasa demikian digunakan untuk menyentuh hati pembaca bagaimana bagusnya akhlak baginda nabi’, dan juga menampar ego Sebagian besar manusia yang seringkali merasa benar sendiri.

Kemudian Pendidikan integritas moral dan Pendidikan antikorupsi juga diselipkan oleh beliau sebagaimana pemaparan berikut

“Ayat-ayat ono ing duwur nerangke yen bondo, kedudukan, iku ora keno digawe anggak-anggakan, yen wis mati bondone iku ora keno nebusi duso,opo maneh pangkate kang wus ilang”.

Kemudian pada akhir penjelasan surat an-nas yang dilanjutkan dengan penutup sang muallif menerangkan tanggal selesainya kitab dan doa harapannya agar kitab tersebuat dapat menjadi sumber ilmu yang manfaat dan barokah.

Ismail Hasyim (Mahasantri Semester 3) 

Tim Media Ma'had Aly Darul Ulum Jombang




Berikan Komentar
Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin

LINK TERKAIT