Kita tidak dituntut untuk serba bisa. Tapi kita semua dituntut untuk berusaha dan mau bekerja sama. Organisasi bukan tempat untuk tampil tanpa fungsi, bukan pula panggung untuk menghindar dari tanggung jawab.
Dokumentasi
Dalam kehidupan organisasi atau dunia kerja, kita sering menjumpai tipe-tipe manusia yang berbeda. Ada yang cekatan, ada yang penuh inisiatif, dan ada juga yang... hanya mondar-mandir tanpa arah, sekadar jadi pelengkap suasana.
Saat rekan lain sibuk mengetik laporan, ia hanya diam sambil mengamati. Ketika teman lain menyusun konsep, ia malah bertanya, “Ini buat apa ya?” Kalimat yang paling sering keluar dari lisannya hanyalah “Barokalloh”, “MasyaAllah”, atau “Mantap!” — tapi tangan dan pikirannya kosong dari kontribusi nyata.
Ironisnya, ia sering meminta bantuan, tapi saat dirinya dimintai bantuan, ia selalu punya alasan untuk menghindar.
Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Ahmad, Thabrani, dan Daruquthni)
Kalau kita belum bisa jadi yang terbaik, setidaknya jangan menjadi beban. Kalau belum mampu membuat konsep, bantulah mencatat. Kalau belum bisa mengetik cepat, setidaknya antarkan kopi atau fasilitasi kebutuhan tim. Jangan hanya menjadi komentator dalam tim kerja.
Allah Ta’ala berfirman:
وَقُلِ ٱعْمَلُوا۟ فَسَيَرَى ٱللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُۥ وَٱلْمُؤْمِنُونَ ۖ
“Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin...”
(QS. At-Taubah: 105)
Ayat ini adalah ajakan tegas untuk bekerja, bukan sekadar hadir atau mengisi absen. Dunia butuh kerja nyata, bukan basa-basi.
Dalam hadits lain, Nabi ﷺ bersabda:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّىٰ يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Apakah kita senang jika dalam tim kerja kita ada orang yang hanya menyusahkan? Jika tidak, maka jangan sampai kita menjadi orang itu. Jangan merasa cukup hanya dengan penampilan dan ucapan religius, tapi kosong dari kontribusi.
Kita tidak dituntut untuk serba bisa. Tapi kita semua dituntut untuk berusaha dan mau bekerja sama. Organisasi bukan tempat untuk tampil tanpa fungsi, bukan pula panggung untuk menghindar dari tanggung jawab.
“Jika kamu tidak bisa membantu dengan tanganmu, bantu dengan pikiranmu. Jika pikiranmu pun tak mampu, setidaknya jangan menghalangi langkah orang lain yang bekerja.”
Mari koreksi diri. Apakah kita bagian dari solusi… atau justru beban yang menyulitkan?
Yusuf Hidayatulloh
Media, Editor, IT dan Supervisor Ma'had Aly Darul Ulum Jombang