Surat Ad-Dukhan ayat 1-5 menjelaskan tentang keagungan Al-Qur’an yang diturunkan pada malam yang diberkahi. Mayoritas ulama menyepakati bahwa malam tersebut adalah Lailatul Qadr, meskipun ada pendapat yang menyebutnya sebagai malam Nisfu Sya’ban.
Dokumentasi
Surat Ad-Dukhan merupakan surat Makkiyah yang terdiri dari 95 ayat, 349 kalimat, dan 1.431 huruf. Pada awal surah ini, dari ayat 1-5, Allah SWT menjelaskan tentang nuzulul Qur’an, sebagaimana juga disebutkan dalam Surat Al-Qadr.
Surat ini dinamakan "Ad-Dukhan" karena berkaitan dengan asbabun nuzul ayatnya yang menceritakan tentang kabut atau asap. Adapun lima ayat pertama dalam surat ini berbicara tentang turunnya Al-Qur’an pada malam Lailatul Qadr serta keutamaannya yang agung.
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
حٰمۤ ۚ
Hā Mīm.
وَالْكِتٰبِ الْمُبِيْنِۙ
Demi Kitab (Al-Qur’an) yang jelas.
اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةٍ مُّبٰرَكَةٍ اِنَّا كُنَّا مُنْذِرِيْنَ
Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi (Lailatul Qadr). Sesungguhnya Kamilah pemberi peringatan.
فِيْهَا يُفْرَقُ كُلُّ اَمْرٍ حَكِيْمٍۙ
Pada (malam itu) dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.
اَمْرًا مِّنْ عِنْدِنَاۗ اِنَّا كُنَّا مُرْسِلِيْنَۖ
(Hal itu merupakan) urusan (yang besar) dari sisi Kami. Sesungguhnya Kamilah yang mengutus (para rasul).
Syaikh Muhammad Nawawi Al-Bantani dalam kitab Murah Labid li Kasyfi Ma'na Al-Qur'an menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "yang diturunkan pada malam Lailatul Qadr" adalah kitab-kitab yang telah diturunkan sebelumnya kepada para nabi, yakni Al-Qur’an atau Lauhul Mahfudz.
Para ulama berbeda pendapat mengenai maknanya:
Mayoritas ulama: Malam tersebut adalah Lailatul Qadr.
Riwayat Ikrimah dan sebagian ulama lain: Malam yang dimaksud adalah malam Nisfu Sya’ban.
Imam Fakhruddin Ar-Razi menyebut bahwa kelompok yang meyakini malam tersebut adalah Nisfu Sya’ban menamakannya dengan empat istilah:
لَيْلَةِ المُبَارَكَةِ (Lailatul Mubarakah – Malam yang diberkahi)
لَيْلَةِ البَرَاءَةِ (Lailatul Bara’ah – Malam pembebasan)
لَيْلَةِ الرَّحْمَةِ (Lailatul Rahmah – Malam penuh rahmat)
لَيْلَةِ الصِّكِّ (Lailatush Shakk – Malam keputusan)
Muhammad bin Jarir Ath-Thabari meriwayatkan bahwa kitab-kitab Allah diturunkan pada bulan-bulan tertentu:
Suhuf Nabi Ibrahim: Malam pertama Ramadhan.
Kitab Zabur: Malam ke-12 Ramadhan.
Kitab Injil: Malam ke-18 Ramadhan.
Imam Nawawi Al-Bantani menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah takdir mubram, yakni takdir yang tidak dapat diubah seperti umur, rezeki, kematian, dan jodoh. Imam Ar-Razi menambahkan bahwa ketetapan ini terjadi karena Allah SWT telah menentukan hikmah dari setiap perbuatan manusia.
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah segala ketetapan Allah SWT yang terjadi berdasarkan ilmu, izin, dan kehendak-Nya.
Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam kitabnya Lubabun Nuqul fi Asbab An-Nuzul menjelaskan, berdasarkan riwayat Bukhari dari Ibnu Mas’ud, bahwa ayat pertama dalam Surat Ad-Dukhan turun karena kaum Quraisy membangkang terhadap Nabi Muhammad SAW.
Nabi Muhammad SAW kemudian berdoa agar mereka mengalami musim paceklik seperti yang terjadi di zaman Nabi Yusuf. Akibatnya, terjadi kelaparan hebat hingga mereka terpaksa memakan tulang dan dedaunan. Salah satu dari mereka melihat ke langit dan mengira ada kabut atau asap yang menutupi pandangannya. Setelah itu, Allah SWT menurunkan hujan sebagai rahmat bagi mereka.
Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kemuliaan malam Lailatul Qadr bukan karena waktu itu sendiri, tetapi karena sesuatu yang mulia turun pada malam tersebut, yaitu Al-Qur’an.
Dengan turunnya Al-Qur’an:
Kenabian Nabi Muhammad SAW ditetapkan.
Perbedaan antara yang hak dan yang batil menjadi jelas.
Sehingga, malam tersebut memiliki keutamaan yang sangat besar dalam sejarah Islam.
Surat Ad-Dukhan ayat 1-5 menjelaskan tentang keagungan Al-Qur’an yang diturunkan pada malam yang diberkahi. Mayoritas ulama menyepakati bahwa malam tersebut adalah Lailatul Qadr, meskipun ada pendapat yang menyebutnya sebagai malam Nisfu Sya’ban.
Dalam ayat ini juga disebutkan bahwa pada malam tersebut ditetapkan berbagai takdir yang bersifat mubram (pasti terjadi), seperti umur, rezeki, kematian, dan jodoh.
Selain itu, asbabun nuzul surat ini berkaitan dengan doa Nabi Muhammad SAW yang menyebabkan kaum Quraisy mengalami paceklik, hingga mereka melihat asap atau kabut di langit sebelum akhirnya Allah SWT menurunkan hujan.
Keutamaan Lailatul Qadr terletak pada turunnya Al-Qur’an, yang menjadi penentu antara kebenaran dan kebatilan, serta menetapkan kenabian Rasulullah SAW. Oleh karena itu, malam ini menjadi salah satu malam paling mulia dalam Islam, dan umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah di dalamnya.
Ismail Hasyim Maarif Mahasantri Semester 4
Tim Media Ma'had Aly Darul Ulum Jombang