Pekan Ngaji Tafsir Nusantara hadir sebagai wujud nyata upaya melestarikan sekaligus mengaktualisasi khazanah keempat tafsir ini dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Acara ini diharapkan menjadi momentum untuk menggali kembali kekayaan tafsir Nusantara, mendalami nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya, serta menjadikannya sebagai rujukan dalam menghadapi isu-isu keislaman dan kebangsaan. Selain itu, acara ini bertujuan untuk memperkuat tradisi ilmiah di pesantren, khususnya Pondok Pesan
Dokumentasi
Minat para pengkaji studi al-Qur’an dan tafsir terhadap produk-produk tafsir Nusantara khususnya terhitung sejak dua dekade terakhir menunjukkan peningkatan yang signifikan. Selain telah masuk dalam daftar kurikulum Program Studi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir (atau program studi sejenis) baik di PTKIN, PTKIS, maupun Ma’had Aly, diskursus tafsir Nusantara terbukti menjadi salah satu topik dominan dalam karya-karya ilmiah seputar studi al-Qur’an dan tafsir mulai dari yang berbentuk artikel populer, artikel jurnal, skripsi, tesis, hingga disertasi. Diskursus tafsir Nusantara pun dengan demikian menempati posisi strategis dalam roadmap penelitian studi al-Qur’an dan tafsir. Tidak hanya itu, dalam tataran praktis, diseminasi kajian tafsir Nusantara juga memperlihatkan fenomena yang mengagumkan. Di tengah arus globalisasi yang memudahkan siapa pun mengakses literatur-literatur keislaman dari seluruh penjuru dunia, masyarakat umum masih menjadikan produk-produk tafsir Nusantara sebagai bahan bacaan mereka baik secara individu maupun kolektif. Bahkan saat ini terdapat sejumlah kanal YouTube yang mendokumentasikan dan menyuguhkan kajian tafsir Nusantara kepada masyarakat digital sehingga dapat dijangkau oleh siapa pun dan kapan pun.
Pada konteks ini, di antara senarai tafsir Nusantara yang kerap dikaji dan yang penulisnya masih eksis hingga kini adalah al-Bayân fî Ma‘rifat Ma‘ânî al-Qur’ân karya K.H. Shodiq Hamzah Usman, al-Mu‘tasham fî Tafsîr al-Qur’ân al-Mu‘azhzham karya K.H. Ahmad Zamroji, Firdaws al-Na‘îm bi Tawdhîh Ma‘ânî al-Qur’ân Âyât al-Qur’ân al-Karîm karya K.H. Thaifur Ali Wafa, dan Hidâyat al-Qur’ân fî Tafsîr al-Qur’ân bi al-Qur’ân karya K.H. Muhammad Afifuddin Dimyathi. Secara umum, benang merah keempat tafsir ini tersimpul pada dua aspek. Pertama, terlahir dari rahim pesantren. Aspek ini tentu saja menambah keunikan tersendiri. Lahirnya keempat tafsir tersebut seolah menepis persepsi negatif sebagian masyarakat yang menganggap pesantren cenderung taklid-pasif, tak mampu memproduksi wacana keislaman, dan hanya berkutat pada literatur-literatur yang ditulis oleh outsider (baca: para ulama Timur Tengah). Kedua, ditulis dalam format analitis-mushafi. Tegasnya, materi-materi tafsir dalam keempat karya itu secara runut dan runtut sesuai dengan susunan ayat dan surah dalam Mushaf al-Qur’an. Ini pun menjadi daya tarik tersendiri, sebab pada abad modern-kontemporer kajian-kajian tafsir al-Qur’an didominasi oleh tafsir tematik yang konon merupakan jawaban logis atas problematika-problematika masyarakat modern yang menghendaki petunjuk-petunjuk praktis dari al-Qur’an. Hadirnya keempat tafsir tersebut dengan format analitis-mushafi, dengan demikian, melawan arus mainstream. Ini pun tidak mengurangi relevansinya yang dibuktikan dengan tingginya minat baca masyarakat terhadap keempat tafsir tersebut. Di luar dua aspek ini, masing-masing memiliki keunikan lain.
Tafsir al-Bayân: Gaya Baru Tafsir Pesantren
Tafsir al-Bayân karya K.H. Shodiq Hamzah misalnya, ditulis dengan aksara latin dan bahasa Jawa. Pemilihan aksara latin merupakan bukti konkret bahwa penulisnya, Pengasuh Pondok Pesantren Asshodiqiyah Kaligawe Semarang, berupaya menjangkau para pembaca yang lebih luas, karena sebagaimana kita ketahui, tidak semua masyarakat Indonesia mampu membaca literatur-literatur beraksara pegon. Aksara ini lumrahnya hanya mampu dibaca oleh mereka yang dekat dengan tradisi-tradisi kepesantrenan. Sedangkan pemilihan bahasa Jawa menjadi tanda perhatian besar penulisnya terhadap kualitas keberagamaan umat Islam di Jawa, tempat penulisnya mengabdikan ilmunya. Selain itu, dalam Tafsir al-Bayân termuat penafsiran kosakata-kosakata al-Qur’an yang dilengkapi dengan uraian tentang konstruk sintaksisnya, sebuah model pemaknaan khas pesantren. Tidak hanya menafsirkan, dalam tafsir tersebut Kiai Shodiq juga memformulasikan intisari-intisari pokok yang terkandung dalam serangkaian ayat yang telah ditafsirkannya. Untuk memudahkan pemahaman, Kiai Shodiq kerap pula melibatkan contoh-contoh aktual yang dekat dengan budaya masyarakat Indonesia.
Tafsir al-Mu'tasham: Respon Pesantren Terhadap Isu-isu Aktual
Berikutnya Tafsir al-Mu‘tasham yang ditulis K.H. Ahmad Zamroji, Pengasuh Pondok Pesantren Manba’ul Khoiriyatil Islamiyah Bangsal Jember. Dalam tafsir berbahasa Arab ini, Kiai Zamroji sering mengutip penafsiran Syekh Nawawi al-Bantani, penulis Tafsir Marâh Labîd. Pengutipan ini tentu bukan tanpa alasan. Melalui pengutipan-pengutipan yang berulang ini, Kiai Zamroji hendak membumikan penafsiran-penafsiran Syekh Nawawi al-Bantani di bumi Nusantara, khususnya daerah Tapal Kuda. Di samping itu, dalam beberapa kesempatan Kiai Zamroji menyoroti isu-isu aktual, tepatnya saat tafsirnya ditulis, seperti fenomena kemunduran umat Islam, tradisi tahlilan, dan pandangan nyeleneh seputar al-Qur’an. Lebih dari itu, Kiai Zamroji bahkan terlihat menggunakan perspektif feminis saat berhadapan dengan ayat-ayat gender.
Tafsir Firdaws al-Na'im: Wujud Konkret Kekayaan Pesantren, dari Nuansa Kebahasaan hingga Nuansa Sufistik
Selajuntnya Tafsir Firdaws al-Na‘îm yang dirajut oleh K.H. Thaifur Ali Wafa, Pengasuh Pondok Pesantren Assadad Ambunten Sumenep. Dalam tafsir ini, Kiai Thaifur terlihat beberapa kali menyuguhkan penafsiran-penafsiran sufistik. Hal ini tentu saja dapat dimaklumi mengingat Kiai Thaifur merupakan Mursyid Tarekat Naqsyabandiyah. Beliau juga kerap menyelipkan nasihat-nasihat kepada para santri atau para penuntut ilmu secara umum di sela-sela penafsirannya. Dalam konteks formulasi hukum Islam, penjelasan-penjelasannya detail, bukan saja ketika Kiai Thaifur bersinggungan dengan ayat-ayat hukum (âyât al-ahkâm) tetapi disampaikannya pula saat berhadapan dengan kisah-kisah al-Qur’an. Hal yang sama juga terlihat dalam konteks pembahasan struktur gramatika bahasa al-Qur’an. Analisis-analisis kebahasaan Kiai Thaifur begitu detail, seolah beliau hendak melatih senstivitas kebahasaan para pembaca Firdaws al-Na‘îm, lebih-lebih para santri.
Tafsir Hidâyat al-Qur’ân: Kontribusi Nyata Pesantren Terhadap Formulasi Tafsir al-Qur'an bi al-Qur'an
Terakhir, Tafsir Hidâyat al-Qur’ân karya K.H. Muhammad Afifuddin Dimyathi, salah satu Majelis Pimpinan Pondok Pesantren Darul Ulum Peterongan Jombang. Sebagaimana terbaca dari judulnya, penyajian materi-materi dalam tafsir ini berfokus pada penafsiran al-Qur’an dengan al-Qur’an (baca: manhaj qur’ânî). Menariknya adalah Kiai Awis, sapaan akrab pengasuh Ribath Hidayatul Qur’an itu, mempurifikasi materi-materi non manhaj qur’ânî yang biasanya masih menghiasi lembaran-lembaran tafsir terdahulu yang concern pada metode tafsîr al-qur’ân bi al-qur’ân, seperti ath-Thabarî, Ibn Katsîr, al-Amritsarî dan asy-Syinqîthî. Di samping itu, Kiai Awis melestarikan praktik penafsiran al-Qur’an dengan al-Qur’an yang telah dilakukan oleh para mufasir sebagaimana tercermin dalam karya-karya mereka. Memang pelestarian ini telah dilakukan pula mufasir-mufasir lain, namun pelestarian mereka—dari perspektif al-manhaj al-qur’ânî—masih menyisakan problem metodis, yakni penyertaan materi-materi di luar konteks penafsiran al-Qur’an dengan al-Qur’an. Tentu Kiai Awis bukan sekadar melestarikan yang telah ada, tapi lebih dari itu, beliau memberi “sentuhan-sentuhan” baru dengan cara menginterkoneksikan ayat-ayat al-Qur’an sesuai dengan ijtihadnya. Pelestarian plus inovasi ini di samping menunjukkan kekayaan dan keunikan referensial Tafsir Hidâyat al-Qur’ân, meneguhkan pula identitas tafsîr al-qur’ân bi al-qur’ân sebagai metode penafsiran ideal yang mendapat sambutan hangat dari para mufasir di setiap generasi.
Pekan Ngaji Tafsir Nusantara
Berdasarkan uraian di atas, Pekan Ngaji Tafsir Nusantara hadir sebagai wujud nyata upaya melestarikan sekaligus mengaktualisasi khazanah keempat tafsir ini dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Acara ini diharapkan menjadi momentum untuk menggali kembali kekayaan tafsir Nusantara, mendalami nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya, serta menjadikannya sebagai rujukan dalam menghadapi isu-isu keislaman dan kebangsaan. Selain itu, acara ini bertujuan untuk memperkuat tradisi ilmiah di pesantren, khususnya Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang, sebagai pusat kajian Islam yang dinamis dan inklusif.
Acara ini juga menjadi bukti komitmen pesantren dalam mendukung perkembangan ilmu Islam yang dinamis dan relevan di tengah perubahan zaman, serta menegaskan bahwa warisan intelektual Islam Nusantara tetap hidup dan memiliki peran penting dalam dunia keislaman global.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai Pekan Ngaji Tafsir Nusantara, silakan menghubungi Ust. Yusuf Hidayatulloh di https://wa.me/6282234729644 atau kunjungi media sosial Ma'had Aly Darul Ulum di:
Website: www.mahadalydarululum.ac.id
Instagram: @mahadaly.darululum
Facebook: Ma'had Aly Darul Ulum
Mari bersama menjaga dan melestarikan kekayaan khazanah Islam Nusantara.
Khobirul Amru, M.Ag.
Dosen Ma'had Aly Darul Ulum Jombang
Tim Media Ma'had Aly