KH. Shodiq Hamzah: Jejak Intelektual dan Perjalanan Dakwah

Atas dedikasi dan kontribusinya dalam dunia keilmuan Islam, KH. Shodiq Hamzah dianugerahi gelar Doktor Honoris Causa (HC) dalam bidang Ilmu Tafsir oleh Fakultas Ushuluddin dan Humaniora (FUHum) UIN Walisongo Semarang. Penghargaan ini menjadi bukti bahwa pemikiran dan karya-karyanya diakui tidak hanya di lingkungan pesantren, tetapi juga di dunia akademik.

Dokumentasi

KH. Shodiq Hamzah adalah seorang ulama yang dikenal karena dedikasinya dalam dunia pendidikan Islam, kepemimpinan organisasi keagamaan, serta produktivitasnya dalam menulis berbagai kitab. Beliau adalah sosok yang sederhana namun memiliki wawasan luas dan semangat tinggi dalam menyebarkan ilmu.

Beliau lahir di sebuah desa kecil bernama Tambak Roto, Sayung, Demak. Nama lengkapnya adalah Shodiq bin Hamzah bin Utsman. Ia terlahir pada 1 Januari 1954 dari pasangan KH. Hamzah Utsman dan Nyai Hj. Rohanah, yang merupakan tokoh agama di daerah tersebut.  

Keluarganya dikenal sebagai keluarga yang sangat religius. Ayahnya adalah seorang ulama yang disiplin dalam mendidik anak-anaknya, sementara ibunya dikenal sebagai perempuan salehah yang mendukung perjuangan suaminya dalam mendidik masyarakat. Dalam lingkungan inilah, KH. Shodiq Hamzah kecil mulai mengenal Al-Qur’an dan ilmu-ilmu keislaman.  

Perjalanan Pendidikan dan Menuntut Ilmu

Sejak kecil, KH. Shodiq Hamzah telah menunjukkan kecintaan yang mendalam terhadap ilmu. Ayahnya sendiri yang pertama kali mengajarkannya membaca Al-Qur’an dan kitab-kitab dasar nahwu seperti Al-Jurūmiyyah. Pendidikan formalnya dimulai di Sekolah Rakyat (SR), setara dengan Sekolah Dasar saat ini.  

Namun, perjalanan pendidikannya sempat terganggu akibat tragedi G30S/PKI. Ketika itu, situasi politik yang tidak stabil membuat sekolah-sekolah mengalami gangguan, dan KH. Shodiq Hamzah pun terpaksa berhenti di kelas lima. Namun, semangatnya untuk menuntut ilmu tidak surut. Ia melanjutkan pendidikan melalui jalur persamaan sebelum akhirnya mendalami ilmu agama di Pondok Pesantren Futuhiyyah, Suburan, Mranggen, Demak, yang diasuh oleh seorang ulama besar, Syaikh Musliḥ Abdurraḥmān al-Marāqi.  

Di pesantren inilah, kecerdasan dan ketekunan KH. Shodiq Hamzah semakin terasah. Ia mendalami berbagai disiplin ilmu Islam, mulai dari tafsir, hadis, fiqh, hingga ilmu alat seperti nahwu dan sharaf. Pesantren Futuhiyyah menjadi titik awal pembentukan intelektualitasnya, tempat di mana ia mulai menunjukkan bakat dalam menulis dan mengajar.  

Mendirikan Pesantren dan Mengabdikan Diri untuk Pendidikan

Seiring dengan semakin matangnya pemahaman keislamannya, KH. Shodiq Hamzah merasa terpanggil untuk mendirikan lembaga pendidikan sendiri. Pada tahun 1998, ia mendirikan Pesantren Asshodiqiyyah di Semarang, tepatnya di Jl. Sawah Besar Timur I No. 99, Kelurahan Kaligawe, Kecamatan Gayamsari.  

Pesantren ini tumbuh menjadi lembaga pendidikan Islam yang besar dan berpengaruh. Tidak hanya sebagai tempat menghafal Al-Qur’an dan mendalami kitab-kitab klasik, Pesantren Asshodiqiyyah juga mengembangkan berbagai lembaga pendidikan formal seperti:  

- Sekolah Dasar Islam Terpadu (SD IT)  

- Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu (SMP IT)  

- Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)  

- Perguruan Tinggi (direncanakan untuk program Kebidanan dan Keperawatan)  

Di dalam kompleks pesantren ini juga berdiri Masjid Al-Mabrur, serta berbagai fasilitas lainnya seperti aula, koperasi pesantren (KOPONTREN), dan Baitul Maal wat Tamwil (BMT). Dari pesantren ini, lahir banyak tokoh, salah satunya adalah Habiburrahman El-Shirazy, yang dikenal luas sebagai penulis novel-novel Islami dengan nama pena Kang Abik.  

Selain mengelola pesantren, KH. Shodiq Hamzah juga aktif dalam bimbingan ibadah haji dan umroh melalui Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Asshodiqiyyah. Setiap tahun, ia membimbing sekitar 500 jamaah, memastikan mereka memahami tata cara ibadah haji dan umroh dengan benar sesuai tuntunan syariat.  

Kiprah dalam Organisasi Keislaman dan Dakwah  

Sebagai seorang ulama yang disegani, KH. Shodiq Hamzah dipercaya untuk menduduki berbagai posisi penting dalam organisasi Islam, di antaranya:  

- Rais Syuriah PCNU Kota Semarang (1998–2000 dan 2010–2015)  

- Penasehat Masjid Agung Jawa Tengah  

- Penasehat MUI Jawa Tengah  

- Anggota Dewan Syari’ah Forum Kelompok Bimbingan Ibadah Haji Pusat  

- Pengurus JATMAN Idharah Wustha  

- Pendiri Yayasan Pendidikan Al-Fattah, Sayung, Demak  

- Pemrakarsa Universitas Wahid Hasyim, Semarang  

Dengan berbagai amanah yang diembannya, KH. Shodiq Hamzah terus berkontribusi dalam dakwah dan pendidikan Islam, baik melalui pesantren, organisasi keislaman, maupun berbagai forum keilmuan.  

Karya-Karya dan Warisan Keilmuan  

Selain berdakwah dan mendidik santri, KH. Shodiq Hamzah juga dikenal sebagai seorang penulis yang produktif. Karya-karyanya banyak digunakan sebagai rujukan di pesantren dan lembaga keislaman. Beberapa karyanya yang terkenal meliputi:  

- Tafsir Al-Bayan fi Ma'rifati Ma'ani Al-Quran – Tafsir 30 juz dalam bahasa Jawa Krama  

- Zubdat al-Bayan fi Bayani Fadha’il Suwar Alquran  

- Dzilal al-Manazil fi Tarjamati Yasin wa Tahlil  

- Qalbu Alquran  

- Al-Qawaid as-Saniyah fi al-Masail an-Nahwiyah  

- Al-Qawaid al-Mi’ah Li Barqi al-Talabah Fi Fahmi al-‘Ulum al-Nahwiyah  

- Mutammimat al-Sarfiyah Fi ‘Ilm al-Saraf  

- Kamus Amiyah  

- Kamus Haji  

Karya-karyanya tidak hanya ditulis dalam bahasa Arab, tetapi juga dalam Arab Pegon dan bahasa Jawa, sehingga lebih mudah dipahami oleh masyarakat pesantren dan santri-santri di daerah.  

Penghargaan dan Pengakuan  

Atas dedikasi dan kontribusinya dalam dunia keilmuan Islam, KH. Shodiq Hamzah dianugerahi gelar Doktor Honoris Causa (HC) dalam bidang Ilmu Tafsir oleh Fakultas Ushuluddin dan Humaniora (FUHum) UIN Walisongo Semarang. Penghargaan ini menjadi bukti bahwa pemikiran dan karya-karyanya diakui tidak hanya di lingkungan pesantren, tetapi juga di dunia akademik.  

Warisan dan Penerus Perjuangannya  

KH. Shodiq Hamzah meninggalkan warisan yang berharga, baik berupa pesantren, karya tulis, maupun santri-santri yang telah menjadi ulama dan cendekiawan. Tiga anaknya yang meneruskan perjuangannya dalam bidang dakwah dan pendidikan adalah:  

1. H. Mochammad Shidqon Prabowo  

2. H. Mohammad Zam Zami ‘Urif  

3. Hj. Hayati Mardliyah  

Pesantren yang didirikannya terus berkembang dan menjadi pusat pendidikan Islam yang berpengaruh. Semangatnya dalam menuntut ilmu, berdakwah, dan membangun peradaban Islam akan selalu menjadi inspirasi bagi generasi selanjutnya.


Abul Ulya

Mahasantri Smt. 2

Tim Media Ma'had Aly Darul Ulum Jombang

Berikan Komentar
Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin

LINK TERKAIT