Khidmat dan sukses, Puncak Bulan Kajian Kitab Ulumul Qur’an Jadi Saksi Lahirnya 'Kunūzur Raḥmān'

Rangkaian acara puncak yang berlangsung penuh khidmat dari awal hingga akhir ini berjalan sukses dan interaktif, sekaligus menandai berakhirnya seluruh rangkaian agenda Bulan Kajian Ulumul Qur'an Nusantara tahun ini dengan penuh keberkahan.

Dokumentasi


Rangkaian panjang Kajian Bulan Ulumul Qur’an Nusantara yang diinisiasi oleh Ma'had Aly Darul Ulum sukses mencapai puncaknya pada Ahad (24/5/2026). Forum ilmiah yang berlangsung khidmat sekaligus dinamis ini menjadi momentum bersejarah seiring dengan resmi diluncurkannya kitab terbaru karya Mudir Ma'had Aly Darul Ulum, Dr. KH M Afifuddin Dimyathi (Gus Awis), yang berjudul Kunūzur Raḥmān fī Durūs Al-Qur’ān.

Acara penutupan ini merupakan puncak dari rentetan kegiatan yang telah berjalan maraton sejak tanggal 9 Mei dan 18 Mei lalu. Ketua Panitia Pelaksana, Agus H. M. Izzuddin, Lc., M. Pd. I, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur dan apresiasi yang mendalam atas antusiasme luar biasa dari para peserta di setiap fasenya.

"Alhamdulillah, kegiatan yang sudah kita laksanakan mendapat respons dan antusiasme hadirin yang begitu luar biasa. Hari ini adalah puncaknya, di mana kita bersama-sama akan mendengarkan dengan seksama pemikiran metodologis dari Mudir Ma'had Aly, Gus Awis, sekaligus menjadi momen berharga dengan di-launching-nya kitab terbaru karya beliau," ujar Agus Izzuddin saat mengawali acara.

Majelis yang penuh berkah ini turut dihadiri oleh deretan tokoh agama dan akademisi terkemuka, di antaranya KH Dr. Nur Salim Asy'ari dari Singosari, Dr. H. Nasaruddin (Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya), KH Muhammad Khadafi (Pengasuh Ponpes Wahid Hasyim II Bangil Pasuruan), Dr. Nasir dari Sidoarjo, serta Dr. Yusuf Suharto (Mudir Ma’had Aly Denanyar). Hadir pula para pengasuh asrama/ribat di lingkungan PP Darul Ulum, para dosen Ma'had Aly, dewan guru, kepala sekolah berbagai unit, hingga ratusan mahasantri dan mahasiswa undangan.

Sebelum melangkah pada agenda utama, seluruh hadirin bersama-sama melantunkan doa yang dipimpin langsung oleh H. M. Musta'in Dzul Azmi, S. Sos., guna memohon kelancaran serta keberkahan atas ilmu yang akan dikaji.


Latar Belakang dan Motif Penulisan Kitab

Memasuki sesi inti yang dipandu oleh Ustadz Khobirul Amru, M. Th. I selaku moderator, Gus Awis secara eksklusif menceritakan bahwa dorongan awal menulis kitab ini lahir dari sebuah tanggapan dan nasihat mendalam yang disampaikan oleh KH Ahmad Zulfa Mustofa sekitar dua tahun silam. Momentum itu terjadi tepat saat peluncuran kitab tafsir karya Gus Awis terdahulu, yakni Hidāyatul Qur'an.

"Ada sedikit tanggapan yang saya dapatkan ketika menyelesaikan tafsir Hidayatul Qur'an, dan itu disampaikan oleh KH. Ahmad Zulfa Mustofa di dalam me-launching kitab tafsir Hidayatul Qur'an sekitar 2 tahun yang lalu. Di dalam tanggapannya, beliau semacam memberi harapan atau arahan untuk menyusun tafsir lain yang sifatnya tidak tekstual," kenang Gus Awis.

Gus Awis mengakui bahwa karya terdahulunya memang bersifat tekstual karena memahami ayat dari ayat. Walau proses awal penafsiran idealnya harus selalu diawali dari tafsir Al-Qur’an bi Al-Qur’an, beliau bersyukur atas nasehat tersebut dan merasa tertantang untuk melangkah lebih jauh. Tidak lama setelah acara tersebut selesai, beliau langsung bergerak cepat mulai menyusun kitab Kunūzur Raḥmān fī Durūs Al-Qur’ān.

"Sebenarnya, berangkatnya dari pernyataan bahwa Al-Qur'an solihun li kulli makanin wa zamanin. Al-Qur'an itu solutif, bisa menjadi solusi, selalu sesuai dalam setiap kondisi," jabarnya.

Bagi Gus Awis, istilah durus (yang berarti pelajaran, arahan, atau petunjuk) memiliki cakupan makna yang jauh lebih luas, longgar, dan adaptif dibanding kata tafsir.

"Beberapa orang lalu menamakannya tafsir kontekstual, ya monggo (silakan) saja," ujar Gus Awis. Namun, yang beliau maksudkan secara substantif melampaui pelabelan itu. Fokus utama dari Durusul Qur'an adalah mengeksplorasi mâ warâ’a al-âyah (apa yang ada di balik ayat) atau mâ fî al-âyah (apa yang terkandung di dalam esensi ayat).

Metodologi ini memosisikan ayat Al-Qur'an bukan sekadar teks masa lalu yang diam, melainkan sebuah instrumen hidup yang mengisyaratkan, menunjukkan, dan memfaktakan realitas modern. 


6 Pilar Durusul Qur'an : Menarik Petunjuk Ayat untuk Masalah Kontemporer 

Di bawah panduan diskusi yang interaktif oleh moderator, Gus Awis membedah langsung cuplikan isi kandungan kitab Kunūzur Raḥmān fī Durūs Al-Qur’ān. Beliau secara tidak langsung, menegaskan bahwa Al-Qur'an tidak boleh dibaca dari ruang hampa, melainkan harus ditarik petunjuknya (durûs) agar mampu merespons problem kontemporer di Indonesia secara kontekstual.

Secara teoretis, Gus Awis menawarkan 6 pilar penting dalam menyimpulkan pelajaran ayat, mulai dari tata urut dan keserasian lafazh, makna lafadz dan gaya bahasa (uslub), konteks ayat (siyâq), hikmah tasyri' dan rahasianya, konteks historis (asbabun nuzul), hingga ketajaman membaca realitas sosial.

Melalui perangkat metodologi tersebut, kitab ini secara berani membedah fenomena digital modern. Salah satunya adalah pembacaan terhadap QS. Fussilat ayat 26, yang dikontekstualisasikan sebagai isyarat cara kerja pasukan siber (cyber troops) atau buzzer politik di dunia maya yang sengaja memproduksi kegaduhan demi menenggelamkan suara kebenaran. Selain itu, kritik sosial tajam juga diarahkan pada tren adu gengsi dan perburuan pengikut (followers/likes) di media sosial melalui pemaknaan QS. At-Takatsur ayat 1, hingga masalah ekologis seperti dampak pertambangan ilegal (nikel dan batu bara) di Indonesia lewat reinterpretasi QS. Al-A'raf ayat 85.


Ikhtiar Melahirkan Kesadaran Kolektif

Kegiatan besar yang diinisiasi oleh Ma'had Aly Darul Ulum sejak tahun lalu ini sejatinya membawa misi besar. Sebagaimana yang dicanangkan oleh pihak manajemen Ma'had Aly sejak awal, output utama dari seluruh rangkaian agenda ilmiah ini bukan sekadar transfer ilmu semata, melainkan lahirnya kesadaran kolektif agar keluhuran Al-Qur'an berdampak langsung pada perilaku positif dalam kehidupan sehari-hari, meniru masa kejayaan Islam tempo dulu.

Rangkaian acara puncak yang berlangsung penuh khidmat dari awal hingga akhir ini berjalan sukses dan interaktif, sekaligus menandai berakhirnya seluruh rangkaian agenda Bulan Kajian Ulumul Qur'an Nusantara tahun ini dengan penuh keberkahan.


Naily Syarofah Maulidiyah, Semester VI

Ma'had Aly Darul Ulum Jombang

Berikan Komentar
Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin

LINK TERKAIT