Ma'had Aly Darul Ulum Jombang Sukses Gelar Muhadharah Ammah dan Penganugerahan Ijazah Sanad Tafsir Jalalain Bersama Ulama Mesir

Mulai dari kajian di serambi masjid, kurikulum dasar di pondok pesantren, literatur wajib di perguruan tinggi Islam ternama, hingga menjadi standar materi dalam berbagai ajang musabaqah (perlombaan) dan konferensi internasional. Bahkan, kitab ini telah menjadi "penghuni tetap" di lemari-lemari perpustakaan pribadi keluarga Muslim yang memiliki kepedulian terhadap ilmu agama. Kepraktisannya, ketebalannya yang proporsional, namun dengan bobot keilmuan yang tak tertandingi,

Pada hari Ahad, 18 Oktober 2026, suasana penuh khidmat menyelimuti Kantor Pusat Lantai 2 Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang. Ma'had Aly Darul Ulum Jombang secara resmi dan sukses menyelenggarakan acara majelis keilmuan besar bertajuk Muhadharah Ammah. Acara yang didedikasikan untuk para mahasantri dan segenap civitas akademika ini mengangkat tema sentral yang sangat krusial dalam tradisi keilmuan Islam, yakni "Menjaga Keaslian Metodologi dan Penganugerahan Ijazah Sanad Tafsir Jalalain".


Acara yang disusun secara rapi dan terstruktur ini dipandu langsung oleh dua pembawa acara, yakni Saudara Muhammad Wajdi An-Najih dan Muhammad Zen Wildan. Majelis ini dibuka dengan lantunan puji syukur yang mendalam ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta'ala atas limpahan nikmat iman, Islam, serta kesehatan, yang disempurnakan dengan pembacaan surah Al-Fatihah agar seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan penuh keberkahan.

Susunan Lengkap Rangkaian Acara

Sebagai bentuk dokumentasi yang utuh atas berjalannya majelis mulia ini, berikut adalah susunan acara secara keseluruhan yang dilaksanakan pada hari tersebut:


  • Pertama, Pembukaan (Al-Iftitah) yang dipandu secara khidmat oleh pembawa acara.

  • Kedua, Pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an (Tilawah) yang dilantunkan secara merdu oleh Saudara Ahmad Syafi'ul Husna, mahasantri dari tingkat atau semester ketiga.

  • Ketiga, Sambutan dan arahan keilmuan dari Mudir Ma'had Aly Darul Ulum Jombang, Dr. H. Muhammad Afifuddin Dimyathi Lc., MA..

  • Keempat, Sambutan kehormatan dari Majelis Pimpinan Pondok Pesantren Darul Ulum, yang disampaikan oleh K.H. Cholil Dahlan dan Do’a dari KH. Hamid Bishri, S.E., M.Si.

  • Kelima, Persembahan lantunan qashidah tarhibiyyah (qashidah penyambutan) yang secara khusus dilantunkan untuk menghormati dan memuliakan tamu kehormatan yang hadir.

  • Keenam, Acara inti (Al-Faqratu ar-Raisiyyah), yang memuat penyampaian Muhadharah Ammah sekaligus prosesi sakral penganugerahan ijazah sanad untuk kitab Tafsir Jalalain.

  • Ketujuh, Penutup acara yang dirangkai dengan sesi foto bersama (Jalsatut Tashwirit Tidzkari) sebagai bentuk kenang-kenangan silaturahmi.

Lantunan Tilawah dan Pesan Mendalam Penjagaan Sanad Keilmuan

Memasuki acara kedua, keheningan dan kekhusyukan hadirin diisi dengan lantunan ayat suci Al-Qur'an oleh Ahmad Syafi'ul Husna. Ia membacakan Surat Fathir ayat 29 hingga 32 dengan sangat fasih. Ayat-ayat yang dibacakan tersebut menyinggung secara mendalam tentang keutamaan orang-orang yang senantiasa membaca Kitabullah, mendirikan shalat, serta menafkahkan sebagian rezeki mereka secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Ayat ini menjadi pengingat bahwa amal-amal tersebut merupakan perniagaan abadi yang tidak akan pernah merugi. Pembacaan Al-Qur'an ini diakhiri dengan harapan agar untaian ayat tersebut menjadi cahaya penyejuk di dalam hati seluruh hadirin.


Momen krusial lainnya adalah sambutan dari Rais Ma'had Pondok Pesantren Darul Ulum, K.H. Cholil Dahlan. Dalam pidatonya, beliau menyambut dengan penuh rasa syukur dan hormat atas kehadiran tamu agung, seorang ulama terkemuka dari bumi Mesir yang penuh keberkahan, yakni Fadhilatus Syeikh Dr. As-Said Muhammad Ali. K.H. Cholil Dahlan memberikan penekanan yang sangat kuat mengenai pentingnya menjaga sanad ilmu di dalam tradisi pesantren.


Beliau mengutip pernyataan masyhur dari tokoh sufi dan ahli hadis, Al-Imam Abdullah bin Mubarak, yang menegaskan bahwa sanad adalah bagian yang tidak terpisahkan dari agama itu sendiri. Diingatkan bahwa apabila tidak ada sistem sanad yang ketat, niscaya siapa pun akan dengan bebas dan sembarangan berbicara tentang urusan agama. K.H. Cholil Dahlan menegaskan bahwa umat Islam adalah satu-satunya umat yang diberi kekhususan dan kemuliaan oleh Allah dalam menjaga tradisi rantai sanad ini. Rantai transmisi keilmuan ini dijaga secara bersambung dari ulama ke ulama, membentang panjang melintasi generasi hingga bermuara kepada Rasulullah Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam.

Puncak Acara: Ijazah Tafsir Jalalain dan Doa Penutup

Pusat dari keseluruhan kegiatan ini berada pada kehadiran Syekh Dr. Said Muhammad Ali, yang memberikan Muhadharah Ammah (Kuliah Umum) di hadapan para penuntut ilmu. Fokus utama dari acara ini adalah prosesi pemberian ijazah sanad untuk Tafsir Al-Jalalain, sebuah karya tafsir legendaris yang disusun secara kolaboratif oleh dua imam besar: Imam Jalaluddin Muhammad bin Ahmad Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin Abdurrahman bin Abu Bakar As-Suyuthi. Tafsir ini diakui secara luas oleh umat Islam di seluruh dunia dan telah menjadi rujukan standar.


Tujuan utama dari penganugerahan sanad ini adalah untuk memastikan para mahasantri mengerti dan mempraktikkan metodologi yang tepat dalam berinteraksi dengan teks-teks tafsir, sehingga mereka tidak menyelewengkan makna dan menjaga kemurnian keilmuan dalam menelaah Al-Qur'an. Pihak penyelenggara juga menggarisbawahi urgensi pemeliharaan kaidah tata bahasa, i'rab, serta analisis makna esensial dalam membaca kitab tersebut dengan ketelitian tingkat tinggi.


Acara yang sarat akan bobot keilmuan dan hikmah ini akhirnya ditutup dengan doa bersama. Doa penutup yang khusyuk ini dipimpin oleh K.H. Muhammad Hamid Bisri, SE., M.Si.. Dalam doanya, dipanjatkan permohonan agar Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa melimpahkan rahmat-Nya melalui Al-Qur'an, memberikan kebaikan di dunia maupun di akhirat bagi para santri, serta menjaga Ma'had Aly Darul Ulum agar senantiasa menjadi mercusuar ilmu dan keimanan yang mencetak ulama-ulama saleh. Seluruh rangkaian kegiatan bersejarah ini kemudian diparipurnakan dengan sesi ramah tamah dan pengambilan foto bersama para kiai, ulama, dan mahasantri.


Pemaparan materi dan kuliah umum ini diselenggarakan dengan penuh kekhidmatan, menghadirkan sebuah kajian keilmuan yang sangat mendalam dan komprehensif. Acara ini menjadi sebuah majelis yang sangat istimewa karena kehadiran tamu kehormatan dan pemateri utama dari institusi pendidikan Islam tertua dan paling termasyhur di dunia, Al-Azhar, Mesir, yaitu Syekh Maulana Dr. As-Said Muhammad Ali. Kehadiran beliau membawa pancaran ilmu dan keberkahan yang luar biasa bagi seluruh hadirin yang menuntut ilmu di majelis tersebut.


Muqaddimah dan Pembukaan yang Penuh Keberkahan

Pemaparan materi oleh Syekh Maulana Dr. As-Said Muhammad Ali diawali dengan muqaddimah yang sangat indah, syahdu, dan penuh dengan rasa syukur yang mendalam kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Beliau membuka khotbahnya dengan memuji Allah Yang Maha Berilmu dan Maha Bijaksana, Dzat yang telah menurunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk dan memancarkan cahaya ilmu ke dalam akal pikiran manusia, serta menyingkap rahasia-rahasia hikmah yang tersembunyi di alam semesta. Beliau mengawali majelis dengan untaian kalimat tahmid dan syahadat yang agung sebagai landasan dari segala bentuk kebaikan:


الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

Terjemahan: "Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Yang mengajar (manusia) dengan pena, mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya."


Penghormatan kepada Para Ulama dan Tuan Rumah

Setelah memanjatkan puji syukur kepada Allah dan selawat serta salam kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, Syekh Maulana Dr. As-Said Muhammad Ali memberikan penghormatan yang setinggi-tingginya kepada para ulama, kiai, dan masyayikh yang hadir. Secara khusus dan dengan penuh rasa tawadhu, penghormatan ini ditujukan kepada Kiai Haji Khalil Dahlan selaku Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum, serta Dr. Kiai Haji Afifuddin Dimyati selaku Direktur Ma'had Aly Darul Ulum. Tidak luput pula, penghormatan disampaikan kepada segenap jajaran asatidz, ustazah, para tamu undangan, serta seluruh santri dan maha santri yang hadir. Beliau memohon kepada Allah agar senantiasa memberikan futuh (terbukanya pintu pemahaman ilmu), kelapangan hati, dan kebermanfaatan yang abadi bagi semua yang berpartisipasi dalam majelis tersebut.


Urgensi Menghidupkan Turats dan Menjaga Keaslian Manhaj

Tema sentral dan tajuk utama yang diangkat dalam majelis keilmuan ini adalah "Ihya'ut Turats wa Ashalatul Manhaj: Majlis Mudarosati Tafsiril Imamain Al-Jalalain wa Ijazatis Sanad" (Menghidupkan Warisan Intelektual dan Menjaga Keaslian Metodologi melalui Kajian Tafsir Dua Imam Jalaluddin dan Ijazah Sanad).


Pemilihan tema ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan memiliki makna filosofis dan historis yang sangat esensial. Syekh Maulana Dr. As-Said Muhammad Ali menjelaskan secara panjang lebar bahwa kitab Tafsir Jalalain—meskipun memiliki ukuran fisik yang relatif tipis dan ringkas dibandingkan kitab tafsir lainnya—telah mendapatkan Qabul (penerimaan agung yang bersumber dari rida Allah) dari seluruh umat Islam di berbagai penjuru dunia dari generasi ke generasi. Majelis ini juga diselenggarakan bertepatan dengan momen yang sangat bersejarah dan mengharukan. Mengingat kembali sejarah yang tercatat, salah satu dari pengarang kitab ini, yakni Imam Jalaluddin As-Suyuthi, wafat pada tanggal 17 Oktober 1505. Hal ini berarti penyelenggaraan acara kajian tafsir dan ijazah sanad ini secara tidak langsung merupakan momen peringatan haul (peringatan wafatnya) Imam As-Suyuthi. Ini adalah sebuah anugerah waktu yang sangat indah, di mana majelis penyambung sanad keilmuan ini seolah-olah mempertemukan ruh keilmuan masa kini dengan sang mualif (pengarang) secara langsung.


Kaidah Emas tentang Sejarah dan Masa Depan

Untuk memberikan penekanan yang kuat mengenai betapa pentingnya mempelajari kitab-kitab peninggalan ulama terdahulu (Turats) tanpa mengubah esensinya, Syekh Maulana Dr. As-Said Muhammad Ali mengutip sebuah kaidah emas atau pepatah Arab yang sangat masyhur di kalangan akademisi dan ulama. Kaidah ini menyadarkan kita bahwa warisan masa lalu adalah fondasi paling mutlak yang diperlukan untuk membangun dan merancang peradaban masa depan yang kokoh.


مَنْ لَا مَاضِيَ لَهُ لَا مُسْتَقْبَلَ لَهُ

Terjemahan: "Barang siapa yang tidak memiliki masa lalu, maka dia tidak memiliki masa depan."


Beliau menjabarkan bahwa karya Tafsir Jalalain adalah representasi nyata dari metodologi pemikiran yang murni, jernih, dan otentik seratus persen dari para salafus shalih. Oleh karena itu, Tafsir Jalalain menjadi pilar keilmuan yang tidak boleh diabaikan begitu saja. Untuk bisa benar-benar menyerap ilmunya, dibutuhkan forum-forum diskusi ilmiah (mudzakarah), dedikasi, serta pembelajaran yang intensif. Beliau mengingatkan bahwa jika generasi masa kini memutuskan rantai keilmuannya dari warisan para ulama terdahulu, maka generasi tersebut akan kehilangan kompas dan orientasi dalam menghadapi problematika di masa depan.


Karakteristik Mutlak dan Keistimewaan Tafsir Jalalain

Syekh Maulana Dr. As-Said Muhammad Ali kemudian membedah secara menyeluruh dan mendetail mengenai alasan mengapa Tafsir Jalalain (yang digagas pertama kali oleh Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan disempurnakan oleh Imam Jalaluddin As-Suyuthi) menempati posisi yang sangat istimewa di hati umat Islam. Beliau membandingkan popularitas Tafsir Jalalain dengan karya monumental Imam As-Suyuthi lainnya, yaitu Ad-Durr Al-Manthur fi At-Tafsir bil Ma'thur, yang ukurannya sangat tebal dan berjilid-jilid. Ajaibnya, kitab yang tipis (Jalalain) justru jauh lebih merakyat dan diajarkan di mana-mana.


Hal ini disebabkan oleh kepadatan makna tingkat tinggi dan metode penyusunan kata demi kata yang sangat brilian. Kalimatnya memang ringkas, namun dibutuhkan ulama spesialis yang memiliki ketajaman intelektual untuk membongkar lautan makna di baliknya. Keistimewaan tafsir ini sangat universal karena bahasanya bisa dinikmati oleh masyarakat awam yang ingin sekadar tahu arti ayat, namun juga menyimpan kedalaman gramatikal yang menantang bagi para ulama.


Kekuatan utama Tafsir Jalalain yang diuraikan oleh beliau meliputi:


  1. Kekuatan I'rab (Tata Bahasa Arab yang Presisi): Imam Jalalain tidak sembarangan memilih kata. Mereka menyertakan uraian i'rab yang sangat akurat di sela-sela penafsiran. Hal ini sangat penting untuk menjaga para mufassir dan pembaca dari kesalahan fatal dalam memaknai struktur kalimat Al-Qur'an.

  2. Penggunaan Qira'at Mutawatirah: Tafsir ini tidak hanya berhenti pada penjelasan makna literal. Di banyak tempat, Imam Jalalain menyoroti berbagai jenis qira'at (bacaan) yang mutawatir (sah dan bersanad kuat). Perbedaan qira'at ini disajikan sedemikian rupa untuk memperlihatkan betapa luasnya spektrum makna Al-Qur'an dari sudut pandang pelafalan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

  3. Kombinasi Fikih dan Akidah: Di balik kalimat-kalimat tafsirnya yang singkat, tafsir ini sukses mengintegrasikan kaidah-kaidah syariat (hukum fikih) dan fondasi tauhid (akidah) secara harmonis. Pembaca tidak hanya mengerti terjemahan, tetapi otomatis tertanam nilai hukum dan akidah tauhid.


Dalil-Dalil Al-Qur'an sebagai Bukti Kedalaman Analisis Tafsir

Untuk memperkuat argumennya tentang kehebatan Tafsir Jalalain, Syekh Maulana Dr. As-Said Muhammad Ali memaparkan sejumlah studi kasus langsung dari ayat-ayat Al-Qur'an. Beliau membuktikan bagaimana kalimat ringkas dalam kitab tersebut menyimpan samudera ilmu.


1. Kisah Turunnya Wahyu Pertama dan Hakikat Ilmu

Beliau membahas tafsir dari surah pertama yang diturunkan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Dalam tafsirnya, ayat ini tidak hanya dimaknai sebagai perintah membaca secara fisik, tetapi dihubungkan secara indah dengan sejarah diturunkannya ilmu kepada manusia pertama, yakni Nabi Adam AS.


اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

Terjemahan: "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan." (QS. Al-'Alaq: 1)


2. Seruan Sikap Lemah Lembut yang Menjadi Pusat Al-Qur'an

Syekh Maulana Dr. As-Said Muhammad Ali juga mengajak hadirin untuk menelaah sebuah kata yang posisinya persis berada di jantung atau di tengah-tengah mushaf Al-Qur'an, yakni dalam Surah Al-Kahfi. Beliau mengurai bagaimana Imam Jalalain memberikan catatan yang sangat tegas namun singkat mengenai pentingnya sikap tadarru dan kehati-hatian dalam berdakwah maupun bersosialisasi.


وَلْيَتَلَطَّفْ

Terjemahan: "Dan hendaklah dia berlaku lemah lembut." (QS. Al-Kahfi: 19)


3. Ketegasan Ancaman bagi Para Pengingkar Kebenaran

Sebagai penyeimbang, beliau juga mencontohkan bagaimana Imam Jalalain menafsirkan ayat-ayat yang berisi peringatan atau ancaman ('azab) dari Allah, seperti yang terdapat dalam Surah Maryam. Analisis tata bahasanya menunjukkan kepastian mutlak akan balasan bagi mereka yang menentang kebenaran.


كَلَّا ۚ سَنَكْتُبُ مَا يَقُولُ وَنَمُدُّ لَهُ مِنَ الْعَذَابِ مَدًّا

Terjemahan: "Sekali-kali tidak! Kami akan menulis apa yang dia katakan dan Kami akan memperpanjang azab untuknya secara sempurna." (QS. Maryam: 79)


Beliau menegaskan bahwa untuk menjabarkan seluruh makna tersirat dari ketiga contoh di atas, seorang penuntut ilmu mutlak memerlukan bimbingan dari Jam'ul Ghafir minal Ulama (kumpulan para ulama besar) yang otoritatif.


Penerimaan Global (Qabul) di Seluruh Lini Pendidikan Islam

Pada bagian akhir dari pemaparan materi yang sangat mencerahkan ini, Syekh Maulana Dr. As-Said Muhammad Ali menjelaskan dengan penuh rasa takjub mengenai ekspansi dan pengaruh Tafsir Jalalain yang menembus batas ruang dan waktu. Kitab ini tidak sekadar dibaca, melainkan telah menjadi rujukan mutlak dan kurikulum wajib di hampir seluruh tingkat pendidikan Islam di seluruh dunia.


Mulai dari kajian di serambi masjid, kurikulum dasar di pondok pesantren, literatur wajib di perguruan tinggi Islam ternama, hingga menjadi standar materi dalam berbagai ajang musabaqah (perlombaan) dan konferensi internasional. Bahkan, kitab ini telah menjadi "penghuni tetap" di lemari-lemari perpustakaan pribadi keluarga Muslim yang memiliki kepedulian terhadap ilmu agama. Kepraktisannya, ketebalannya yang proporsional, namun dengan bobot keilmuan yang tak tertandingi, menjadikan Tafsir Jalalain sebagai mahkota literatur tafsir yang menjembatani umat manusia dengan pesan-pesan kalam Ilahi yang agung. Hal ini membuktikan bahwa kitab ini ditulis dengan keikhlasan tingkat tinggi oleh kedua pengarangnya, sehingga Allah memberikan Qabul (penerimaan) yang abadi di muka bumi.



Yusuf Hidayatulloh

Kepala IT & Media, PJ Perpustakaan

Ma’had Aly Darul Ulum Jombang

Berikan Komentar
Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin

LINK TERKAIT