Pondok Pesantren Darul Ulum, Rejoso Peterongan Jombang kembali menjadi tempat istimewa dalam geliat akademik keislaman nasional. Kali ini, lembaga tinggi pesantren ini menerima kunjungan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) dari mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT), Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, UIN Walisongo Semarang.
Dokumentasi
Jombang, 21 April 2025 — Pondok Pesantren Darul Ulum, Rejoso Peterongan Jombang kembali menjadi tempat istimewa dalam geliat akademik keislaman nasional. Kali ini, lembaga tinggi pesantren ini menerima kunjungan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) dari mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT), Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, UIN Walisongo Semarang.
Kegiatan yang dilaksanakan di Ribath Hidayatul Qur’an ini menghadirkan suasana akademik yang hangat dan penuh semangat. Ribath tersebut merupakan lembaga pendidikan Al-Qur’an yang berada di bawah asuhan langsung Dr. KH. Muhammad Afifuddin Dimyathi, Lc, MA (Gus Awis), sekaligus Mudir Ma’had Aly Darul Ulum. Beliau juga dikenal luas sebagai penulis karya monumental Tafsir Hidayatul Qur’an, salah satu referensi penting dalam kajian tafsir tematik dan kontekstual di Indonesia.
Dengan mengusung tema “Tafsir Hidayatul Qur’an: Latar Belakang, Metode, dan Paradigma Penafsiran”, kegiatan ini menghadirkan pemaparan langsung dari Gus Awis mengenai proses kreatif dan metodologis penulisan karya tafsirnya. Tidak hanya itu, beliau juga menyampaikan kisah inspiratif di balik penamaan Tafsir Hidayatul Qur’an, yang merupakan bentuk tabarukan kepada KH. Muhammad Mufid Mas’ud, pendiri Pondok Pesantren Sunan Pandanaran Sleman.
Dalam penyampaiannya, Gus Awis juga menyinggung semangat besar yang melandasi karya tafsir tersebut, yakni tagline “Merawat Jagat, Membangun Peradaban”—sebuah semangat yang juga digaungkan oleh KH. Yahya Cholil Tsaquf dan keluarga besar PBNU. “Tagline inilah yang memantapkan cita-cita saya dalam menulis tafsir. Cita-cita yang telah hidup sejak tahun 1994, saat saya menulis kitab pertama saya, At-Tafsir Ad Dimyathi,” ungkapnya.
Sesi dilanjutkan dengan tanya jawab interaktif, di mana para mahasiswa dengan penuh antusiasme menggali lebih dalam terkait tantangan penulisan dan prinsip-prinsip penafsiran dalam Tafsir Hidayatul Qur’an. Salah satu poin menarik adalah sikap kehati-hatian sang muallif dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an—jika tidak ditemukan korelasi antar ayat, maka ayat tersebut tidak ditafsirkan, melainkan dicantumkan secara utuh. Pendekatan ini memperlihatkan konsistensi Gus Awis dalam mengedepankan model Tafsir al-Qur’an bi al-Qur’an yang ketat dan bertanggung jawab.
Acara ditutup dengan do’a oleh KH. Muhammad Afifuddin Dimyathi, diiringi suasana penuh khidmat. Kegiatan KKL ini diharapkan mampu menambah wawasan, memperkuat sikap ilmiah, serta memupuk semangat tawadhu’ para mahasiswa dalam perjalanan intelektual mereka.
Tim Media Ma'had Aly Darul Ulum Jombang