QS. Al-Baqarah: 285 mengajarkan bahwa iman yang sempurna harus diwujudkan dalam sikap mendengar dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Dalam Tafsir Hidayatul Qur’an, KH. Afifuddin Dimyathi menegaskan bahwa sami’na wa ata’na merupakan wasilah utama menuju ampunan Allah. Tanpa mendengar dan taat, permohonan ampun akan kehilangan maknanya.
Dokumentasi
Al-Qur'an merupakan pedoman hidup bagi manusia yang memuat ajaran keimanan, ketaatan, serta tuntunan akhlak dalam menjalani kehidupan. Salah satu prinsip penting dalam membangun hubungan antara hamba dan Allah adalah sikap mendengar dan taat (sami’na wa ata’na). Prinsip ini menjadi penegasan bahwa keimanan sejati tidak berhenti pada pengakuan lisan, tetapi diwujudkan melalui kepatuhan terhadap perintah dan larangan Allah.
Dalam Tafsir Hidayatul Qur'an karya KH. Afifuddin Dimyathi, QS. Al-Baqarah ayat 285 dipahami sebagai puncak pengakuan iman seorang mukmin. Ayat ini menggambarkan sikap ideal orang beriman yang menerima seluruh ajaran Allah dan Rasul-Nya tanpa penolakan, serta menjadikan ketaatan sebagai jalan menuju ampunan Allah.
آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِ ۚ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
“Rasul telah beriman kepada Al-Qur'an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. Mereka mengatakan: 'Kami dengar dan kami taat.' Ampunan-Mu ya Tuhan kami, dan kepada-Mulah tempat kembali.”
Ayat ini menegaskan kesatuan iman antara Rasulullah dan orang-orang beriman, serta sikap tunduk sepenuhnya terhadap wahyu Allah. Ungkapan sami’na wa ata’na mencerminkan kepasrahan total seorang mukmin yang mendengar perintah Allah dengan penuh kesadaran dan melaksanakannya dengan ketaatan.
Dalam penjelasan KH. Afifuddin Dimyathi, beliau menegaskan bahwa sami’na wa ata’na adalah wasilah (perantara) menuju ampunan Allah. Beliau menyampaikan bahwa permohonan ampun kepada Allah tidak akan bermakna jika tidak didahului oleh sikap mendengar dan taat. Jika sama’ dan taat tidak ada, maka ampunan Allah akan terasa jauh. Dengan demikian, iman, ketaatan, dan ampunan merupakan satu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan.
Dalam Tafsir Hidayatul Qur'an, KH. Afifuddin Dimyathi menegaskan bahwa ketaatan tidak lahir secara tiba-tiba, melainkan melalui proses spiritual yang dimulai dari kesungguhan dalam mendengar (sama’). Mendengar di sini bukan sekadar mendengar secara inderawi, tetapi mendengar dengan hati yang siap menerima kebenaran dan tunduk pada perintah Allah.
Sikap sami’na menuntut kehadiran hati, kesadaran iman, serta kerelaan untuk membiarkan wahyu Allah membimbing pikiran dan tindakan. Dari sikap inilah tumbuh ata’na, yaitu ketaatan yang lahir bukan karena paksaan, melainkan karena keyakinan dan cinta kepada Allah. Tanpa kesungguhan dalam mendengar, ketaatan hanya akan menjadi formalitas, dan permohonan ampun tidak akan memiliki kekuatan spiritual yang mendalam.
KH. Afifuddin Dimyathi juga menekankan bahwa ketaatan adalah buah dari iman yang terus dipelihara. Semakin seseorang membiasakan diri mendengar ayat-ayat Allah dengan tadabbur dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, semakin dekat pula ia pada sikap sami’na wa ata’na yang sejati. Dari sinilah permohonan (ghufranaka rabbana) menemukan jalannya menuju penerimaan Allah.
Dengan demikian, ketaatan dicapai melalui kesungguhan mendengar, kesediaan menaati, dan kerendahan hati untuk selalu kembali memohon ampun kepada Allah. Inilah rangkaian spiritual yang membentuk seorang mukmin agar selalu berada dalam jalan iman, taat, dan ampunan.
Permohonan (ghufranaka rabbana) yang diucapkan setelah sami’na wa ata’na menunjukkan bahwa ampunan Allah sangat berkaitan erat dengan sikap taat seorang hamba. Dalam pandangan KH. Afifuddin Dimyathi, seseorang yang benar-benar taat akan senantiasa merasa membutuhkan ampunan Allah, karena semakin taat seseorang, semakin ia menyadari keterbatasan dirinya di hadapan kesempurnaan perintah Allah.
Sikap ini juga membentuk kepribadian mukmin yang rendah hati, tidak merasa paling benar, dan selalu membuka ruang untuk evaluasi diri. Ketaatan yang demikian akan melahirkan ketenangan batin, karena hidup dijalani berdasarkan tuntunan wahyu, bukan semata-mata hawa nafsu.
QS. Al-Baqarah: 285 mengajarkan bahwa iman yang sempurna harus diwujudkan dalam sikap mendengar dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Dalam Tafsir Hidayatul Qur’an, KH. Afifuddin Dimyathi menegaskan bahwa sami’na wa ata’na merupakan wasilah utama menuju ampunan Allah. Tanpa mendengar dan taat, permohonan ampun akan kehilangan maknanya.
Melalui kesungguhan dalam mendengar wahyu Allah, ketaatan akan tumbuh secara alami, dan dari ketaatan itulah seorang mukmin semakin dekat dengan ampunan dan rahmat Allah. Dengan demikian, sami’na wa ata’na bukan sekadar ucapan, tetapi jalan hidup seorang mukmin dalam menggapai ridha dan ampunan Allah.
Ayat ini mengajarkan bahwa kedekatan seorang hamba dengan Allah tidak diukur dari banyaknya permohonan ampun semata, tetapi dari kesungguhan dalam menjalani ketaatan. Dengan mendengar dan taat, seorang mukmin tidak hanya meneguhkan imannya, tetapi juga membuka jalan menuju ampunan dan kebahagiaan akhirat.
Nurul Saniyah
Mahasantri Semester 7
Ma'had Aly Darul Ulum Jombang