Melalui penjelasan ini, KH. Afifuddin Dimyathi mengingatkan bahwa hubungan antarmanusia seharusnya bermuara kepada Allah. Dengan doa, kebaikan tetap terjaga nilainya sebagai ibadah, dan balasannya diserahkan sepenuhnya kepada Zat Yang Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.
Dokumentasi
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering berhadapan dengan kebaikan orang lain yang sulit dibalas secara setimpal. Ada kebaikan yang terlalu besar untuk diukur dengan materi, dan ada pertolongan yang tidak mungkin dibayar dengan apa pun selain rasa syukur.
Al-Qur’an mengajarkan bahwa kebaikan tidak selalu menuntut balasan langsung dari manusia. Allah berfirman:
﴿ إِنَّ ٱلصَّفَا وَٱلۡمَرۡوَةَ مِن شَعَاۤىِٕرِ ٱللَّهِۖ فَمَنۡ حَجَّ ٱلۡبَیۡتَ أَوِ ٱعۡتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَیۡهِ أَن یَطَّوَّفَ بِهِمَاۚ وَمَن تَطَوَّعَ خَیۡرࣰا فَإِنَّ ٱللَّهَ شَاكِرٌ عَلِیمٌ ﴾
Artinya: Sesungguhnya Safa dan Marwa merupakan sebagian syi'ar (agama) Allah.Maka barangsiapa beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i antara keduanya. Dan barangsiapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka Allah Maha Mensyukuri, Maha Mengetahui.(QS. Al-Baqarah: 158)
Dalam Tafsir Hidayatul Qur’an, KH. Afifuddin Dimyathi menjelaskan bahwa Shafa dan Marwah merupakan bagian dari syi’ar Allah, yaitu tanda-tanda agama yang disyariatkan sebagai bentuk ketaatan hamba. Sa’i di antara keduanya bukan sekadar gerakan ritual, tetapi wujud kepatuhan terhadap perintah Allah.
Beliau menegaskan bahwa ungkapan “tidak ada dosa baginya” dalam ayat tersebut bukan bermakna kebolehan semata, melainkan penegasan kewajiban sa’i sekaligus penghilangan keraguan yang pernah muncul di tengah masyarakat. Dengan demikian, sa’i dipahami sebagai ibadah yang memiliki kedudukan penting dalam rangkaian haji dan umrah.
Penutup ayat ini mengandung pesan yang sangat mendalam. Allah menyebut diri-Nya sebagai Syākir dan ‘Alim. Sifat Syakir menunjukkan bahwa Allah menghargai setiap kebaikan hamba-Nya dan membalasnya dengan pahala yang berlipat, meskipun amal itu tampak kecil. Sementara sifat ‘Alim menegaskan bahwa Allah Maha Mengetahui segala perbuatan hamba-Nya, sehingga tidak ada satu pun amal yang disia-siakan atau dikurangi balasannya.
Dari pemahaman inilah KH. Afifuddin Dimyathi menegaskan satu sikap penting dalam relasi sosial, yaitu membalas kebaikan dengan doa. Menurut beliau, orang yang berbuat baik sejatinya tidak menunggu balasan duniawi. Ia tidak berharap pujian, apalagi imbalan materi. Yang ia harapkan adalah ridha Allah.
Doa menjadi balasan yang paling tulus karena langsung menghubungkan kebaikan tersebut kepada Allah. Dengan doa, kebaikan tidak berhenti pada hubungan antarmanusia, tetapi berlanjut sebagai hubungan spiritual. Kebaikan pun tidak habis dalam satu peristiwa, melainkan terus hidup dan berkembang.
Lebih dari itu, doa juga memurnikan niat. Ketika seseorang membalas kebaikan dengan doa, ia terhindar dari logika transaksional: aku memberi, kamu membalas. Ia sadar bahwa manusia hanyalah perantara, sedangkan Allah-lah pembalas sejati.
Prinsip ini sejalan dengan firman Allah:
﴿ إِنَّ ٱللَّهَ لَا یَظۡلِمُ مِثۡقَالَ ذَرَّةࣲۖ وَإِن تَكُ حَسَنَةࣰ یُضَـٰعِفۡهَا وَیُؤۡتِ مِن لَّدُنۡهُ أَجۡرًا عَظِیمࣰا ﴾
Artinya: Sungguh, Allah tidak akan menzalimi seseorang walaupun sebesar żarrah, dan jika ada kebajikan (sekecil żarrah), niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan pahala yang besar dari sisi-Nya. (QS. An-Nisa’: 40)
Ayat ini menegaskan bahwa Allah tidak pernah menyia-nyiakan kebaikan. Bahkan, Dia melipatgandakan balasan bagi hamba-Nya. Karena itu, membalas kebaikan dengan doa bukanlah tanda ketidakmampuan, melainkan bentuk kesadaran iman yang matang.
Melalui penjelasan ini, KH. Afifuddin Dimyathi mengingatkan bahwa hubungan antarmanusia seharusnya bermuara kepada Allah. Dengan doa, kebaikan tetap terjaga nilainya sebagai ibadah, dan balasannya diserahkan sepenuhnya kepada Zat Yang Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.
Nadia Zulfa
Mahasantri Ma’had Aly Semester 7