Memperingati Hari Bumi: Belajar dari Syekh al-Sya‘rawi

Tentu penjelasan ringkas al-Sya‘rawi ini memerlukan catatan kaki-catatan kaki lebih lanjut. Kutipan di atas semakin mengundang banyak pertanyaan seperti bagaimanakah petunjuk-petunjuk al-Qur’an dan sunnah Nabi tentang tugas manusia sehubungan dengan alam semesta, atau dalam konteks keindonesiaan, bumi pertiwi? Bagaimanakah sikap ideal yang bisa kita lakukan dalam memperingati hari bumi ini? Bagaimana sejatinya tuntunan ilahi perihal tugas kita yang di satu sisi “melestarikan” dan di sisi lain “m

Dokumentasi


Khobirul Amru

Dosen Ma'had Aly Darul Ulum Jombang



Pendahuluan

Hari ini, 22 April, semesta memperingati hari bumi. Tujuannya satu, yakni menekankan tentang pentingnya melestarikan keindahan alam, melindungi keseimbangan ekosistem lingkungan, dan melawan segala bentuk tindakan yang berakibat buruk pada keteraturan alam. Tentu saja peringatan hari bumi ini tidak sekadar ritual tahunan belaka yang dirayakan melalui upacara-upacara seremonial tanpa adanya tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Dengan peringatan ini, seluruh penduduk bumi, baik muslim atau non muslim, rakyat jelata atau penguasa, pengajar atau pelajar, bahu-membahu mengencangkan komitmen untuk terus aktif dalam upaya melestarikan alam sekaligus membenahi kerusakan-kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh tangan-tangan jahat.

Pada konteks inilah artikel sederhana ini ditulis. Melalui artikel ini, saya mengajak pembaca—lebih-lebih yang muslim—untuk merenungkan kembali ayat-ayat bumi yang tersebar di berbagai surah dalam al-Qur’an. Namun alih-alih bersikap seolah sebagai mufasir, kali ini saya mengundang Syekh al-Sya‘rawi untuk membantu kita memahami ayat-ayat bumi itu. Pembacaan dan perenungan ini penting, sebab hanya dengan cara demikianlah petunjuk-petunjuk Allah yang tersimpan dalam ayat-ayat bumi itu dapat tersingkap jelas. Pembacaan saja, tanpa disertai dengan perenungan, tidaklah cukup.

Syekh al-Sya‘rawi sendiri ialah seorang mufasir kenamaan asal Mesir yang lahir pada 15 April 1910 M di desa Daqadus kota Mit Ghamr Provinsi Daqahliyah. Ia meninggal dunia pada hari Rabu, 23 Safar 1419 bertepatan dengan 17 Juni 1998. Selama hidupnya, Syekh al-Sya‘rawi dikenal luas sebagai juru dakwah handal, bahkan kerap disanjung dengan sebutan Imam al-Du‘ah (Pemimpin Para Dai). Karya tafsirnya yang dipublikasikan dengan judul Tafsir al-Sya‘rawi atau Khawathir al-Syekh Muhammad Mutawalli al-Sya‘rawi adalah hasil dokumentasi tertulis dari kajian-kajian tafsir yang disampaikan oleh Syekh al-Sya‘rawi secara verbal kepada para murid dan pecintanya. Meskipun dokumentasi tersebut tidak dilakukannya sendiri melainkan oleh para pecintanya, tetapi penerbitannya atas restu/izin Syekh al-Sya‘rawi. Bahkan selain mengoreksi, ia berksempatan menulis kata pengantar untuk karya tafsir yang enggan ia sebut sebagai tafsir itu. Penafsiran-penafsiran dalam karya itulah yang menjadi sumber utama artikel sederhana ini.


Alam Semesta: Keteraturan yang Indah dan Para Perusaknya

Mula-mula Syekh al-Sya‘rawi menggarisbawahi bahwa alam semesta ini diciptakan oleh Allah SWT dalam keteraturan yang indah. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh al-Qur’an di berbagai tempat, antara lain surah al-A‘la [87]: 3, “Dan (Allah SWT) yang menentukan kadar (masing-masing) serta memberi petunjuk.” Ayat ini menyatkan, jelas al-Sya‘rawi, bahwa segala sesuatu yang tersebar di alam raya ini diberi petunjuk oleh-Nya dan bahwa mereka semua mengikuti petunjuk tersebut dengan tulus. Matahari, bintang, dan bumi misalnya, bergerak mengikuti petunjuk yang diterimanya dengan keteraturan, keakuratan, dan ketepatan yang indah. Keteraturan dan keindahan alam semesta, dengan demikian, adalah ekspresi ketundukan mereka terhadap petunjuk Allah itu. Masing-masing memperoleh petunjuk sesuai dengan kadarnya. 

Tetapi di lain sisi, terdapat dua jenis makhluk yang dianugerahi-Nya kemampuan ikhtiyari sehingga keduanya berpotensi keluar dari atau bahkan dengan sadar membangkang mengikuti petunjuk itu. Kedua jenis makhluk ini tidak lain adalah manusia dan jin. Sampai di sini, patut kita sadari bahwa segala bentuk ketimpangan, ketidakstabilan, dan kerusakan yang terjadi di persada bumi merupakan dampak negatif dari tindakan kita, manusia dan jin. Kesadaran ini penting, karena kadang kala—atau justru seringnya—kita tidak menyadari, apalagi mengakui, bahwa tingkah laku kita berimbas buruk, entah langsung atau tak langsung, pada kerusakan bumi. Boleh jadi kita menanggap tindakan kita sebagai usaha memakmurkan bumi padahal yang terjadi justru sebaliknya. Boleh jadi kita mengekploitasi alam dengan dalih kebermanfaatan, sembari menutup mata atas kemungkinan-kemungkinan dampak negatif yang diakibatkannya di masa mendatang. Kalau sudah sampai taraf seperti ini, tidak mustahil kita termasuk golongan, “Yang apabila dikatakan kepada mereka: ‘Janganlah kamu membuat kerusakan di bumi,’ mereka justru menjawab: ‘Sesungguhnya hanya kamilah orang-orang yang selalu melakukan kebaikan dan perbaikan.’ Ingatlah sesungguhnya mereka, (dan hanya) mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari (al-Baqarah [2]: 11-12).”


Wilayah “Kerusakan”

Jika sebelumnya telah dijelaskan bahwa aktor utama di balik terjadinya berbagai kerusakan di alam semesta adalah manusia dan jin, maka kini kita bisa bertanya lebih lanjut, “Di manakah kerusakan itu terjadi? Adakah wilayah khusus atau batasan-batasannya?” Jawaban yang diberikan Syekh al-Sya‘rawi sederhana. Menurutnya, wilayah terjadinya kerusakan (fasad) adalah segala sesuatu yang bisa dijangkau oleh manusia. Hal ini mengingat, sebagaimana telah ditegaskan sebelumnya, pada dasarnya segala sesuatu yang terhampar di alam raya ini diciptakan oleh-Nya dalam keteraturan yang indah. Ciptaan-ciptaan-Nya yang telah memperoleh campur tangan manusialah yang berpotensi tejadi kerusakan. Syekh al-Sya‘rawi menjelaskan:

Dahulu, bumi—tanpa campur tangan manusia—tercipta dalam keadaan indah/baik-baik saja. Adapun fasad (kerusakan) adalah perkara yang datang dari manusia. Kita ketahui bahwa kerusakan tidaklah datang dengan tiba-tiba pada suatu hal, melainkan di dalamnya (pasti) terdapat unsur campur tangan manusia.

Mengapa kita mengeluhkan krisis pangan dan tidak mengeluhkan krisis udara? Karena tidak ada campur tangan manusia dalam hal udara. Sejauh mana kadar campur tangan manusia, sejauh itu pula kerusakan terjadi. Sungguh, kita telah campur tangan sedikit perihal air, sehingga terjadilah kerusakan di sana. Kita tidak memindahkannya dengan baik melalui pipa-pia yang bagus sehingga air itu sampai ke kita dalam keadaan tercemar, entah bertambah atau berkurang zat klorinnya. (Sekali lagi) sesuai dengan kadar adanya campur tangan manusia, kerusakan itu ada.

Penjelasan al-Sya‘rawi di atas menggunggah kesadaran kita lagi. Sebagai khalifah fi al-ardh, kita patut memastikan setiap gerak-gerik kita untuk tidak berimbas buruk, baik kepada bumi atau penghuninya. Sebab, implikasi dari segala tindak-tanduk kita terarah pada satu di antara dua opsi: baik atau buruk, positif atau negatif, memperindah atau merusak, menjernihkan atau memperkeruh, maslahat atau mafsadat; tidak ada opsi ketiga.


Tugas Kita Sebagai Khalifah

Berhadapan dengan realitas seperti ini, al-Sya‘rawi mengungkap tugas kita sebagai khalifah-Nya di bumi dengan ungkapan ringkas, padat, bermakna. Menurutnya, agar bumi—atau bahkan alam semesta—ini tetap senantiasa dalam keteraturan-Nya yang indah, kita mesti mengamalkan petunjuk-petunjuk-Nya, baik yang termuat dalam al-Qur’an maupun yang tercitra dalam sunnah-sunnah Nabi Muhammad SAW. Al-Sya‘rawi mengilustrasikan pentingnya pengamalan petunjuk-petunjuk tersebut dengan analogi berikut:

Dalam konteks pedoman duniawi (al-manhaj al-dunyawi), bila hendak memperbaiki sesuatu, maka kita menuju si penciptanya, karena dialah yang bisa menunjukkan kepada kita cara perbaikan yang benar. Jika kita tidak mendapatinya di daerah tempat ia berdomisili, maka kita menuju (berkonsultasi kepada) orang yang telah ia latih tentang tata cara perbaikan itu, atau merujuk pada apa yang mereka sebut sebagai katalog (buku panduan) yang bisa menerangkan kepada kita terkait tata cara perbaikan. Tanpa hal ini, kita tidak akan bisa melakukan perbaikan, yang ada nanti justru pengrusakan. Anehnya, kita mengikuti cara-cara seperti ini dalam konteks kehidupan duniawi, tetapi saat kita berhadapan dengan manusia dan alam raya, alih-alih menuju kepada Sang Pencipta untuk mengambil pedoman ishlah—dan Dialah yang paling mengetahui ciptaan-Nya—kita justru menuju (mencari solusi kepada) makhluk-Nya yang merumuskan pedoman-pedoman yang merusak. Lahirnya memang seakan-akan mengadakan perbaikan, tetapi sejatinya pedoman-pedoman ini malah semakin menambah keburukan/kerusakan.

Tentu penjelasan ringkas al-Sya‘rawi ini memerlukan catatan kaki-catatan kaki lebih lanjut. Kutipan di atas semakin mengundang banyak pertanyaan seperti bagaimanakah petunjuk-petunjuk al-Qur’an dan sunnah Nabi tentang tugas manusia sehubungan dengan alam semesta, atau dalam konteks keindonesiaan, bumi pertiwi? Bagaimanakah sikap ideal yang bisa kita lakukan dalam memperingati hari bumi ini? Bagaimana sejatinya tuntunan ilahi perihal tugas kita yang di satu sisi “melestarikan” dan di sisi lain “memakmurkan” bumi? Pertanyaan-pertanyaan semacam inilah yang barangkali perlu kita renungkan kembali di tengah perayaan hari bumi ini. Benar, bahwa boleh jadi kita telah mengetahui jawabannya. Namun apakah pengetahuan itu telah selaras dengan tingkah-laku kita sehari-hari? []

Berikan Komentar
Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin

LINK TERKAIT