Menegakkan Kebijakan Keamanan, Ketertiban, dan Keberkahan Ilmu di Ma'had Aly Darul Ulum Jombang

Masuk pada inti kebijakan keamanan dan ketertiban pesantren, KH. Rohmatul Akbar Rifa'i, ST. mengimbau seluruh mahasantri senior (semester atas) maupun mahasantri baru untuk mengedepankan sikap khidmah dan taat aturan. Khidmah dapat diwujudkan dalam bentuk menjadi pembina asrama, membantu kegiatan pengajaran Al-Qur'an, mendukung ketertiban lingkungan pesantren, serta menjaga disiplin.

Dokumentasi


JOMBANG – Suasana khidmat dan penuh keberkahan menyelimuti gelaran Masa Orientasi Mahasantri (MOM) bagi mahasantri baru Ma'had Aly Darul Ulum Jombang. Pada sesi pengarahan kebijakan keamanan dan ketertiban, hadir memberikan pembekalan mendalam, yaitu KH. Rohmatul Akbar Rifa'i, ST. selaku Koordinator KAMTIB (Keamanan dan Ketertiban) Majelis Pimpinan Pondok Pesantren Darul 'Ulum Rejoso, Jombang.

Dalam pengarahannya, beliau menyampaikan wejangan substantif mengenai arti penting pesantren sebagai benteng pertahanan moral, urgensi menuntut ilmu yang dilandasi niat lurus, kedudukan adab dan khidmah, serta komitmen dalam mematuhi tata tertib kelembagaan demi menggapai keberkahan hidup.

1. Pembuka dan Doa Keberkahan Silaturahmi

Mengawali pengarahannya, KH. Rohmatul Akbar Rifa'i, ST. menyampaikan salam hangat serta rasa syukur yang mendalam atas terselenggaranya silaturahmi bersama jajaran pengasuh, dosen, pengurus, serta seluruh mahasantri baru Ma'had Aly Darul Ulum Jombang. Beliau mendoakan agar perjumpaan tersebut diakui dan diridhai oleh Allah SWT, serta membuahkan berbagai keutamaan bagi seluruh yang hadir.

Beliau menegaskan bahwa salah satu faedah utama dari silaturahmi yang diterima di sisi Allah SWT adalah masrotun lil mal (kelapangan rezeki), dianugerahinya ilmu yang bermanfaat dan barokah, serta diberikan kesehatan jasmani dan rohani (fil 'ibadah wal 'ubudiyyah) untuk senantiasa beribadah serta mengabdi kepada Allah SWT.

2. Pesantren Sebagai Benteng Pertahanan Moral Mahasantri

Dalam arahannya, Kiai Rohmatul Akbar menekankan bahwa para mahasantri baru—yang mayoritas berada pada rentang usia 19 hingga 20 tahun—berada pada fase kritis pencarian jati diri (generasi Z). Lingkungan di luar pesantren sering kali menyajikan berbagai tantangan pergaulan dan godaan moral yang sangat kompleks. Oleh karena itu, memilih dan menetap di lingkungan pesantren adalah langkah perlindungan yang amat berharga.

Menjelaskan posisi penting lembaga pendidikan Islam, beliau mengutip perkataan pencerahan dari Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali 10 abad yang lalu:

إِعْلَمْ أَنَّ هَذِهِ المَدَارِسَ وَالرِّبَاطَاتِ حِصْنٌ حَصِينٌ يَتَحَصَّنُ بِهِ المُجْتَهِدُونَ عَنِ القُطَّاعِ وَالسُّرَّاقِ

Artinya: "Ketahuilah, sesungguhnya madrasah-madrasah dan pesantren-pesantren ini adalah benteng pertahanan yang kuat, yang darinya para pencari ilmu (orang-orang yang bersungguh-sungguh) menjaga dan melindungi diri mereka dari gangguan para perampok dan pencuri (penyamun moral serta kebaikan)."

Keberadaan mahasantri di dalam lingkungan Ma'had Aly Darul Ulum dipastikan akan menjaga moralitas, membentengi akidah, serta memelihara perilaku santri dari pengaruh negatif pergaulan bebas di luar sana.

3. Menuntut Ilmu Tanpa Berkecil Hati dan Niat Lurus Mencari Ridha Allah

Beliau juga menyadari bahwa latar belakang para mahasantri sangat beragam. Sebagian besar mungkin bukan berasal dari keluarga berada (the have) atau berkecukupan secara finansial. Kendati demikian, beliau mengingatkan agar tidak ada satu pun mahasantri yang merasa berkecil hati atau minder.

Mengutip bait-bait nasihat legendaris dari Imam Asy-Syafi'i radhiyallahu 'anhu, beliau memberikan motivasi spiritual:

تَعَلَّمْ فَلَيْسَ المَرْءُ يُولَدُ عَالِمًا ۞ وَلَيْسَ أَخُوه عِلْمٍ كَمَنْ هُوَ جَاهِلُ

وَإِنَّ صَغِيرَ القَوْمِ إِنْ كَانَ عَالِمًا ۞ كَبِيرٌ إِذَا رُدَّتْ إِلَيْهِ المَحَافِلُ

Artinya: "Belajarlah! Karena tidak ada seorang pun yang dilahirkan dalam keadaan berilmu, dan tidaklah sama orang yang memiliki ilmu dengan orang yang bodoh. Sesungguhnya orang yang paling kecil/rendah di antara suatu kaum, jika ia berilmu, maka ia akan menjadi orang besar saat diserahkan kepadanya perkumpulan-perkumpulan/majelis-majelis."

Sebagai ikhtiar memperkuat keyakinan santri, beliau meneladani kisah Nabi Sulaiman 'alaihissalam. Ketika Allah SWT memberikan pilihan antara harta, kerajaan, dan ilmu, Nabi Sulaiman 'alaihissalam dengan bijaksana memilih ilmu. Berkat pilihan ilmu itulah, Allah SWT menganugerahkan kepadanya tidak hanya ilmu, melainkan juga kekuasaan kerajaan yang megah dan harta melimpah:

خُيِّرَ سُلَيْمَانُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ بَيْنَ المَالِ وَالمُلْكِ وَالعِلْمِ، فَاخْتَارَ العِلْمَ، فَأُعْطِيَ المُلْكَ وَالمَالَ لاِخْتِيَارِهِ العِلْمَ

Artinya: "Nabi Sulaiman 'alaihissalam diberi pilihan antara harta, kerajaan, dan ilmu. Maka beliau memilih ilmu. Lalu beliau dianugerahi kerajaan dan harta sekaligus dikarenakan pilihannya terhadap ilmu."

Meski ilmu memiliki keutamaan menarik kemuliaan duniawi, KH. Rohmatul Akbar Rifa'i, ST. mewanti-wanti agar niat utama belajar tetap murni untuk menghilangkan kebodohan diri, menghidupkan agama (ihya'uddin), menegakkan Islam, serta mengharapkan ridha Allah SWT semata.

4. Mengamalkan Ilmu dan Tiga Pilar Kesuksesan Santri

Ilmu yang didapatkan wajib diiringi dengan pengamalan (amal saleh). Kiai Rohmatul Akbar menegaskan bahwa mengamalkan ilmu—meskipun sedikit demi sedikit—akan membuka pintu-pintu pemahaman baru yang belum pernah dipelajari sebelumnya. Hal ini selaras dengan sabda Rasulullah SAW:

مَنْ عَمِلَ بِمَا عَلِمَ وَرَّثَهُ اللهُ عِلْمَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

Artinya: "Barangsiapa mengamalkan apa yang telah ia ketahui, maka Allah akan mewariskan kepadanya ilmu yang belum ia ketahui."

Beliau mengingatkan kaidah ilmu yang sangat masyhur di kalangan pesantren:

العِلْمُ بِلاَ عَمَلٍ كَالشَّجَرِ بِلاَ ثَمَرٍ

Artinya: "Ilmu tanpa pengamalan bagaikan pohon yang tidak berbuah."

Selanjutnya, beliau mengutip mutiara hikmah dari Asy-Syaikh As-Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani terkait tiga pilar utama keberhasilan seorang penuntut ilmu:

ثَبَاتُ العِلْمِ بِالمُذَاكَرَةِ، وَبَرَكَتُهُ بِالخِدْمَةِ، وَنَفْعُهُ بِرِضَا الشَّيْخِ

Artinya: "Melekatnya (kekuatan) ilmu adalah dengan mudzakarah (belajar/pengulangan/mutala'ah), keberkahannya diperoleh dengan khidmah (pengabdian), dan kemanfaatannya didapatkan melalui ridha sang guru/kiai."

5. Penegakan Kebijakan Keamanan, Ketertiban, dan Khidmah di Pesantren

Masuk pada inti kebijakan keamanan dan ketertiban pesantren, KH. Rohmatul Akbar Rifa'i, ST. mengimbau seluruh mahasantri senior (semester atas) maupun mahasantri baru untuk mengedepankan sikap khidmah dan taat aturan. Khidmah dapat diwujudkan dalam bentuk menjadi pembina asrama, membantu kegiatan pengajaran Al-Qur'an, mendukung ketertiban lingkungan pesantren, serta menjaga disiplin.

Sebagai Koordinator KAMTIB Pondok Pesantren Darul Ulum, beberapa penegakan aturan penting yang diuraikan oleh beliau antara lain:

  • Kebijakan Penggunaan Ponsel (HP): Penggunaan HP diatur ketat. Mahasantri dilarang keras meminjamkan HP kepada santri usia sekolah (anak-anak/remaja SMA/SMP) atau melakukan aktivitas komersial seperti menjual pulsa kepada para santri di bawah umur. Mahasantri harus menjadi teladan perihal kedisiplinan teknologi.

  • Kebijakan Larangan Merokok: Di dalam lingkungan pesantren berlaku larangan merokok. Mahasantri diimbau tidak merokok di depan santri-santri junior demi menjaga citra teladan. Petugas keamanan pesantren ditegaskan untuk menindak pelanggaran dan tidak sekadar memberikan teguran verbal semata.

  • Kepatuhan dan Larangan Membantah (I'tiradh): Seluruh tata tertib yang disusun oleh para Kiai dan Pengasuh dibuat demi kemaslahatan, kelancaran, dan ketertiban bersama. Santri dilarang melakukan i'tiradh (keberatan/membantah secara tidak sopan) terhadap kebijakan pimpinan dan wali Allah (i'tiradh li auliya'illahi la yajuz).

6. Mendahulukan Adab dan Karakter Alumni Darul Ulum

Mengingat filosofi pendidikan di Darul Ulum, beliau menyampaikan sebuah nasihat mendalam dari masyayikh:

تَأَدَّبْ ثُمَّ تَعَلَّمْ

Artinya: "Beradablah terlebih dahulu, kemudian belajarlah."

Sebagaimana kaidah utama: Al-Adabu fauqol 'ilmi (Adab itu berada di atas ilmu). Darul Ulum tidak sekadar membutuhkan santri yang "pintar", melainkan santri yang "ngerti" (memahami etika, memiliki akhlakul karimah, serta memiliki kepekaan rasa dan adab). Beliau menyitir dawuh Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah:

رَأَيْتُ العِلْمَ صَاحِبُهُ كَرِيمٌ ۞ وَلَوْ وَلَدَتْهُ آبَاءٌ لِئَامٌ

Artinya: "Aku melihat bahwa pemilik ilmu itu adalah orang yang mulia, meskipun ia dilahirkan dari orang tua yang hina/sederhana."

Keberkahan Darul Ulum terbukti telah melahirkan alumni yang berkiprah meluas di berbagai sektor kehidupan—tidak terbatas menjadi ustaz kampung semata, melainkan menjadi dokter, pengusaha, Kaporesta, hingga Bupati (seperti alumni yang menjabat Bupati Bangkalan, Bupati Pasuruan, Bupati Probolinggo, dan Bupati Bojonegoro). Hal ini sesuai dengan petunjuk Al-Qur'an:

لاَ تَدْخُلُوا مِنْ بَابٍ وَاحِدٍ وَادْخُلُوا مِنْ أَبْوَابٍ مُتَفَرِّقَةٍ

Artinya: "Janganlah kamu masuk dari satu pintu gawang saja, melainkan masuklah dari pintu-pintu yang terpisah/berbeda-beda." (QS. Yusuf: 67)

7. Kemandirian Finansial dan Kemuliaan Pemuda Berilmu-Bertakwa

Menutup ceramahnya, Kiai Rohmatul Akbar memotivasi santri agar menjadi pribadi yang mandiri, tidak menjadi beban bagi orang lain (wala takunu kallan 'alan-nas), serta bercita-cita menjadi ulama yang berdaya secara ekonomi. Mengutip dawuh Imam Asy-Ssyatibi:

لاَ بُدَّ لِلْعَالِمِ مِنْ مَالٍ وَجَاهٍ حَتَّى لاَ يَذِلَّ لأَحَدٍ وَلاَ يَحْتَاجَ إِلَى أَحَدٍ

Artinya: "Harus bagi seorang yang alim memiliki harta dan kedudukan/pangkat, agar ia tidak merasa hina di hadapan siapa pun dan tidak menggantungkan kebutuhan kepada siapapun."

Begitu pula pesannya melalui nasihat Nabi Muhammad SAW mengenai keseimbangan antara dunia dan akhirat:

لَيْسَ بِخَيْرِكُمْ مَنْ تَرَكَ دُنْيَاهُ لآخِرَتِهِ وَلاَ آخِرَتَهُ لِدُنْيَاهُ حَتَّى يُصِيبَ مِنْهُمَا جَمِيعًا فَإِنَّ الدُّنْيَا بَلاَغٌ إِلَى الآخِرَةِ

Artinya: "Bukanlah orang terbaik di antara kalian orang yang meninggalkan dunianya demi akhiratnya, dan tidak pula yang meninggalkan akhiratnya demi dunianya, hingga ia meraih dari keduanya secara bersamaan. Karena sesungguhnya dunia adalah perantara (penyampai) menuju akhirat."

Serta bait kebanggaan pemuda dari Imam Asy-Syafi'i:

حَيَاةُ الفَتَى وَاللهِ بِالعِلْمِ وَالتُّقَى ۞ إِذَا لَمْ يَكُونَا لاَ اعْتِبَارَ لِذَاتِهِ

العِلْمُ يَرْفَعُ بَيْتًا لاَ عِمَادَ لَهُ ۞ وَالجَهْلُ يَهْدِمُ بَيْتَ العِزِّ وَالشَّرَفِ

Artinya: "Kehidupan seorang pemuda, demi Allah, hanya ditentukan dengan ilmu dan ketakwaan. Jika keduanya tidak ada, maka tidak ada harga diri baginya. Ilmu itu dapat meninggikan bangunan rumah yang tidak bertiang, sedangkan kebodohan dapat merobohkan rumah kemuliaan dan kehormatan."

Pengarahan diakhiri dengan doa bersama agar seluruh mahasantri baru Ma'had Aly Darul Ulum Jombang diberikan keistiqamahan belajar, kelancaran studi, serta kemanfaatan ilmu dunia dan akhirat.


IT & Media Ma'had Aly Darul Ulum Jombang

Berikan Komentar
Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin

LINK TERKAIT