KH. Hamid Bisri menegaskan kebijakan dasar pesantren bahwa seluruh santri yang menuntut ilmu di Darul 'Ulum—dengan kata kunci "mondok"—wajib tinggal di asrama-asrama yang telah disediakan oleh pihak pesantren.
Dokumentasi
JOMBANG – Dalam rangkaian acara Masa Orientasi Mahasantri (MOM) bagi mahasantri baru Ma'had Aly Darul Ulum Jombang periode 2026/2027, KH. M. Hamid Bisri, S.E., M.Si. memberikan pengarahan mendalam mengenai kebijakan kepondokan dan pengajian.
Pengarahan ini menjadi fondasi penting bagi para mahasantri baru agar memahami aturan, tata kelola, tradisi keilmuan, serta komitmen pembentukan akhlak yang berlaku di lingkungan Pondok Pesantren Darul 'Ulum Rejoso, Jombang.
KH. Hamid Bisri menegaskan kebijakan dasar pesantren bahwa seluruh santri yang menuntut ilmu di Darul 'Ulum—dengan kata kunci "mondok"—wajib tinggal di asrama-asrama yang telah disediakan oleh pihak pesantren.
Pengecualian dari kewajiban bermukim ini hanya diberikan melalui kebijakan dan situasi khusus yang sangat terbatas. Salah satu pertimbangan utama adalah batas geografis, yaitu bagi santri yang domisili rumahnya berjarak kurang dari 7 kilometer dari lingkungan pesantren. Di luar ketentuan khusus tersebut, seluruh santri diwajibkan untuk mukim dan menetap di dalam kompleks asrama.
Dalam struktur kewilayahan Pondok Pesantren Darul 'Ulum, terdapat dua kategori utama pengorganisasian asrama atau pondok:
Asrama Induk: Asrama Induk merupakan cikal bakal historis Pondok Pesantren Darul 'Ulum. Wilayah ini berpusat di sekitar Masjid Agung Pesantren dan dibatasi oleh beberapa titik penanda:
Seberang Barat: Masjid Induk Pesantren.
Seberang Timur: Makam Pendiri dan Masyayikh (Muassis).
Seberang Selatan: Asrama Ardales.
Seberang Utara: Asrama Ar-Rommel dan Asrama 3 Nusantara.
Sejak awal berdirinya, Asrama Induk secara khusus hanya diperuntukkan bagi santri putra (santriwan). Nama-nama gedung di kawasan Induk mengabadikan nama-nama tokoh besar Islam dan pahlawan nasional, seperti Al-Ghazali, Ibnu Sina, Raden Rahmat, Raden Fatah, Al-Farabi, Cordova serta Falestin.
Asrama Dzurriyah (Asrama Dalem): Selain Asrama Induk, terdapat sekitar 45 unit Asrama Dalem yang dikelola oleh para keturunan (dzurriyah) pendiri pesantren. Hak untuk mendirikan dan mengelola asrama-asrama ini diikat secara khusus kepada dzurriyah guna menjaga garis sanad dan "benang merah" keagamaan agar tidak terputus.
Pendirian pesantren tidak diawali dari pembangunan fisik asrama semata, melainkan dari hadirnya para santri. Pesantren tidak melakukan promosi komersial—seperti pemberian diskon atau penawaran komersial lainnya—melainkan berfokus pada penyebaran informasi pendidikan keagamaan kepada masyarakat.
Meskipun setiap asrama dikelola secara mandiri oleh para dzurriyah, seluruh asrama berada di bawah naungan kebijakan, wewenang, dan regulasi pusat Pondok Pesantren Darul 'Ulum. Sistem ini mengadopsi pola konfederasi terpadu (seperti sistem serikat), di mana Darul 'Ulum bertindak sebagai rumah besar bagi seluruh unit asrama yang ada di dalamnya.
Seluruh pengasuh dan santri di setiap asrama diwajibkan untuk mematuhi regulasi ibadah dan kegiatan keagamaan yang berpusat di sekitar masjid.
Para santri diwajibkan untuk:
Menjalankan shalat fardhu berjamaah.
Melaksanakan amalan sunnah qabliyah dan ba'diyah.
Membaca puji-pujian, wirid, serta istighatsah.
Menjalankan tradisi keagamaan Amaliyah An-Nahdliyyah, seperti tahlilan, yasinan, pembacaan manaqib, serta pembacaan kitab maulid (diba'an).
Selain pengajian kitab kuning secara tabarrukan, pesantren menyelenggarakan pendidikan formal keagamaan di asrama melalui Madrasah Tafaqquh Fiddin (Pendidikan Diniyah).
Pendidikan Diniyah ini diawali dari jenjang I'dadiyah (persiapan), yang membimbing santri dari tingkat paling dasar, seperti belajar menulis aksara Arab (pegon) dan membaca teks keagamaan. Hal ini dirancang untuk merespons kondisi sosial calon santri baru yang memiliki tingkat kemampuan literasi Arab beragam.
Sistem pembelajaran membimbing santri secara bertahap hingga mereka mampu memaknai kitab-kitab klasik (makna miring/gundul).
Pengajaran di Pondok Pesantren Darul 'Ulum berakar pada kitab-kitab standar keilmuan Islam (kutubut turats) yang mencakup bidang akhlak, syariat, tafsir, dan fiqih:
Bidayatul Hidayah (karya Imam Al-Ghazali): Membahas adab, etika ibadah, dan pembersihan jiwa.
Ta'limul Muta'allim (karya Imam Az-Zarnuji): Membahas etika dan adab penuntut ilmu terhadap guru, kitab, dan majelis ilmu.
Tafsir Al-Ibriz (karya KH. Bisri Mustofa): Tafsir Al-Qur'an berbahasa Jawa.
Tafsir Yasin.
Tafsir Al-Jalalain (karya Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuthi): Kitab tafsir standar yang dipelajari secara luas.
Safinatun Najah.
Matan Al-Ghayah wat-Taqrib (Al-Mukhtashar).
Fathul Mu'in (karya Syaikh Zainuddin Al-Malibari).
Pondok Pesantren Darul 'Ulum mengandalkan kombinasi antara pendidikan pesantren dan sekolah/madrasah formal. Di dalam kurikulum sekolah/madrasah, alokasi waktu untuk pelajaran keagamaan disediakan hingga 12 jam pelajaran yang mencakup disiplin ilmu Bahasa Arab, Nahwu, Sharf, I'lal, Fiqih, Tafsir, dan Hadits.
Konsep pengembangan keilmuan di Darul 'Ulum memegang teguh kaidah kaidah kebudayaan Islam:
المُحَافَظَةُ عَلَى القَدِيمِ الصَّالِحِ وَالأَخْذُ بِالْجَدِيدِ الأَصْلَحِ
Artinya: "Memelihara tradisi-tradisi lama yang baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik/maslahat."
Bentuk penerapan prinsip ini terlihat dari kelengkapan fasilitas pendidikan di dalam kompleks pesantren, yang meliputi:
Lembaga Pendidikan Diniyah dan Perguruan Tinggi Islam (Ma'had Aly, UNIPDU, UNDAR).
Sekolah Menengah Kejuruan/Teknik (Telkom, Informatika).
Lembaga Pendidikan Formal Negeri di bawah naungan Kementerian Agama maupun Kementerian Pendidikan, seperti MTs/MTsN, MA/MAN, SMP/SMPN, SMA dan SMK.
KH. Hamid Bisri menegaskan bahwa tujuan utama dari seluruh proses pendidikan di pesantren adalah penataan akidah (Tauhid) dan pembentukan karakter (Akhlak).
Tauhid merupakan landasan utama dalam menuntut ilmu. Beliau mengutip wahyu pertama yang diterima Rasulullah SAW dalam Surah Al-'Alaq ayat 1:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
Artinya: "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan." (QS. Al-'Alaq: 1)
Proses belajar harus senantiasa dilandasi dengan mengingat Allah SWT (Bismirabbika), karena Allah SWT merupakan Zat Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu:
إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Artinya: "Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. Al-Baqarah: 20)
Landasan ibadah dan pengabdian santri ditekankan melalui firman Allah SWT dalam Surah Al-Fatihah ayat 5 dan Surah Adz-Dzariyat ayat 56:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Artinya: "Hanya Engkau-lah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkau-lah kami meminta pertolongan." (QS. Al-Fatihah: 5)
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Artinya: "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi/beribadah kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Seruan keilmuan ini ditegaskan pula dalam Surah Ali 'Imran ayat 18:
شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ
Artinya: "Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan demikian)." (QS. Ali 'Imran: 18)
Meneladani risalah Rasulullah SAW, Misi utama penataan nilai-nilai moral tercantum dalam hadits Nabi SAW:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ
Artinya: "Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." (HR. Ahmad)
Di lingkungan asrama yang dihuni oleh santri dari berbagai jenjang usia (SMP/MTs, SMA/MA/SMK, hingga Mahasantri/Mahasiswa), dinamika sosial antar-santri menjadi sarana latihan hidup bermasyarakat.
Para pembina, pengurus asrama, pengurus kamar, dan santri senior memegang peranan penting untuk:
Menjadi teladan (uswah hasanah) bagi santri yang lebih muda.
Mengayomi, membimbing, dan menyayangi santri junior.
Menjaga lingkungan asrama agar tetap kondusif, aman, dan penuh rasa kekeluargaan.
Melalui interaksi harian tersebut, para santri senior dilatih untuk memiliki kepekaan sosial, kesabaran, dan kepemimpinan sebelum mereka kembali dan berkiprah di tengah masyarakat luas.
Mengakhiri pengarahannya, KH. Hamid Bisri, S.E., M.Si. menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh mahasantri baru Ma'had Aly Darul Ulum Jombang. Beliau mendoakan agar seluruh proses menuntut ilmu berjalan dengan lancar serta mendatangkan keberkahan dan kemanfaatan bagi agama, nusa, dan bangsa.
وَبِاللَّهِ التَّوْفِيقُ وَالْهِدَايَةُ، وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ