Walaupun secara linguistik kata الوالدين lebih condong kepada ibu, namun makna zhahir ayat tetap menunjuk kepada keduanya: ayah dan ibu. Sebagaimana dalam firman Allah: وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا “Hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua (ibu dan ayah).”
Dokumentasi
Dalam beberapa ayat Al-Qur'an, perintah untuk berbuat baik kepada orang tua selalu menggunakan istilah "الوالدين", seperti dalam ayat-ayat berikut:
a. QS. Al-Baqarah, ayat 83
وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِيٓ إِسْرَٰٓءِيلَ لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا ٱللَّهَ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَـٰنًا...
b. QS. An-Nisa', ayat 36
وَٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا۟ بِهِۦ شَيْـًۭٔا ۖ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَـٰنًۭا...
c. QS. An-Nisa', ayat 135
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُونُوا۟ قَوَّٰمِينَ بِٱلْقِسْطِ شُهَدَآءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰٓ أَنفُسِكُمْ أَوِ ٱلْوَٰلِدَيْنِ وَٱلْأَقْرَبِينَ...
d. QS. Al-An’am, ayat 151
قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ ۖ أَلَّا تُشْرِكُوا۟ بِهِۦ شَيْـًۭٔا ۖ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَـٰنًۭا...
e. QS. Al-Isra', ayat 23
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَـٰنًا...
Kalimat الوالدين artinya adalah "orang tua", yakni ayah dan ibu. Namun jika ditinjau lebih dalam, kata ini cenderung lebih condong kepada ibu. Mengapa?
Secara bahasa, الوالدين adalah bentuk tatsniyah (dual) dari والد, yang berarti orang tua (terkadang dipahami sebagai ayah). Namun asal kata "والد" berasal dari kata kerja وَلَدَ – يَلِدُ, yang artinya "melahirkan".
Dalam hal ini, siapakah yang secara biologis benar-benar melahirkan? Jawabannya tentu ibu. Maka tidak heran jika dalam istilah الوالدين, terdapat nuansa kelembutan dan kedekatan dengan ibu.
Karena peran ibu yang dominan dalam rumah tangga — mulai dari melahirkan, menyusui, merawat, hingga mendidik anak — maka dalam Islam pun posisi ibu sangat dimuliakan. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa ibu lebih utama tiga kali dibandingkan ayah.
Namun, bukan berarti kita boleh menyepelekan peran ayah. Ayah juga memiliki tanggung jawab besar, terutama dalam aspek finansial dan perlindungan keluarga. Dalam konteks seperti waris, nafkah, dan tanggung jawab berat lainnya, Al-Qur’an menggunakan istilah lain yaitu الأبوين, yang lebih menunjukkan peran ayah.
Sebagaimana dikatakan:
أما إذا رأيت كلمة “الوالدين” فاعلم أن الآية قصدت الأب والأم مع الميل لجهة الأم، فالكلمة مشتقة من الولادة والتي هي من صفات المرأة دون الرجل.
Maka setiap kali Al-Qur’an berbicara tentang warisan, tanggung jawab, dan beban besar, digunakan istilah الأبوين agar sesuai dengan konteks kelelakian dan tanggung jawab ayah:
???? “ولأبويه لكل واحد منهما السدس”
???? “ورفع أبويه على العرش”
Sebaliknya, jika ayat berbicara soal pengasuhan, doa, ampunan, dan kebaikan hati, maka digunakan kata الوالدين, karena lebih pas secara makna dengan peran ibu:
???? “وبالوالدين إحسانا”
???? “ووصينا الإنسان بوالديه حسنا”
Walaupun secara linguistik kata الوالدين lebih condong kepada ibu, namun makna zhahir ayat tetap menunjuk kepada keduanya: ayah dan ibu. Sebagaimana dalam firman Allah:
وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
“Hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua (ibu dan ayah).”
Kita tidak boleh hanya berbakti kepada ibu saja atau kepada ayah saja. Keduanya adalah pintu surga kita. Jangan biarkan keduanya bersedih karena perilaku kita.
Semoga kita semua dimudahkan oleh Allah untuk selalu berbuat baik dan berbakti kepada orang tua hingga akhir hayat mereka dan kita.
Oleh: Shafira Innatus Solicha Putri
Mahasantri Semester 2
Ma’had Aly Darul Ulum Jombang