MENGINTERPRETASI MAKNA AL-‘ADAWAT KHUSUSNYA HURUF FA (ف ) DALAM ILMU TAFSIR

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa huruf ف dalam Al-Qur’an bukan sekadar kata sambung, tetapi memiliki makna yang dalam. Ia bisa menunjukkan urutan, kesinambungan, sebab-akibat, bahkan menjadi pembuka kalimat baru. Karena itu, memahami huruf ف sangat penting dalam tafsir, sebab satu huruf kecil ini mampu memberi perbedaan besar pada makna sebuah ayat.

Dokumentasi


Muhammad Ilyas Kurniawan

Ma’had Aly Darul Ulum, Jombang

Menurut Imam Jalaluddin As-Suyuthi (w. 911 H) di dalam kitabnya Al-Itqon Fi ‘Ulum Al-Qur’an, Al-‘Adawat adalah Huruf-Huruf, serta apa yang serupa dengannya Isim, Fi’il dan Dharaf. Mengetahui Al-‘Adawat merupakan bagian dari hal-hal penting yang dibutuhkan para mufassir untuk memahami makna ayat, karena makna satu ayat akan berbeda sesuai dengan Al-‘Adawat, tempat penggunaannya, dan perbedaan tujuannya.

Sering disampaikan KH. Afifudin Dimyathi pengarang Kitab Tafsir Hidayatul Qur’an fii Tafsiril Qur’an bil Qur’an sekaligus Mudir Ma’had Aly Darul Ulum Jombang, dalam kajiannya: “Bahwa Al-Qur’an sebenarnya tidak bisa di kaidahkan secara pasti, pasti akan ada pengecualian yang tidak sesuai dengan kaidah. Karena sunnatullah, di dunia ini selalu ada perbedaan pendapat.” Seperti bagian ini yang ditulis oleh Imam Suyuthi, ini adalah panduan bagi orang-orang yang ingin memahami Al- Qur’an. jadi membaca kitab Al-Itqon ujar beliau “تيسير لطلبة علوم القرآن (Untuk memudahkan bagi orang yang mempelajari Al-Qu’an),” tetapi bagi para ulama yang sudah ‘Alim dibidang Al-Qur’an mereka tidak perlu panduan ini, karena mereka sudah paham ayat demi ayat, bahkan punya cara sendiri dan metode sendiri dalam memahaminya, diantara alasannya adalah mereka sering membaca banyak kitab tafsir sehingga mereka mengetahui nalar para mufassir dan memiliki pandangan yang luas.

Diantara huruf yang akan diulas pada bagian ini adalah ف , Huruf ini digunakan untuk beberapa hal:

  1. ف  Berfungsi sebagai huruf ‘athaf (huruf penghubung), yang memiliki 3 faidah:

Fa (فـ) adalah huruf ‘athaf kedua dari sepuluh huruf ‘athaf. Ia juga merupakan huruf kedua dari huruf-huruf ‘athaf yang menunjukkan adanya musytarak (persamaan), antara kata sebelum dan sesudahnya dalam I‘rab (Hukum) dan Makna.

Contoh: جاء زيد فخالد

Pada contoh ini فـ  menghubungkan kata Zaid dan Khalid, huruf  فـ  disini menunjukkan:

  1. Kesamaan dalam ‘Irab. kata Khalid marfu’(berharakat dhammah) mengikuti kata Zaid juga mar’fu, karena keduanya dihubungkan dengan huruf sambung فـ.

  2. Kesamaan dalam Makna. فـ  menunjukkan bahwa Zaid dan Khalid datang.


 Namun selain persamaan dalam I‘rab dan Makna, huruf فـ  juga memberikan 3 makna tambahan yang mungkin bisa terkumpul diantara salah satunya, yaitu Tartib,Ta’qib,dan Sababiyyah:





  1. فـ Menunjukkan Tartib (urutan)

Makna Tartib: yaitu bahwa kata yang datang sebelum huruf ‘athaf (ma‘thuf ‘alayh) terjadi lebih dahulu, sedangkan kata yang datang setelahnya (ma‘thuf) terjadi sesudahnya.

Tertib ada dua macam:

  1. Maknawi (berdasarkan makna), yakni peristiwa pada kata yang dihubungkan terjadi setelah peristiwa pada kata sebelumnya.

Seperti firman Allah Ta'ala: 

( فَوَكَزَهٗ مُوْسٰى فَقَضٰى عَلَيْهِۖ ) القصص:15          

"…Musa lalu memukulnya, lalu (tanpa sengaja) membunuhnya.”

Kematian terjadi setelah pukulan. 

( ثُمَّ اَمَاتَهٗ فَاَقْبَرَهٗۙ ) عبس:21 

“Kemudian, Dia mematikannya lalu menguburkannya.”

Penguburan terjadi setelah kematian.


  1. Dzikri (berdasarkan penyebutan), yaitu meng’athafkan (menghubungkan sesuatu yang terperinci kepada sesuatu yang global atau terjadi berdasarkan susunan penyebutan, bukan berdasarkan waktunya.

Seperti firman Allah Ta’ala: 

 ( فَاَزَلَّهُمَا الشَّيْطٰنُ عَنْهَا فَاَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيْهِ ۖ ) البقرة:36 

”…Lalu, Setan menggelincirkan keduanya dari surga sehingga keduanya dikeluarkan dari segala kenikmatan ketika keduanya ada di sana (surga)”.


Ini (Tartib) diingkari oleh Imam Al-farra’, Dia menganggap فـ tidak selalu menunjukkan urutan, berdalil dengan ayat: 

(وَكَمْ مِّنْ قَرْيَةٍ اَهْلَكْنٰهَا فَجَاۤءَهَا بَأْسُنَا بَيَاتًا اَوْ هُمْ قَاۤىِٕلُوْنَ) الأعراف: 4

”Betapa banyak negeri yang telah kami binasakan. Siksaan Kami datang (menimpa penduduknya) pada malam hari atau pada sa’at mereka beristirahat pada siang hari.”


Bukankah kehancuran itu sendiri merupakan datangnya azab, sehingga tidak ada Tartib? 

Ini dibantah karena maksudnya أَهۡلَكۡنَـٰهَا adalah أردنا إهلاكها ”Kami menghendaki kehancuran mereka”. Tidak diragukan bahwa kehendak (iradah) untuk membinasakan itu terjadi sebelum kedatangan azab.


  1. فـ  Menunjukkan Ta’qib (berurutan tanpa jeda)

Makna Ta‘qib: yaitu bahwa yang di-‘athaf-kan dengan فـ  terjadi langsung setelah yang sebelumnya, tanpa ada jeda panjang atau tenggang waktu yang lama, semua waktunya berbeda sesuai dengan konteksnya,

Contoh:  تزوج فلان, فولد له

“Si fulan menikah lalu lahir anaknya”.

Maka tidak ada jeda di antara pernikahan dan kelahiran kecuali masa kehamilan, meskipun secara waktu panjang, namun Ta’qib disini tetap ada karena kelahiran itu memang akibat langsung dari pernikahan.

Seperti firman Allah Ta’ala:

(ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظٰمًا فَكَسَوْنَا الْعِظٰمَ لَحْمًا) المؤمنون: 14

”Kemudian, air mani itu kami jadikan sesuatu yang menggantung (darah). Lalu, sesuatu yang menggantung itu kami jadikan segumpal daging. Lalu, segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang. Lalu, tulang belulang kami bungkus dengan daging.”


Artinya Allah menjadikan segumpal darah tidak terjadi langsung seketika setelah berbentuk air mani, namun maksudnya adalah ia tertunda dari waktu biasanya, maka itu tetap disebut Ta’qib.


Ibnu Hisyam berkata dalam Qatr An-nada: Ta’qib itu sesuai dengan konteksnya. Jika engkau berkata: Aku masuk ke Bashrah lalu ke Baghdad, sementara jarak antaranya tiga hari, dan engkau masuk hari ketiga, maka itu termasuk Ta’qib dalam kebiasaan semacam ini. Tetapi jika engkau masuk hari keempat atau kelima, maka itu tidak lagi disebut Ta’qib, dan ucapan itu tidak boleh.

Maksud perkataan Ibnu Hisyam “ucapan itu tidak boleh,” yang menunjukkan فـ  tidak boleh dipakai dalam hal yang tidak mengandung Ta’qib.


  1. فـ  Sababiyyah (sebab-akibat)

Makna Sababiyyah: yaitu bahwa sesuatu yang di-‘athafkan-kan merupakan akibat dari yang sebelumnya, biasanya terdapat pada ‘athaf  jumlah atau sifat:


Pada jumlah, Contohnya:

سها المصلي فسجد للسهو

”Seseorang yang shalat lupa, lalu ia sujud sahwi.”

Akibat shalatnya lupa, oleh sebab itu ia sujud sahwi.


seperti firman Allah Ta’ala:

‎ ( فَوَكَزَهٗ مُوْسٰى فَقَضٰى عَلَيْهِۖ ) القصص:15     

"…Musa lalu memukulnya, lalu membunuhnya.”

Akibat pukulan itu, orang mesir itu roboh dan mati.

Lantas apakah bisa faidah huruf ‘athaf ini mengandung beberapa makna?

Bisa, Perlu diketahui فـ  di contoh ini adalah huruf ‘athaf, yang bisa mengandung makna Tartib, Ta’qib, sekaligus mengandung makna Sababiyyah, maksudnya adalah pukulan itu datang lebih dahulu, kemudian kematian datang setelahnya, tepat setelah itu, tanpa ada jeda waktu yang panjang. Akibat pukulan itu, orang mesir itu roboh dan mati.




Pada sifat, Seperti firman Allah Ta’ala:

( لَـَٔاكِلُونَ مِن شَجَرࣲ مِّن زَقُّومࣲ ) ( فَمَالِـُٔونَ مِنۡهَا ٱلۡبُطُونَ ) ( فَشَـٰرِبُونَ عَلَیۡهِ مِنَ ٱلۡحَمِیمِ ) الواقعة: 52-54

“kamu pasti akan memakan pohon zaqum, lalu kamu akan memenuhi perut-perutmu dengannya, setelah itu, untuk penawarnya (zaqum) kamu akan meminum air yang sangat panas.”


Namun, dalam dua posisi ini terkadang فـ  hanya menunjukkan tartib saja,

Seperti firman Allah Ta’ala:

(فَرَاغَ اِلٰٓى اَهْلِهٖ فَجَاۤءَ بِعِجْلٍ سَمِيْنٍۙ) (فَقَرَّبَهٗٓ اِلَيْهِمْۚ قَالَ اَلَا تَأْكُلُوْنَ) الذريات: 26-27

”Kemudian, dia (ibrahim) pergi diam-diam menemui keluarganya, lalu datang (kembali) membawa (daging) anak sapi gemuk (yang dibakar), Dia lalu menghidangkan kepada mereka.”


  1. فـ  Untuk menjelaskan sababiyyah semata, tanpa diiringi adanya ‘athaf

 Seperti firman Allah Ta’ala:

(اِنَّآ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَۗ) (فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ) الكوثر: 1-2

”Sesungguhnya kami telah memberimu (Nabi Muhammad) nikmat yang banyak, oleh sebab itu laksankanlah salat karena tuhanmu dan berkurbanlah!”


Mengapa tidak bisa di ‘athafkan?

Karena kalam insya’ (فَصَلِّ  ) tidak bisa di-‘athafkan kepada kalam khabar إِنَّاۤ أَعۡطَیۡنَـٰكَ ٱلۡكَوۡثَرَ, dan sebaliknya.


Kalimat insya’ adalah suatu kalimat yang tidak mengandung kemungkinan benar maupun dusta dalam dzatnya.

Kalimat khabar adalah suatu kalimat yang mengandung kemungkinan benar dan dusta tanpa menghiraukan orang yang menyampaikannya.


  1. فـ  Sebagai penghubung antara syarat dan jawabnya pada saat jawab itu tidak dapat dijadikan sebagai syarat


Jika kata yang dimasuki  فـ  Raabitah tidak dapat dijadikan jawab syarat secara langsung maka jawabnya berupa:


  1. Jumlah ismiah

Seperti firman Allah Ta’ala:


 ( اِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَاِنَّهُمْ عِبَادُكَ ۚوَاِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَاِنَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ  ) المائدة: 118

“Jika Engkau menyiksa mereka, Sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu. Jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya engkaulah yang Mahaperkasa lagi Maha.”





  1. Jumlah fi’liyah yang fi’il-nya jamid

Seperti firman Allah Ta’ala:

( اِنْ تَرَنِ اَنَا۠ اَقَلَّ مِنْكَ مَالًا وَّوَلَدًاۚ ) (فَعَسٰى رَبِّيْٓ اَنْ يُّؤْتِيَنِ خَيْرًا مِّنْ جَنَّتِكَ ) الكهف: 39-40

“Jika engkau anggap harta dan keturunanku lebih sedikit daripadamu, Mudah-mudahan tuhanku akan memberikan kepadaku (kebun) yang lebih baik daripada kebunmu (ini).”


  1. Jumlah fi’liyah, yang  fi’il-nya untuk kalimat insya’

Seperti firman Allah Ta’ala:

( قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ) آل عمران: 31

“Katakanlah (Nabi Muhammad), ”jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosammu.”Allah Maha pengampum lagi Maha penyayang.”


Atau Jumlah ismiyah dan insya’ itu berkumpul, 

Pada firman Allah:

( اِنْ اَصْبَحَ مَاۤؤُكُمْ غَوْرًا فَمَنْ يَّأْتِيْكُمْ بِمَاۤءٍ مَّعِيْنٍ ) الملك: 30

“jika (sumber) air kamu surut ke dalam tanah, Siapa yang akan memberimu air yang mengalir?”


  1. Fi’il madhi, dari segi lafadz dan maknanya

Seperti firman Allah Ta’ala:

 ( اِنْ يَّسْرِقْ فَقَدْ سَرَقَ اَخٌ لَّهٗ مِنْ قَبْلُۚ ) يوسف: 77

“Jika dia (Bunyamin) mencuri.” Maka yusuf menyembunyikan (kekesalan) dalam hatinya.”


  1. Jawabnya disertai dengan huruf  yang menunjukkan makna masa yang akan datang, yaitu huruf Tanfis   سdan  huruf taswif  سوف 

Seperti firman Allah ta’ala:

( مَنْ يَّرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِيْنِهٖ فَسَوْفَ يَأْتِى اللّٰهُ بِقَوْمٍ ) المائدة: 54

“Siapa diantara kamu yang Murtad dari agamanya, Maka Allah akan mendatangkan suatu kaum..”

Sebagaimana kata ini menjadi penghubung antara jawab dan syaratnya maka kata ini juga dapat menjadi penghubung antara yang menyerupai jawab dengan yang menyerupai syarat,

Seperti firman Allah:

 ( اِنَّ الَّذِيْنَ يَكْفُرُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ وَيَقْتُلُوْنَ النَّبِيّٖنَ بِغَيْرِحَقٍّۖ وَّيَقْتُلُوْنَ الَّذِيْنَ يَأْمُرُوْنَ بِالْقِسْطِ مِنَ النَّاسِۙ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ اَلِيْمٍ ) آل عمران: 21

“Sesungguhnya orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Allah, dan membunuh para nabi tanpa hak (alasan yang benar), dan membunuh manusia yang memerintahkan keadilan, sampaikanlah kepada mereka kabar ‘gembira’ tentang azab yang pedih.”




  1. ف  Digunakan sebagai huruf tambahan

Abu Ishaq az-Zajjaj pengarang Kitab Ma’ani al-Qur’an wa I’rabihi li az-Zajjaj adalah Imam nahwu besar, seorang ahli tatabahasa dari era Abbasiyah beliau mentafsirkan ayat ini dengan makna فـ  (Zaidah), 

Seperti firman Allah:

( هٰذَاۙ فَلْيَذُوْقُوْهُ حَمِيْمٌ وَّغَسَّاقٌۙ ) ص: 57

“inilah (azab nereka). Biarlah mereka merasakannya. (Minuman mereka) air yang mendidih dan cairan nanah (yang menjijikkn).


Ini dibantah karena khobar هَـٰذَا itu adalah حَمِیم, sedangkan kalimat فَلۡیَذُوقُوهُ adalah Jumlah Mu’taridhah (kalimat yang disisipkan) dalam kalimat-kalimat utama هٰذَاۙ فَلْيَذُوْقُوْهُ حَمِيْمٌ وَّغَسَّاقٌۙ.


Al-Farisi memberikan contoh فـ  Zaidah, 

Dengan firman Allah: 

( بَلِ اللّٰهَ فَاعْبُدْ ) الزمر: 66

“Oleh karena itu, sembahlah Allah (saja).”


  1. فـ  Menjadi Isti’naf

 فـ  Isti’naf yaitu pembicaraan setelahnya tidak ada kaitannya dengan sebelumnya, dan jumlah setelahnya menjadi Isti’naf (awal pembicaraan), 

Seperti firman Allah: 

( كُنْ فَيَكُوْنُ ) البقرة: 117

”Jadilah!” Maka, jadilah sesuatu itu.”

Jika dibaca Rafa’ di kalimat فَيَكُونُ maka فـ  nya dibaca Isti’naf.


( فَلَمَّآ اٰتٰىهُمَا صَالِحًا جَعَلَا لَهٗ شُرَكَاۤءَ فِيْمَآ اٰتٰىهُمَا ۚفَتَعٰلَى اللّٰهُ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ ) الأعراف: 190

“Kemudian, setelah Dia memberi keduanya seorang anak yang saleh, mereka menjadikan sekutu bagi Allah  dalam (penciptaan) anak yang telah Dia anugerahkan kepada mereka. Maka, Mahatinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan.”





KESIMPULAN

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa huruf ف  dalam Al-Qur’an bukan sekadar kata sambung, tetapi memiliki makna yang dalam. Ia bisa menunjukkan urutan, kesinambungan, sebab-akibat, bahkan menjadi pembuka kalimat baru. Karena itu, memahami huruf ف sangat penting dalam tafsir, sebab satu huruf kecil ini mampu memberi perbedaan besar pada makna sebuah ayat.





DAFTAR PUSTAKA


Al-Syuthi Jalaluddin Abdurrahman bin Abu Bakar, Al-Itqon Fi ‘Ulumil Qur’an, Beirut: Dar al-kutub al-ilmiyyah, Hal: 243, 1971 M.

Al-Utsaimin Muhammad bin Shalih, Mukhtasor Mughni Labib ‘An Kutubil A’Arib, Al-Maktabah As-Syamilah.

Al-Khatib Thohir Yusuf, Al Mu'jam Al Mufashshal Fil I'rab, Beirut: Dar al-kutub al-ilmiyyah, 1971 M.

Al-Anshari Jamaluddin Ibnu Hisyam, Qathrun Nada wa Ballus Shada, Al-Maktabah As-Syamilah.

Asy-Syaukani Muhammad bin Ali bin Muhammad, Fathul Qadir, Al-Maktabah As-Syamilah.

Sumber: www.alukah.net https://share.google/0kEtsj5Nq3ZZf1BkR




Materi Perkuliahan Kitab Al-Itqon Fi ‘Ulum Al-Qur’an, yang diampu oleh Dr. KH. Afifudin Dimyathi, Lc., MA,

Ma’had Aly Darul Ulum, Jombang. Senin, 8 september 2025.

Mahasantri Semester 3.

Berikan Komentar
Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin

LINK TERKAIT