Al-Fatihah bukan sekadar bacaan, tetapi munajat seorang hamba kepada Tuhannya. Karena ia adalah dialog suci, maka dimulai dengan pujian kepada Allah sebelum masuk pada permohonan.
Dokumentasi
Surah Al-Fatihah dibuka dengan kalimat agung “Alhamdulillāhi Rabbil ‘Ālamīn”, sebuah ungkapan yang tampak sederhana namun mengandung makna. Pemilihan kata al-ḥamdu serta bentuk kalimat nominalnya menunjukkan bahwa pujian kepada Allah bersifat mutlak, abadi, dan tidak bergantung pada makhluk. Karena itu, memahami kalimat ini bukan sekadar kajian bahasa, tetapi juga pendalaman tauhid dan adab seorang hamba kepada Tuhannya.
Berikut adalah bedah tuntas rahasia keagungan kalimat pembuka dalam Ummul Kitab tersebut.
1. Perbedaan Fundamental: Al-Madhu, Al-Hamdu, dan As-Syukru
Dalam bahasa Arab, terdapat tiga istilah populer untuk mengungkapkan pujian atau syukur, namun ketiganya memiliki batasan makna yang berbeda:
a. Al-Madḥu (المدح)
Al-Madḥu adalah ungkapan pujian yang bersifat umum. Ia dapat ditujukan kepada yang hidup maupun yang mati, kepada yang berakal maupun yang tidak berakal. Orang Arab memuji keindahan mutiara, langit, hewan, atau benda-benda lainnya dengan menggunakan bentuk ini.
Ketika seseorang memuji keindahan bulan purnama, mobil mewah, atau bulu kucing yang indah, pujian tersebut tidak selalu disertai rasa penghormatan dan pengagungan. Ia sekadar ungkapan kekaguman. Karena itu, cakupan Al-Madḥu sangat luas dan tidak selalu melibatkan unsur ta’dzim (pengagungan hati).
Selain itu, Al-Madḥu bisa diberikan sebelum ataupun sesudah adanya kebaikan. Seseorang dapat dipuji meskipun belum memiliki kebaikan nyata, bahkan bisa jadi pujian itu sekadar basa-basi atau untuk mengambil hati. Dalam konteks ini, pujian tidak selalu menunjukkan kelayakan yang hakiki.
b. Al-Ḥamdu (الحمد)
Berbeda dengan Al-Madḥu, Al-Ḥamdu adalah pujian yang lebih khusus. Ia ditujukan kepada yang hidup dan berakal, serta selalu disertai rasa penghormatan dan pengagungan dalam hati.
Al-Ḥamdu hanya diberikan setelah adanya kebaikan atau karena sifat-sifat terpuji yang memang melekat pada yang dipuji. Artinya, objek pujian benar-benar layak untuk dipuji. Pujian ini bukan basa-basi, melainkan pengakuan atas kesempurnaan dan kemuliaan yang nyata.
c. Asy-Syukru (الشكر)
Asy-Syukru adalah ungkapan terima kasih atas nikmat yang sampai kepada diri kita. Syukur bersifat lebih terbatas, karena hanya muncul ketika ada pemberian atau manfaat yang kita rasakan secara langsung. Seseorang tidak berterima kasih kepada orang lain hanya karena ia memiliki sifat baik, pintar, atau pemberani. Rasa syukur muncul ketika ada nikmat yang diberikan kepada kita. Bahkan jika seseorang terus berbuat baik kepada orang lain, kita tidak merasa perlu bersyukur kepadanya selama kita tidak menerima manfaat tersebut.
Karena sifatnya yang terbatas pada nikmat yang diterima, ungkapan syukur tidak digunakan dalam Surah Al-Fatihah. Jika yang digunakan adalah bentuk syukur, maka seolah-olah pujian kepada Allah hanya karena nikmat yang sampai kepada kita, bukan karena kesempurnaan Dzat dan sifat-Nya secara mutlak.
2. Mengapa Menggunakan “Alhamdulillah”?
Dalam bahasa Arab, pujian dapat disusun dalam berbagai bentuk, misalnya:
• أحمد الله (Saya memuji Allah)
• نحمد الله (Kami memuji Allah)
Kedua bentuk ini adalah susunan fi’liyyah (kalimat verbal), karena mengandung kata kerja dan subjek. Bentuk seperti “Saya memuji Allah” menunjukkan bahwa pujian itu bergantung pada pelaku tertentu, yaitu “saya”. Maka pujian tersebut terbatas pada satu individu.
Begitu pula dengan “Kami memuji Allah”, pujian itu hanya bersumber dari sekelompok orang. Di luar kelompok tersebut, tidak termasuk dalam lingkup pujian itu. Artinya, pujian masih terikat oleh subjek dan jumlah tertentu. Selain itu, karena menggunakan fi’il mudhari’, ia juga terikat oleh waktu. Dengan demikian, pujian menjadi terbatas oleh pelaku dan temporalitas.
Berbeda dengan ungkapan الحمد لله. Susunan ini adalah jumlah ismiyyah (kalimat nominal), bukan kalimat verbal. Ia tidak terikat oleh subjek tertentu, tidak bergantung pada pelaku, dan tidak dibatasi oleh waktu. Makna “segala puji milik Allah” menunjukkan bahwa Allah sudah terpuji sebelum ada makhluk yang memuji-Nya. Allah terpuji sejak dahulu, sekarang, dan selamanya. Keterpujian-Nya tidak bergantung pada siapa pun. Allah terpuji karena Dzat-Nya yang sempurna, sifat-sifat-Nya yang mulia, dan perbuatan-Nya yang penuh hikmah. Pujian kepada-Nya bersifat mutlak dan abadi, sebagaimana kekekalan Dzat-Nya.
3. Hikmah Dibukanya Surah Al-Fatihah dengan Pujian kepada Allah
Para ulama tafsir menjelaskan beberapa hikmah di balik pembukaan tersebut:
a. Al-Qur’an Adalah Nikmat Terbesar
Turunnya Al-Qur’an merupakan nikmat paling agung yang menunjukkan kesempurnaan sifat-sifat Allah. Al-Qur’an memiliki kesempurnaan dalam makna, lafaz, dan tujuan. Karena itu, sangat pantas jika pembukaannya diawali dengan pujian kepada Allah sebagai bentuk pengagungan atas nikmat terbesar ini.
b. Perintah Tersirat untuk Bersyukur
Pembukaan dengan “alhamdulillah” juga mengandung pengajaran kepada hamba agar memuji Allah. Ia menjadi pengingat tentang kebesaran, keindahan sifat-sifat-Nya, serta besarnya karunia berupa diturunkannya Al-Qur’an, dijaganya kitab tersebut, dan diberikannya taufik kepada manusia untuk membaca, mendengar, serta memahaminya. Di dalamnya terdapat kebahagiaan dunia dan akhirat.
c. Al-Fatihah sebagai Mukadimah Agung
Surah Al-Fatihah menempati posisi seperti mukadimah dalam sebuah kitab atau pembuka dalam khutbah. Maka sebagaimana tradisi orang Arab yang fasih memulai pembicaraan penting dengan pujian, Allah menjadikan الحمد sebagai pembuka surah ini. Ini juga menjadi sunnah dalam memulai perkara besar dengan memuji Allah.
d. Al-Fatihah adalah Munajat (Dialog) dengan Allah
Al-Fatihah bukan sekadar bacaan, tetapi munajat seorang hamba kepada Tuhannya. Karena ia adalah dialog suci, maka dimulai dengan pujian kepada Allah sebelum masuk pada permohonan.
Wallahu’alam
Muhammad Khoiruddin
Mahasantri Semester Dua