Beliau juga menyampaikan bahwa meskipun metode tafsir Qur’an bil Qur’an bersumber dari al-Qur’an, tetap ada unsur ra’yi (opini penulis) saat menghubungkan satu ayat dengan ayat lainnya. Maka, kekurangan dalam tafsir tetap dimungkinkan, dan kesempurnaan hanya milik Allah semata.
Selasa, 21 Januari, menjadi hari terakhir dari Pekan Ngaji Tafsir Nusantara yang diselenggarakan di Ma’had Aly Darul Ulum. Dalam kajian penutup ini, narasumber utama adalah Mudir Ma’had Aly Darul Ulum sendiri. Acara diawali dengan pembacaan istighosah, dilanjutkan dengan pembukaan oleh Dr. Amrullah, Lc., M.Thi., yang bertindak sebagai moderator.
Moderator membuka kajian dengan mengenalkan kitab Tafsir Hidayatul Qur’an fi Tafsir al-Qur’an, sambil berbagi pengalaman pribadi tentang penulisan artikel terkait kitab ini.
Moderator menjelaskan bahwa Tafsir Hidayatul Qur’an merupakan produk tradisi intelektual pesantren yang memiliki lima karakter utama:
Kitab Kuning
Kitab ini termasuk dalam kategori kitab kuning yang mengharuskan adanya kegiatan pengajian untuk menjaga sanad keilmuan.
Tabarruk
Tradisi ini melibatkan keberkahan dalam aktivitas pembelajaran kitab.
Ngaji Kitab
Kitab ini ditujukan untuk dijadikan bahan pengajian, bukan sekadar karya cetak. Awalnya, penulis sempat ingin menulis kitab dengan gaya Muhammad Amin Asy-Syinqithi. Namun, ketika menunjukkan karyanya kepada KH. Kafa Bihi, beliau berpesan, “Kalau bisa, ditulis dengan gaya yang bisa dinyajikan, supaya sanadnya nyambung.” Akhirnya, penulis mengubah gaya penulisan dengan pendekatan tafsir al-Qur’an bil Qur’an.
Bahasa atau Aksara Arab
Kitab ini ditulis dalam aksara Arab untuk mempertahankan nilai tradisi dan universalitas pesan.
Orientasi Internasional
Kitab ini mengarah pada tradisi keilmuan global yang tetap berakar pada nilai lokal.
Kitab ini secara konsisten menerapkan manhaj tafsir al-Qur’an bil Qur’an (menafsirkan ayat al-Qur’an dengan ayat al-Qur’an lainnya). Sebagai contoh, dalam surat Al-Baqarah, hanya terdapat 17 hadis yang digunakan; selebihnya merupakan penafsiran berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an.
Motivasi:
Keinginan pribadi untuk berinteraksi intensif dengan al-Qur’an. Penulis mulai tertarik dengan tafsir saat di MA dan merasa senang melihat kitab tafsir yang berjilid-jilid.
Dorongan dari tagline PBNU, “Merawat Jagat, Membangun Peradaban”, yang memotivasi penulis untuk berkontribusi melalui tafsir.
Tujuan:
Membangun manhaj Qur’ani, yaitu pendekatan penafsiran al-Qur’an dengan al-Qur’an.
Membantu santri penghafal al-Qur’an mengenali ayat-ayat mutasyabihat, baik dari segi makna maupun lafaz.
Menjadikan kitab ini bahan utama pengajian di pesantren.
Penulisan tafsir ini memakan waktu sekitar 16 bulan. Penulis menetapkan target harian, yaitu menulis satu halaman per hari, meski kadang mampu menyelesaikan hingga enam halaman dalam sehari. Beliau menegaskan bahwa keberhasilan menulis ini merupakan bagian dari karunia Allah (fadhlum minallah).
Untuk menjaga konsistensi, waktu menulis diimbangi dengan pengurangan aktivitas lain, namun tetap memberi ruang untuk khataman al-Qur’an setiap minggu. Penulis menegaskan bahwa membaca al-Qur’an itu menambah keberkahan waktu, bukan menguranginya.
Dalam kajian surat Al-A’raf, penulis menghindari perdebatan terkait jumlah ayat dan hanya mengambil pendapat umum. Beberapa poin penting dalam kajian ini:
Huruf Muqatha’ah
Huruf-huruf seperti alif lam mim shod memiliki tiga makna utama:
Sirrullah (rahasia Allah).
Nama al-Qur’an atau surat.
Simbol nama Allah.
Adab dan Musibah
Adab terletak di hati dan tidak boleh dikaitkan dengan kesalahan orang lain.
Musibah yang diterima dengan sabar akan mengangkat derajat, sedangkan keluhan justru menjadi siksa.
Ketika seseorang mendapat musibah, kita tidak boleh mengatakan bahwa itu karena mereka berbuat buruk. Namun, jika terkait diri sendiri, maka introspeksi sangat dianjurkan.
Peringatan tentang Iblis
Iblis berusaha menyesatkan manusia dengan membuat mereka ragu pada akhirat dan terlena pada dunia.
Pekan Ngaji Tafsir Nusantara memberikan wawasan baru tentang pentingnya menjaga tradisi tafsir dan memperkuat pendekatan Qur’ani dalam memahami al-Qur’an. Pesan utama dari kajian ini adalah bahwa pengajaran dan pengkajian al-Qur’an tidak hanya membawa keberkahan bagi individu, tetapi juga menjadi bagian penting dalam membangun peradaban umat Islam.
Beliau juga menyampaikan bahwa meskipun metode tafsir Qur’an bil Qur’an bersumber dari al-Qur’an, tetap ada unsur ra’yi (opini penulis) saat menghubungkan satu ayat dengan ayat lainnya. Maka, kekurangan dalam tafsir tetap dimungkinkan, dan kesempurnaan hanya milik Allah semata.
Tim Media Ma'had Aly Darul Ulum Jombang