Pekan Ngaji Tafsir Nusantara: Membahas Kitab Bersama KH Thoyfur Ali Wafa melalui Seminar Digital

Pada akhir kajian, KH Thoyfur menjelaskan historiografi penyusunan Al-Qur'an, mulai dari zaman Nabi Muhammad, Khalifah Abu Bakar, hingga Khalifah Utsman bin Affan. Kodifikasi Al-Qur'an dilakukan pada masa Khalifah Utsman karena banyaknya penghafal Al-Qur'an yang gugur dalam perang melawan kaum murtad. Al-Qur'an yang telah dikodifikasi ini kemudian diduplikasi menjadi beberapa mushaf yang disebarkan ke kota-kota besar pada masa itu, seperti Mekkah, Basrah, Kufah, dan Syam.

Dokumentasi

Pada Senin (20/01), Pekan Ngaji Tafsir Nusantara memasuki hari ketiga. Kajian kali ini diisi oleh KH Thoyfur Ali Wafa dengan kitab bertajuk Firdaus al-Na’im, bertempat di Pondok Pesantren Darul ‘Ulum Rejoso, Jombang, Jawa Timur.

Acara dibuka dengan sambutan dari KH Hamid Bisri selaku Majelis PPDU. Dalam pidato sambutannya, beliau mengucapkan terima kasih atas terselenggaranya acara dan menyampaikan bahwa kajian kali ini diselenggarakan melalui Zoom.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Gus Izzudin, Lc., MA., salah satu dosen Ma’had Aly Darul Ulum. Pada kesempatan tersebut, beliau memaparkan biografi penulis kitab Firdaus al-Na’im, yaitu KH Thoyfur Ali Wafa. KH Thoyfur Ali Wafa lahir di Pulau Garam, Madura, tepatnya di Kabupaten Sumenep, dari pasangan KH Ali Wafa dan Bu Nyai Muthmainnah. Beliau memulai pendidikannya dengan belajar langsung kepada sang ayah hingga mencapai tingkat lanjutan. Berkat didikan ayahnya, KH Thoyfur dikenal sebagai seorang ulama kharismatik sekaligus mursyid Tarekat Naqsyabandiyyah yang mendalami ilmu turats.

Setelah menyelesaikan pendidikan di tanah air, KH Thoyfur melanjutkan studinya di Makkah Al-Mukarramah. Di sana, beliau belajar kepada dua tokoh besar, yaitu Syekh Abdullah dan Syekh Ismail ‘Utsman Zaid al-Makki, yang dikenal sebagai Imam Sibawaihnya Makkah. Beliau menimba ilmu selama tujuh tahun: empat tahun bersama Syekh Abdullah dan tiga tahun berikutnya berkhidmat kepada Syekh Ismail. KH Thoyfur menegaskan pentingnya dua kunci sukses kepada para santri, yaitu:

  1. Menuntut ilmu.

  2. Berkhidmat kepada guru.

Karakteristik Kitab Tafsir Firdaus al-Na’im
KH Thoyfur Ali Wafa menjelaskan bahwa dalam menulis kitab ini, beliau merujuk pada banyak referensi, terutama Tafsir al-Khazin. Selain itu, beliau juga memasukkan unsur sufistik, dengan dominasi corak lughah dan balaghah. Kitab ini terdiri dari enam jilid, meskipun awalnya direncanakan hanya satu jilid. Dalam kitab ini, KH Thoyfur juga mencantumkan keterangan fikih lintas mazhab, qira’ah sab’ah, serta berbagai penjelasan lain seperti sejarah turunnya surat, jumlah huruf, dan kalimat dalam Al-Qur'an.

Alasan Dinamai Firdaus al-Na’im
Menurut KH Thoyfur, nama ini dipilih dengan harapan agar kitab ini menjadi wasilah bagi dirinya, para santrinya, dan pecinta Al-Qur'an untuk meraih Surga Firdaus.

Biografi KH Thoyfur Ali Wafa
Beliau juga menyebutkan bahwa permintaan mengenai biografi dirinya cukup banyak, sehingga beliau menulis otobiografi dalam bahasa Arab, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh muridnya.

Pada akhir kajian, KH Thoyfur menjelaskan historiografi penyusunan Al-Qur'an, mulai dari zaman Nabi Muhammad, Khalifah Abu Bakar, hingga Khalifah Utsman bin Affan. Kodifikasi Al-Qur'an dilakukan pada masa Khalifah Utsman karena banyaknya penghafal Al-Qur'an yang gugur dalam perang melawan kaum murtad. Al-Qur'an yang telah dikodifikasi ini kemudian diduplikasi menjadi beberapa mushaf yang disebarkan ke kota-kota besar pada masa itu, seperti Mekkah, Basrah, Kufah, dan Syam.

Kontributor
Ismail Hasyim Ma’arif
Mahasantri Semester IV

Tim Media Ma'had Aly Darul Ulum Jombang


Berikan Komentar
Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin

LINK TERKAIT