PENERJEMAHAN LAFADZ عسى YANG BENAR DALAM AL-QUR’AN

Lafadz عسى dalam Al-Qur’an bukan sekadar kata yang menunjukkan harapan, melainkan mengandung dimensi linguistik dan teologis yang mendalam: Jika diucapkan oleh manusia, عسى bermakna harapan dan permohonan. Jika dinisbatkan kepada Allah, maka ia bermakna kepastian (pasti terjadi), kecuali dalam dua ayat yang dikecualikan oleh Ibnul Anbari. Dari sisi nahwu, عسى beramal layaknya fi’il naqish, dengan variasi pendapat di kalangan ahli nahwu tentang bentuk amalnya. Dari sisi tafsir,

Dokumentasi


Kajian Linguistik dan Tafsir
Muhammad Arsyad
Ma’had Aly Darul Ulum Jombang

Al-Qur’an adalah kalamullah yang menggunakan bahasa Arab dengan susunan yang indah dan makna yang sangat luas. Setiap lafadz, baik yang berupa huruf maupun fi’il (kata kerja), memiliki kedudukan penting dalam menyampaikan pesan ilahi. Oleh karena itu, analisis linguistik terhadap kata-kata Al-Qur’an menjadi salah satu pendekatan penting dalam memahami tafsirnya agar terhindar dari penerjemahan yang kurang tepat.

Salah satu lafadz yang menarik untuk dikaji adalah عسى. Secara umum kata ini mengandung makna harapan (tarajji) atau kekhawatiran (isyfaq), namun para ulama membedakan maknanya ketika dinisbatkan kepada manusia dan ketika dinisbatkan kepada Allah.

Kedudukan Linguistik

Lafadz عسى tergolong fi’il madhi jamid (kata kerja lampau yang tidak dapat ditashrifkan), sebagian ulama bahkan menganggapnya sebagai huruf.
Menurut Ibnu Paris, عَسٰٓى juga bisa bermakna hampir dan dekat, seperti:

}قُلْ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنَ رَدِفَ لَكُمْ بَعْضُ الَّذِيْ تَسْتَعْجِلُوْنَ{ [النمل 72]
Katakanlah (Nabi Muhammad), boleh jadi sebagian dari (azab) yang kamu minta disegerakan itu telah hampir sampai kepadamu.

Sementara itu, makna harapan pada sesuatu yang disenangi dan rasa takut terhadap hilangnya sesuatu yang dikasihi, tampak dalam firman Allah:

}كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ{ [البقرة 216]
Diwajibkan atasmu berperang, padahal itu kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu jahat bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.

Pandangan Ulama

Ibnu Abbas berkata: setiap lafadz عَسٰٓى yang ada di Al-Qur’an maka bermakna pasti.
Imam Syafi’i mengatakan: عَسٰٓى jika dinisbatkan kepada Allah maka bermakna pasti.
Dalam kitab Al-Burhan: lafadz عسى dan لعل bila datang dari Allah maka bermakna pasti, jika dari perkataan manusia maka permintaan dan harapan.

Imam Ibnul Anbari berpendapat: عَسٰٓى yang ada di dalam Al-Qur’an bermakna pasti kecuali dua:

عَسٰى رَبُّكُمْ اَنْ يَّرْحَمَكُمْۚ وَاِنْ عُدْتُّمْ عُدْنَاۘ وَجَعَلْنَا جَهَنَّمَ لِلْكٰفِرِيْنَ حَصِيْرًا [الإسراء 8]
Mudah-mudahan Tuhanmu melimpahkan rahmat kepadamu. Akan tetapi, jika kamu kembali (melakukan kejahatan), niscaya Kami kembali (mengazabmu). Kami jadikan (neraka) Jahanam sebagai penjara bagi orang-orang kafir.

عَسٰى رَبُّهٗٓ اِنْ طَلَّقَكُنَّ اَنْ يُّبْدِلَهٗٓ اَزْوَاجًا [التحريم 5]
Jika dia (Nabi Muhammad) menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya istri-istri yang lain.

Perbedaan Penggunaan

Jika diucapkan manusia, maknanya adalah harapan dan permohonan:

عَسَى اللَّهُ أَن يَجزِي المَوَّدَةَ بَينَنَا ... وَيُوصِلَ حَبلًا مِنكُم بِحِبَالِيَا
Semoga Allah membalas cinta di antara kita... dan menghubungkan salah satu dari kalian dengan yang lainnya.

Jika dinisbatkan kepada Allah maka bermakna kepastian:

}وَاٰخَرُوْنَ اعْتَرَفُوْا بِذُنُوْبِهِمْ خَلَطُوْا عَمَلًا صَالِحًا وَّاٰخَرَ سَيِّئًاۗ عَسَى اللّٰهُ اَنْ يَّتُوْبَ عَلَيْهِمْۗ اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ{ [التوبة 102]
(Ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosanya. Mereka mencampuradukkan amal yang baik dengan amal lain yang buruk. Pasti Allah akan menerima tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

}وَمِنَ الَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهٖ نَافِلَةً لَّكَۖ عَسٰٓى اَنْ يَّبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُوْدًا{ [الإسراء 79]
Pada sebagian malam lakukanlah salat tahajud sebagai (suatu ibadah) tambahan bagimu, pasti Allah mengangkatmu ke tempat yang terpuji.

}فَسَوْفَ يَأْتِى اللّٰهُ بِقَوْمٍ يُّحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَهٗٓ{ [المائدة 54]
Pasti Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya.

Faidah Tafsir

Imam Az-Zamakhsyari dalam kitabnya Al-Kasysyaf menyebutkan bahwa pengharapan dari Allah kepada hamba-Nya memiliki dua dimensi:

  1. Sebagai adatnya para penguasa yang menjawab dengan lafadz لعل وعسى, yang mana hakikatnya adalah kepastian.

  2. Sebagai bentuk pendidikan bagi hamba-hamba-Nya agar hidup dengan rasa takut dan mengharap kepada Allah.

Analisis I‘rab

Lafadz عسى secara nahwu memiliki beberapa kedudukan penting:

  1. Merafa’kan isim yang sharih, setelahnya diikuti oleh fi’il mudhari’ yang disertai أن. Dalam hal ini, ia beramal seperti fi’il naqish seperti كان.

  2. Fi’il muta‘addi (memerlukan maf’ul), kedudukannya sama dengan fi’il قارب, baik secara makna maupun amal.

  3. Fi’il qashir/lazim (tidak berhajat kepada maf’ul), sama dengan قرب. Sementara أن يفعل menjadi badal isytimal dari fa’il قرب. Pendapat ini dinukil dari Imam Sibawaih dan Al-Mubarrad.

Kesimpulan

Lafadz عسى dalam Al-Qur’an bukan sekadar kata yang menunjukkan harapan, melainkan mengandung dimensi linguistik dan teologis yang mendalam:

  • Jika diucapkan oleh manusia, عسى bermakna harapan dan permohonan.

  • Jika dinisbatkan kepada Allah, maka ia bermakna kepastian (pasti terjadi), kecuali dalam dua ayat yang dikecualikan oleh Ibnul Anbari.

  • Dari sisi nahwu, عسى beramal layaknya fi’il naqish, dengan variasi pendapat di kalangan ahli nahwu tentang bentuk amalnya.

  • Dari sisi tafsir, penggunaan lafadz ini menegaskan bahwa seorang mukmin harus hidup di antara khauf (takut) dan raja’ (harap), serta mempercayai kepastian janji Allah.

Dengan demikian, kajian atas lafadz عسى tidak hanya memperkaya aspek kebahasaan Al-Qur’an, tetapi juga memberikan pelajaran spiritual yang mendalam bagi umat Islam.

Daftar Pustaka

Al-Suyuthi, Jalaluddin. Al-Itqan fi Ulum Al-Qur’an. Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2018.
Al-Qanuji, Muhammad Shadiq Khan. Fathul Bayan fi Maqoshidil Qur’an. Al-Maktabah Al-Ashriah, 1992.
Al-Zarkasyi, Badruddin. Al-Burhan fi Ulumil Qur’an. Dar al-Ma’rifah, 1907.
Al-Mustashimi, Muhammad. Addurul Farid. Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2015.
Al-Thibi, Syarafiddin. Futuhaatul Al-Ghaib fi Al-Kasyfi an Qinairroyib. Markaz An-Nakhab Al-Ilmiyyah, 2013.
Al-Zabalawi, Sholahuddin. Dirosat fi An-Nahwi. Maktabah Syamilah.

Berikan Komentar
Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin

LINK TERKAIT