Beliau mengatakan : Manusia terbagi menjadi tiga kelompok 1. Orang yang beriman 2. Orang Kafir 3. Orang yang ragu Kelompok kedua dan ketiga itu akan mempunyai persamaan ketika di akhirat.
Hari kedua Pekan Ngaji Tafsir Nusantara yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Darul Ulum berlangsung penuh makna dengan menghadirkan KH. Zamroji Halim sebagai narasumber utama. Acara ini dimoderatori oleh Gus Ainur Rifqi, yang memulai dengan memberikan pengantar tentang profil KH. Zamroji Halim serta perjalanan keilmuannya yang sarat pengalaman.
Latar Belakang dan Pemikiran KH. Zamroji Halim
Dalam sesi pertama, KH. Zamroji Halim mengawali dengan menceritakan latar belakang keluarga dan perjalanan keilmuannya. Beliau kemudian mengenalkan karya tafsirnya, Tafsir al-Mu'tasham fii Tafsir al-Qur'an al-Mu'azzam. Penamaan Kitab ini terinspirasi dari Surah Ali Imran ayat 103 yang berbunyi,
{ وَٱعۡتَصِمُوا۟ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِیعࣰا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ۚ وَٱذۡكُرُوا۟ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ عَلَیۡكُمۡ إِذۡ كُنتُمۡ أَعۡدَاۤءࣰ فَأَلَّفَ بَیۡنَ قُلُوبِكُمۡ فَأَصۡبَحۡتُم بِنِعۡمَتِهِۦۤ إِخۡوَ ٰنࣰا وَكُنتُمۡ عَلَىٰ شَفَا حُفۡرَةࣲ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنۡهَاۗ كَذَ ٰلِكَ یُبَیِّنُ ٱللَّهُ لَكُمۡ ءَایَـٰتِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَهۡتَدُونَ }
Artinya :"Berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, janganlah bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara (Ingatlah pula ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.
[Surat Ali 'Imran: 103]
Dengan harapan dapat menjadi pedoman bagi para pengkaji Al-Qur'an dan ilmu-ilmu Al-Qur'an.
KH. Zamroji Halim menegaskan bahwa tafsirnya bukanlah yang terbaik, melainkan sebuah karya yang memiliki ciri khas berbeda dibandingkan tafsir-tafsir lainnya. Di antara keunikan tafsir ini adalah beliau menyelipkan penjelasan tentang :
1. Pembahasan tentang kitab Bible: Sebagai hasil dari pengalaman mendalam beliau mempelajari kitab tersebut secara intensif.
2. Ulasan tentang tokoh dan ulama Nusantara: Tidak hanya mengutip karya mereka, tetapi juga mencantumkan hasil pertemuan langsung (muwajjahah) dengan para tokoh tersebut.
Pentingnya Belajar Al-Qur'an
Pada segmen selanjutnya, KH. Zamroji Halim mengutip hadis Rasulullah SAW:
"Sebaik-baik manusia adalah yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya."
Beliau menyoroti pentingnya pendidikan Al-Qur'an di lingkungan pesantren, khususnya di Ma'had Aly, yang menjadi pusat ilmu-ilmu keislaman. Menurut beliau, pesantren bukan hanya tempat belajar ilmu, melainkan pusat pembentukan karakter dan spiritualitas.
KH. Zamroji Halim juga mengingatkan bahwa niat dalam menuntut ilmu dapat berkembang seiring waktu. Beliau mengutip Imam Al-Ghazali yang pernah berkata bahwa niat awal dalam belajar mungkin belum sepenuhnya karena Allah. Namun, melalui proses mendalam, ilmu itu sendiri akan menuntun seseorang menuju niat yang ikhlas demi Allah.
Menghidupkan Tafsir Nusantara
KH. Zamroji Halim menekankan pentingnya membumikan karya-karya ulama Nusantara, sebagai bentuk penghormatan atas warisan keilmuan mereka. Menurut beliau, sebagai umat Islam Indonesia, sudah sepatutnya kita menjadikan kitab-kitab karya ulama Nusantara sebagai rujukan utama.
Keistimewaan Acara
Salah satu momen istimewa dalam acara ini adalah pemberian ijazah khusus yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya. Sebelum memulai pengajian kitab Tafsir al-Mu'tasham, KH. Zamroji Halim memberikan ijazah kepada para peserta, menambah keberkahan acara.
Materi ngaji Tafsir al-Mu'tasham fii Tafsir al-Qur'an al-muazzam
Telah disebutkan bahwa dalam kitab ini ada beberapa penafsiran yang belum disebutkan dalam literatur tafsir sebelumnya dan beliau tidak mengatakan bahwa tafsir beliau yang terbaik tetapi hanya tampil beda.
Contohnya:
1. Al-fatihah
ketika beliau menampilkan penjelasan setelah surah Al-Fatihah yaitu :
Seseorang yang setelah baca Al-Quran membaca رَبِّ اغْفِرْ لي وَ لِوَالديّ آمين itu tidak mengapa bahkan itu adalah hal baik karena berisi dan dimaksudkan "Doa". Penjelasan ini muncul karena muallif menjumpai ada orang yang mengatakan hal itu tidak ada keterangannya padahal beliau punya sandaran dalil untuk mengesahkan bahwa melakukannya adalah dianjurkan.
2. Al-Baqarah
Pada ayat { وَإِن كُنتُمۡ فِی رَیۡبࣲ مِّمَّا نَزَّلۡنَا عَلَىٰ عَبۡدِنَا فَأۡتُوا۟ بِسُورَةࣲ مِّن مِّثۡلِهِۦ وَٱدۡعُوا۟ شُهَدَاۤءَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ إِن كُنتُمۡ صَـٰدِقِینَ }
[Surat Al-Baqarah: 23]
Beliau menjelaskan tidak ada kitab satu pun yang dapat mengungguli Al-Qur'an baik dari segi susunan, fashohah, berita-berita ghaib dan tidak ada dalam Al-Quran pertentangan antara ayat satu dengan ayat yang lain. Berbeda hal-nya dengan Injil disebutkan pada Bab Ta'lim pasal empat (4) " Ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan selain Allah yang Esa dan tidak ada Tuhan selainnya Tapi pada saat yang sama didalam Injil Matius pasal tiga (3) disebutkan " Allah berfirman Isa adalah anak-ku aku mengasihinya dan menghendakinya. Dan ini merupakan pertentangan yang sangat jelas antara ayat satu dengan yang lain.
3. Al-zalzalah
{ یَوۡمَىِٕذࣲ یَصۡدُرُ ٱلنَّاسُ أَشۡتَاتࣰا لِّیُرَوۡا۟ أَعۡمَـٰلَهُمۡ }
{ فَمَن یَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ خَیۡرࣰا یَرَهُۥ }
{ وَمَن یَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةࣲ شَرࣰّا یَرَهُۥ }
Ketika manusia keluar dari kuburnya menuju tempat hisab (perhitungan amal) itu digiring dengan beberapa kelompok ada yang amalnya baik maka bersinar wajahnya dan yang buruk merasakan ketakutan serta wajah mereka menghitam.
Beliau menampilkan tambahan dari ulama' asal Indonesia yaitu KH. Mukhtar Syafaat Blokagung Banyuwangi Jawa Timur.
Beliau mengatakan : Manusia terbagi menjadi tiga kelompok
1. Orang yang beriman
2. Orang Kafir
3. Orang yang ragu
Kelompok kedua dan ketiga itu akan mempunyai persamaan ketika di akhirat.
M. Rahmat Ramadhani (Mahasantri Semester 3)
Tim Media Ma'had Aly Darul Ulum Jombang