Relevansi Kaidah Ma'rifat dan Nakirah Dalam Ilmu Al-Qur’an di Masa Kini

Sehingga dapat disimpulkan bahwa kaidah ma’rifat dan nakirah tidak dapat dijadikan sebuah tolak ukur, karena tetap dibutuhkan penguasaan ilmu-ilmu lainnya. Dewasa ini, kita membutuhkan keluasan ilmu sebagaimana yang dimiliki Imam Al-Suyuthi untuk menjawab pernyataan-pernyataan kritis seperti yang diajukan oleh syekh Bahauddin.

Dokumentasi


Sebagai umat islam tentu saja kita semua tahu bahwa membaca dan memahami Al-Qur’an sudah menjadi sebuah keharusan. Sebab itulah muncul kitab-kitab klasik yang sampai saat ini menjadi transportasi kita untuk memahami dan menjaga Al-Qur’an. Seperti kitab Mabahits fi ‘Ulum Al-Qur’an karya Manna’ Al-Qattan, Al-Itqan fi ‘Ulum Al-Qur’an karya Imam Al-Suyuthi, Al-Burhan dan masih banyak lagi.


Seperti kaidah ma’rifat dan nakirah dalam ilmu Al-Qur’an, tentu saja kaidah tersebut hadir sebagai ikhtiar para ulama’ untuk memahami dan mempelajari Al-Qur’an. Contohnya kaidah ma’rifat dan nakirah yang pertama dan kedua pada surat Al-Insyirah ayat 5-6


فَإِنٌَ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا . إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا


"Maka, sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan,”


Berdasarkan kaidah, kesulitan yang dimaksud tetap satu, sedangkan kemudahannya ada dua yang berbeda


فَإِنْ كَانَا مَعْرِفَتَيْنِ فَالثَّانِي هُوَ الْأَوَّلُ غَالِبًا

وَإِنْ كَانَا نَكِرَتَيْنِ فَالثَّانِي غَيْرُ الْأَوَّلِ غَالِبًا 


Artinya, setiap satu ,kesulitan selalu diiringi dua kemudahan yang berbeda. Penjelasan ini didukung oleh hadis nabi


قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْآيَةِ: "لَنْ يَغْلِبَ عُسْرٌ يُسْرَيْنِ ". 


"Rasulullah SAW bersabda tentang ayat itu: ‘satu kesulitan tidak akan mengalahkan dua kemudahan’”


Kemudian pada surat Al-Muzammil ayat 15-16


…أَرْسَلْنَا إِلَى فِرْعَوْنَ رَسُولًا. فَعَصَى فِرْعَونَ الرَّسُولَ……


Maka di ayat ini kedua rasul yang disebutkan dengan keadaan yang berbeda (ma’rifat dan nakirah) adalah sama, karena sudah disebut sebelumnya(‘ahdi dzikri). Berdasarkan kaidah ma’rifat dan nakirah yang ketiga


 وَإِنْ كَانَ الْأَوَّلُ نَكِرَةً وَالثَّانِي مَعْرِفَةً فَالثَّانِي هُوَ الْأَوَّلُ حَمْلًا عَلَى الْعَهْدِ 


Selanjutnya kaidah yang keempat, diartikan berdasarkan konteks. Terkadang menunjukkan berbeda, terkadang pula menunjukkan sama.


وَإِنْ كَانَ الْأَوَّلُ مَعْرِفَةً وَالثَّانِي نَكِرَةً فَلَا يُطْلَقُ الْقَوْلُ بَلْ يُتَوَقَّفُ عَلَى الْقَرَائِنِفَتَارَةً تَقُومُ قَرِينَةٌ عَلَى التَّغَايُرِ 


Muncul sebuah pertanyaan, apakah kaidah ini berlaku di setiap kalimat ma’rifat dan nakirah pada ayat-ayat Al-Qur’an? Jawabannya adalah tidak. Seperti dalam surat Al-Insan ayat 1 dan 2,


هَلْ أَتَى عَلَى الْأِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ……الآية. إِنَّا خَلَقْنَا الْأِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ….الآية


Dalam ayat ini tidak berlaku kaidah yang pertama, sebab Al-Insan yang pertama adalah nabi Adam dan yang kedua adalah anak turunnya.


Kemudian dalam surat Al-Zukhruf ayat 84


وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي الأَرْضِ إِلَهٌ


Jika kita menggunakan kaidah yang kedua pada ayat ini, yaitu apabila terdapat dua isim nakirah maka yang pertama bukanlah yang kedua. Maka “Ilah” yang pertama dan kedua berbeda, apakah artinya ada dua tuhan? Justru ini menimbulkan kesalahpahaman yang fatal, karena tentu saja tuhan hanya ada satu alias esa.


Di dalam kitab Al-Itqon karya Imam Al-Suyuthi, kedua ayat tadi adalah sebuah pernyataan kritis syekh Bahauddin terhadap kaidah ma’rifat dan nakirah. Yang kemudian dijawab oleh Imam Al-Suyuthi dengan keluasan ilmu beliau.


Sehingga dapat disimpulkan bahwa kaidah ma’rifat dan nakirah tidak dapat dijadikan sebuah tolak ukur, karena tetap dibutuhkan penguasaan ilmu-ilmu lainnya. Dewasa ini, kita membutuhkan keluasan ilmu sebagaimana yang dimiliki Imam Al-Suyuthi untuk menjawab pernyataan-pernyataan kritis seperti yang diajukan oleh syekh Bahauddin.


Maka, apakah kaidah ini masih relevan di masa kini?

  1. Tidak, jika hanya berpedoman pada kaidah ma'rifat dan nakirah saja

  2. Iya jika dalam menafsirkan, kita juga menggunakan keilmuan yang lainnya.


Wallahu a’lama

Jika terdapat kesalahan maka itu murni kesalahan pemahaman penulis, jika terdapat kebenaran maka itu yang diajarkan oleh guru-guru penulis. Mohon berkenan memaafkan.


Shafira Innatus Solicha.P

Semester 3

Mahasantri Ma'had Aly Darul Ulum Jombang 

Berikan Komentar
Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin

LINK TERKAIT