Resensi Kitab Tafsir Hidayatul Qur’an karya KH. M. Afifuddin Dimyathi LC.MA

Kitab Tafsir Hidayatul Qur’an karya KH. M. Afifuddin Dimyathi, Lc., MA. adalah karya monumental yang menjadi sumbangsih besar dalam khazanah tafsir Al-Qur’an. Dengan pendekatan bil ma’tsur dan metode ijmali, kitab ini memberikan penafsiran yang sistematis dan saling terhubung antarayat Al-Qur’an. Penggunaan bahasa yang mudah dipahami membuat kitab ini relevan bagi berbagai kalangan, dari santri hingga akademisi.

Dokumentasi


Hidayatul Qur’an: Tafsirul Qur’an bil Qur’an adalah sebuah kitab tafsir yang diterbitkan oleh Dar an-Nibras Kairo. Kitab ini ditulis oleh KH. M. Afifuddin Dimyathi, pengasuh Ribath Hidayatul Qur’an, Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang yang juga menjabat sebagai Katib Syuriah PBNU sejak tahun 2018 hingga saat ini. Kitab Tafsir Hidayatul Qur’an sendiri dilaunching pada 10 Februari 2024 dan merupakan tafsir 30 juz yang dibagi dalam 4 jilid, dengan total 1988 halaman, dan belum termasuk kata pengantar.

Kitab ini mengaplikasikan pendekatan tafsir bil ma’tsur dan metode ijmali, yakni dengan menguraikan narasi umum mengenai ayat Al-Qur’an yang dijelaskan oleh ayat Al-Qur’an yang lain. Dalam penafsirannya, KH. M. Afifuddin Dimyathi memulai dengan menyebutkan nama surah, mengklasifikasikan surah tersebut ke dalam kategori makkiyah atau madaniyyah, dan mencantumkan jumlah ayat sesuai ijma’ ulama. Selanjutnya, beliau menguraikan ayat demi ayat dalam setiap surah, memberikan penjelasan umum, dan menafsirkan setiap ayat dengan ayat lain yang memiliki pembahasan serupa.

Kitab Tafsir Hidayatul Qur’an disusun berdasarkan tartib mushafi yang mengacu pada mushaf Utsmani. Jilid pertama memuat tafsir untuk surah Al-Fatihah hingga Al-An’am, jilid kedua meliputi surah Al-A’raf hingga Maryam, jilid ketiga mengupas surah Thaha hingga Shaad, dan jilid keempat berisi tafsir surah Az-Zumar hingga An-Naas. Setiap halaman mencantumkan bilangan juz, nama surah, dan nomor halaman. 

Dalam kitab ini, penulis berupaya menghubungkan satu ayat dengan ayat lain yang relevan. Ayat yang bersifat umum ditafsirkan dengan ayat yang lebih spesifik. Ayat yang penjelasannya ringkas dikembangkan dengan ayat yang memberikan penjelasan lebih rinci sesuai tema ayatnya. Selain itu, ayat-ayat yang tampak bertentangan akan disandingkan untuk menunjukkan bahwa tidak ada kontradiksi antara satu ayat dengan ayat lainnya. Penulis menjelaskan konteks masing-masing ayat, sehingga makna yang semula tampak bertentangan justru saling menguatkan dan melengkapi.

Pemberian nama Tafsir Hidayatul Qur’an sendiri mengidentikkan dengan nama ribath yang beliau asuh sejak tahun 2005, yakni Ribath Hidayatul Qur’an (HQ). Pemberian nama Hidayatul Qur’an merupakan salah satu nama yang disarankan oleh gurunya, KH. Mufid Mas’ud, saat beliau sowan mengajukan nama yang cocok untuk asrama yang diasuhnya. Kemudian, ayah beliau, KH. Ahmad Dimyathi Romly menyetujui usulan tersebut. Alasan beliau setuju karena bila dijadikan singkatan, pengucapannya menjadi lebih nyaman. Oleh karena itu, masyarakat memanggil asrama beliau dengan nama Ribath HQ. Begitu pula dengan karya beliau, masyarakat menjulukinya sebagai Kitab Tafsir HQ.

Dalam salah satu kesempatan, beliau menafsirkan salah satu ayat yakni QS. Al-Baqarah(2):97, yang menjelaskan bahwa turunnya Al-Qur’an sebagai kitab suci umat islam itu sampai ke hati, bukan akal, apalagi sebatas tenggorokkan, seperti yang termaktub dalam QS. Al- Baqarah(2):97

قُلْ مَن كَانَ عَدُوًّا لِّجِبْرِيلَ فَإِنَّهُۥ نَزَّلَهُۥ عَلَىٰ قَلْبِكَ بِإِذْنِ ٱللَّهِ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَبُشْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ

Adapun prosesnya Allah menurunkan wahyu melalui Malaikat Jibril, lalu Jibril membacakan lafadznya kepada Nabi Muhammad Saw, yang kemudian ditirukan oleh beliau. Cara membacanya pun tidak boleh tergesa-gesa agar segera dapat menghafal ayat tersebut, namun harus dengan tartil supaya maknanya bisa tersampaikan kepada hati Nabi Muhammad Saw, sebab Allah telah menjamin bahwa Nabi Muhammad Saw dapat menghafalkan seluruh ayat dari kalam-Nya. Maka, kesimpulan yang bisa diambil adalah setelah kita mendengar ayat yang dibacakan, maka tirulah bacaan tersebut. Dengan begitu, makna ayatnya akan diserap dan turun ke hati. Seperti yang termaktub dalam QS. Al- Qiyamah(75):16-19

ُ ثمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُۥ ٓ فَإِذَا قَرَأْنَٰهُ فَٱتَّبِعْ قُرْءَانَهُۥ إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُۥ وَقُرْءَانَهُۥ لَا تُحَرِّكْ بِهِۦ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ ٓبه

Paragraf diatas merupakan salah satu contoh gambaran penafsiran ayat pada Kitab Tafsir Hidayatul Qur’an. Satu ayat Al-Qur’an ternyata mampu ditafsirkan dengan ayat Al-Qur’an yang lain. Oleh karena itu, kitab ini tidak hanya diperuntukkan bagi umat islam dalam memahami Al-Qur’an secara holistik, sebab unsur kebahasaan yang disajikan mudah dipahami dan menjadikan kitab ini cocok untuk dipelajari dari kalangan manapun, terkhususnya bagi santri dan pecinta Al-Qur’an.

Kitab Tafsir Hidayatul Qur’an karya KH. M. Afifuddin Dimyathi, Lc., MA. adalah karya monumental yang menjadi sumbangsih besar dalam khazanah tafsir Al-Qur’an. Dengan pendekatan bil ma’tsur dan metode ijmali, kitab ini memberikan penafsiran yang sistematis dan saling terhubung antarayat Al-Qur’an. Penggunaan bahasa yang mudah dipahami membuat kitab ini relevan bagi berbagai kalangan, dari santri hingga akademisi.

Nama kitab ini mencerminkan dedikasi dan visi besar pengasuh Ribath Hidayatul Qur’an dalam menyebarkan cahaya Al-Qur’an. Dengan menyajikan tafsir yang komprehensif dan tematik, kitab ini berhasil menghilangkan kesan kontradiktif antara ayat-ayat Al-Qur’an, sekaligus mempertegas pesan bahwa Al-Qur’an adalah panduan hidup yang relevan sepanjang masa. Tafsir Hidayatul Qur’an merupakan referensi penting bagi siapa saja yang ingin mendalami kandungan Al-Qur’an dengan pendekatan yang otentik dan terarah.


Tim Media Ma'had Aly Darul Ulum Jombang

Berikan Komentar
Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin

LINK TERKAIT