Safari Ilmiah Hari Kedua: Al-Qur’an antara Turāṡ dan Realitas – Tafsir Klasik dalam Menjawab Problematika Kontemporer

Syaikh Prof. Dr. Muhammad Salim Abu ‘Ashi menegaskan bahwa warisan keilmuan Islam (turats) harus disikapi secara moderat, yaitu tidak diterima secara membabi buta maupun ditolak secara total. Untuk relevan dengan realitas kontemporer, pemahaman Al-Qur'an harus didasarkan pada metode yang kuat, yaitu: Metodologi pemahaman teks (ilmu ushul fiqh). Metodologi verifikasi teks (ilmu musthalah hadits). Metode berpikir logis (ilmu manthiq). Beliau juga menekankan pentingnya membedakan Al-Q

Dokumentasi

Senin, 22 September 2025 menjadi penutup rangkaian Daurah Ilmiah dan Bedah Kitab ‘Ilm al-Uṣūl: Madkhalan ilā Qirā’āt al-Qur’ān al-Majīd bersama ulama Al-Azhar, Syaikh Prof. Dr. Muhammad Salim Abu ‘Ashi. Bertempat di Gedung Serba Guna SMA DU 2 International Cambridge, seluruh mahasantri Ma’had Aly Darul Ulum hadir dengan penuh antusias untuk menyimak muhadharah serta diskusi ilmiah bersama guru besar Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir dari Universitas Al-Azhar, Kairo.



Pembukaan Acara


Dalam sambutannya, Syaikh Muhammad Salim membuka dengan rasa syukur kepada Allah SWT dan shalawat kepada Rasulullah SAW. Beliau menyampaikan terima kasih kepada Mudir Ma’had Aly, KH. Afifudin Dimyathi, serta seluruh peserta yang hadir. Beliau juga mengenang perjumpaannya dengan KH. Afifudin pada kesempatan sebelumnya, ketika menerima hadiah berupa kitab karya beliau. Menurut Syaikh, hal ini merupakan bukti nyata khidmat seorang ulama kepada umat.


Acara hari kedua ini semakin istimewa karena terbuka untuk umum, dengan menghadirkan delegasi Ma’had Aly dari luar serta siswa-siswi dari beberapa unit pendidikan di Pondok Pesantren Darul Ulum. Jalannya kegiatan dipandu oleh Agus Muhammad Izzudin, Lc. selaku moderator, dan dibantu penerjemah agar materi yang disampaikan dalam bahasa Arab lebih mudah dipahami peserta.


Turāṡ dan Realitas Kontemporer


Dalam pemaparannya, Syaikh Muhammad Salim mengangkat tema besar hubungan antara Al-Qur’an, turāṡ (warisan keilmuan Islam), dan realitas kehidupan modern. Menurut beliau, turāṡ merupakan literatur ulama klasik dalam berbagai disiplin, seperti hadis dan fikih, yang bersumber dari wahyu Al-Qur’an dan Sunnah. Kehadiran turāṡ membantu umat memahami wahyu melalui pemikiran ulama terdahulu.


Beliau menjelaskan tiga sikap ulama kontemporer terhadap turāṡ:

1. Menerima seluruh warisan ulama klasik secara mutlak.

2. Menolak keseluruhannya.

3. Bersikap moderat, yakni mengambil manfaat dari karya-karya klasik namun tetap menyesuaikannya dengan konteks modern.


Syaikh Muhammad Salim menegaskan dirinya termasuk kelompok ketiga, yaitu tidak terikat secara buta pada turāṡ, namun juga tidak menolaknya secara total.



Menyikapi turāṡ dan Kebutuhan Konteks Modern


Pertanyaan penting bagi kita saat ini adalah: bagaimana cara menyeleksi turāṡ (warisan keilmuan Islam) agar sesuai dengan kebutuhan konteks modern?


Kuncinya, kita perlu kembali menguatkan logika, sekaligus menggunakan kaidah metodologi yang telah disusun para ulama dalam karya-karya mereka. Sejak awal kita harus belajar dengan fokus pada metode dan kaidah-kaidah besar dalam literatur keilmuan, bukan hanya pada rincian masalah.


Para ulama telah menulis banyak kaidah, baik dalam ushūl fiqh, qawā‘id fiqhiyyah, dan bidang lainnya. Setiap ilmu memiliki metodologi, prinsip dasar, serta hukum-hukum umumnya, di samping detail masalah yang lahir dari prinsip tersebut. Yang perlu menjadi titik perhatian kita ialah cara para ulama membahas detail itu melalui metodologi yang mapan.



Tiga Metodologi Utama dalam Keilmuan Islam


Para ulama Islam telah mengembangkan tiga metode penting yang sangat berpengaruh dalam dunia ilmu pengetahuan:

1. Metodologi memahami teks – baik teks wahyu maupun teks lainnya. Ini menjadi inti dari ilmu ushūl fiqh, yang fokus pada ad-dalālat (bagaimana lafaz menunjukkan maknanya). Di sini kita belajar istilah-istilah seperti azh-zhāhir, an-nash, al-muhkam, al-musytarak, dan lainnya, yang wajib dikuasai untuk memahami teks, khususnya al-Qur’an dan as-Sunnah.

2. Metodologi verifikasi (at-tawtsīq) – yaitu memastikan validitas dan keaslian teks. Al-Qur’an telah diteliti dan disepakati keotentikannya yakni qat‘iyy ats-tsubūt (pasti dan tidak diragukan). Sedangkan hadis diperiksa melalui ilmu yang lahir murni dari peradaban Islam, seperti musthalah al-hadits, jarh wa ta‘dil, dan ‘ilm ar-rijāl.

3. Ilmu berpikir – cara mengolah informasi secara benar, yang dikembangkan dalam ilmu mantiq dan filsafat. Manusia dimuliakan oleh Allah dengan akal, tanpa akal kita tidak berbeda dengan makhluk lain. Karena itu Allah sering berfirman La’allahum yatafakkarūn (agar mereka berpikir), afala ta’qilūn (tidakkah kalian berakal?). Akal yang sehat menjadi sarana memahami al-Qur’an, hadis, dan ilmu lainnya.




Al-Qur’an dan Tafsir: Antara Kebenaran Mutlak dan Usaha Manusia


Syaikh Abu ‘Ashi menekankan pentingnya membedakan Al-Qur’an dan tafsir. Al-Qur’an bersifat mutlak benar dan suci, dan tidak  dapat diganggu gugat. Sedangkan tafsir adalah usaha manusia yang mungkin benar atau salah. Karena itu, tafsir yang bertentangan dengan nash yang jelas, logika sehat, atau bukti ilmiah perlu dikritisi.


Beliau mencontohkan beberapa riwayat dalam tafsir klasik yang perlu ditinjau kembali, seperti dalam Tafsir ath-Thabari terdapat riwayat yang menyebut Hawa sebagai sumber kesalahan manusia. Padahal al-Qur’an menyatakan dengan jelas

 وعصى آدم ربه فغوى 

“Adam yang mendurhakai Tuhannya, maka ia tersesat” (QS. Thaha [20]:121).

Penelitian menunjukkan riwayat seperti itu bersumber dari tradisi Isra’iliyyat dan pengaruh teks Yahudi-Kristen yang menyalahkan perempuan. Maka kita perlu memilah mana yang benar dan mana yang tidak.


Demikian pula ketika ada yang salah memahami penggalan ayat dalam surat Yūsuf 

 إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ 

“Sesungguhnya tipu daya kalian, wahai wanita, sangat besar” (QS. Yūsuf [12]:28) 

Dan membandingkannya dengan penggalan ayat 


إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا

“Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah”(QS. An-Nisā’ [4]:76). 

Allah sama sekali tidak sedang membandingkan tipu daya perempuan dengan setan. Ayat pertama berbicara tentang konteks kisah Nabi Yusuf, sedangkan ayat kedua tentang sifat setan secara umum.

Dalam Tafsir al-Alusi juga ditemukan riwayat yang lemah terkait penggalan ayat

 للذكر مثل حظ الأنثيين

“(Yaitu) bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan”(QS. An-Nisā’ [4]:11). 


Disebutkan bahwa sebab perbedaan warisan laki-laki dan perempuan berasal dari kesalahan Hawa yang “menyembunyikan benih”. Riwayat seperti ini tidak memiliki dasar yang kuat. Sebagaimana dikatakan Syaikh Muhammad “Jika pun benar riwayat itu, apa dosa seluruh perempuan, sementara yang bersalah hanya Hawa?”


Fokus dalam Membaca Tafsir


Ketika membaca tafsir, kita memerlukan fokus dan pendekatan yang jelas. Ada banyak harta karun dalam karya-karya tafsir yang dapat kita gali untuk menjawab kebutuhan zaman kini:


1. Mengambil pandangan yang selaras dengan logika dan diperkuat oleh ilmu mantiq, sekaligus menjauhi riwayat atau pendapat yang tidak masuk akal.


2. Memusatkan perhatian pada hidayah, karena al-Qur’an adalah petunjuk bagi manusia, bukan sekadar bahan analisis nahwu dan i‘rab.


3. Menyerap nilai-nilai universal dan akhlak kemanusiaan agar al-Qur’an menarik bagi audiens luas.


4. Menegaskan nilai keadilan bagi semua, sebagaimana firman Allah li-yaqūma an-nāsu bil-qisti. 


5. Memahami maqāshid asy-syarī‘ah bagaimana al-Qur’an menjaga akal, jiwa, agama, harta, dan nasab.


6. Mengambil pelajaran yang mendukung perdamaian, interaksi antar peradaban, dan isu-isu global kemanusiaan agar al-Qur’an berfungsi mewujudkan harmoni bagi seluruh umat manusia.


Pada akhirnya, Al-Qur’an dapat disimpulkan dalam dua kalimat:


Ḥadīṡ ‘an al-insān – pembicaraan tentang manusia.

Ḥadīṡ ilā al-insān – firman Allah yang ditujukan untuk manusia.


Sesi Diskusi dan Penutup


Setelah pemaparan, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif di antaranya:


Pertanyaan 1

Apa saja kaidah yang harus digunakan dalam memahami tafsir?

Jawaban:

1. Kaidah bahasa Arab – memahami i‘rab, balaghah, dan konteks kebahasaan Al-Qur’an.

2. Kaidah besar syariat – menimbang dengan maqāṣid al-syarī‘ah agar tafsir selaras dengan tujuan utama agama.

3. Kaidah logika – menggunakan akal sehat, penalaran, dan konsistensi berpikir dalam memahami makna.

Maka, tafsir yg bertentangan dengan 3 hal ini bisa dikatakan sebagai tafsir yang tidak benar


Pertanyaan 2

Apa saja tantangan dalam memahami tafsir klasik dan menerapkannya di masa sekarang?

Jawaban:

Tantangan utamanya adalah mengklasifikasikan tafsir yang ada dan menentukan mana yang relevan bagi zaman kita yang global. Fokus tafsir seharusnya adalah bagaimana Al-Qur’an dibaca untuk semua manusia dan menjawab isu-isu kontemporer, karena Al-Qur’an adalah hudā lil-nās (petunjuk bagi seluruh manusia).

Sebagai contoh, tafsir yang terlalu teknis seperti hanya berisi i‘rab atau balaghah mungkin sulit dipahami oleh orang awam. Kitab seperti Tafsīr Jalālayn tetap penting, namun kita juga perlu membaca tafsir yang lebih menyentuh isu-isu kemanusiaan, global, dan peradaban.

Tujuannya adalah agar tafsir dapat menjawab tantangan zaman: menyelamatkan manusia dari kerusakan, kegelapan, dan masalah-masalah besar kontemporer. Hal ini sejalan dengan gagasan dalam karya Kyai Awis yang akan segera terbit, yang membahas bagaimana petunjuk Al-Qur’an untuk manusia dalam membangun peradaban.



Kegiatan hari kedua ini ditutup dengan doa bersama yang dipimpin langsung oleh Syaikh Muhammad Salim, memohon keberkahan ilmu dan istiqamah dalam meneladani Al-Qur’an. 

Semoga rangkaian daurah ini membawa keberkahan dan menjadi inspirasi bagi pengembangan kajian Al-Qur’an di lingkungan Ma’had Aly Darul Ulum dan sekitarnya


Tim Jurnalis Ma'had Aly Darul Ulum Jombang


Nurun Nihayatul M. (Smt. 7) 

Naily Syarofah M. (Smt 5) 

Annisa' Khikmyatul F. (Smt. 5) 

Zida Afkarina (Smt. 1)

Berikan Komentar
Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin

LINK TERKAIT