Sambutan Pelantikan DEMA Ma'had Aly Darul Ulum: Kepemimpinan dalam Bingkai Amanah Ilahiyah

Suasana khidmat mewarnai prosesi pelantikan pengurus baru Dewan Mahasantri (DEMA) Ma'had Aly Darul Ulum. Dalam acara tersebut, KH. M. Afifuddin Dimyati, Lc., M.A., selaku Mudir Ma'had Aly Darul Ulum, menyampaikan sambutan yang mendalam, mengupas makna kepemimpinan dari perspektif Al-Qur'an.

Dokumentasi


Ma'had Aly Darul Ulum, Rabu, 4 Juni 2025

Suasana khidmat mewarnai prosesi pelantikan pengurus baru Dewan Mahasantri (DEMA) Ma'had Aly Darul Ulum. Dalam acara tersebut, KH. M. Afifuddin Dimyati, Lc., M.A., selaku Mudir Ma'had Aly Darul Ulum, menyampaikan sambutan yang mendalam, mengupas makna kepemimpinan dari perspektif Al-Qur'an.

Beliau mengawali sambutannya dengan ucapan selamat kepada seluruh anggota DEMA yang baru saja dilantik. Momentum ini, menurut beliau, bukan sekadar peralihan struktur organisasi, tetapi juga pengangkatan amanah besar yang akan dipertanggungjawabkan tidak hanya di dunia, tetapi juga di hadapan Allah kelak.

Dalam Al-Qur’an, menurut KH. Afifuddin, terdapat dua tipologi orang yang mendapatkan amanah kepemimpinan:

1. Pemimpin yang Mengajukan Diri (Murīd)
Contohnya adalah Nabi Yusuf ‘alaihis salam yang berkata:

قَالَ ٱجۡعَلۡنِی عَلَىٰ خَزَاۤىِٕنِ ٱلۡأَرۡضِۖ إِنِّی حَفِیظٌ عَلِیمࣱ
“Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga dan berpengetahuan.” (Surat Yusuf: 55)

Nabi Yusuf mengajukan diri karena memiliki keahlian dan integritas. Bahkan Raja Mesir mengangkatnya karena terkesan pada kecakapan dan kecerdasannya. Menurut beliau, ini menjadi dalil bahwa boleh bahkan perlu seseorang menampakkan keahlian dan kelayakannya untuk memimpin, terlebih dalam urusan umat. Apalagi dua sifat seperti ḥafīẓ (menjaga amanah) dan ‘alīm (berilmu) bersifat batiniah dan tidak selalu tampak.

2. Pemimpin yang Dipilih Karena Dianggap Layak (Murād)
Contohnya adalah Nabi Musa ‘alaihis salam dalam kisah yang disebutkan di surah al-Qashash:

قَالَتۡ إِحۡدَىٰهُمَا یَـٰۤأَبَتِ ٱسۡتَـٔۡجِرۡهُۖ إِنَّ خَیۡرَ مَنِ ٱسۡتَـٔۡجَرۡتَ ٱلۡقَوِیُّ ٱلۡأَمِینُ
“Wahai ayahku, ambillah dia sebagai orang yang bekerja (membantu) kita; sesungguhnya orang terbaik yang engkau ambil sebagai pekerja ialah yang kuat lagi dapat dipercaya.” (Surat al-Qashash: 26)

Nabi Musa tidak meminta posisi tersebut, namun direkomendasikan karena dinilai memiliki kekuatan dan dapat dipercaya (qawiyy dan amīn). Ini menunjukkan bahwa kepemimpinan juga bisa datang dari pengakuan dan kepercayaan masyarakat terhadap kualitas seseorang.

Empat Sifat Utama Pemimpin
Dari dua kisah tersebut, KH. Afifuddin merumuskan empat sifat utama yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin:

1. Ḥafīẓ – Mampu menjaga dan menunaikan amanah.
2. ‘Alīm – Berpengetahuan luas dan bijaksana.
3. Qawiyy – Kuat dalam prinsip, tegas dalam keputusan.
4. Amīn – Dapat dipercaya, jujur dan berintegritas.

Penegasan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan bukanlah jalan menuju kehormatan semata, melainkan medan perjuangan untuk melayani dan mengabdi. Para pengurus DEMA diharapkan mampu meneladani spirit para nabi: bekerja dalam diam, berjuang dengan keikhlasan, dan memimpin dengan akhlak.

Semoga pengurus baru DEMA Ma’had Aly Darul Ulum mampu menjalankan tugas dengan penuh dedikasi dan tanggung jawab, serta menjadi contoh dalam memadukan keilmuan, keteladanan, dan pengabdian.

Penulis: Rahmat Ramadhan
Mahasantri Semester 4
Ma'had Aly Darul Ulum

Berikan Komentar
Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin

LINK TERKAIT