SANAD ILMU FIQIH MASYAYIKH DARUL ULUM DAN SYAIKH ABDUL AZIZ ASY-SYAHAWI BERTEMU PADA SYAYIKH IBRAHIM AL-BAJURI

Sanad ilmu Fiqih masyayikh Pondok Pesantren Darul Ulum dengan sanad Fiqih Syayikh Abdul Aziz Asy-Syahawi bertemu pada syayikh Ibrahim al-Bajuri (W.1276 H)

Dokumentasi

PENTINGNYA SANAD

Mengambil sanad keilmuan adalah tuntunan dan tuntutan syariat Islam. Kewajiban mengambil sanad keilmuan sudah diajarkan Rasulullah SAW. Rasulullah SAW mengambil sanad keilmuan kepada malaikat Jibril AS., demikian pula para sahabat mengambil sanad kepada Rasulullah SAW dan begitu seterusnya hingga sekarang.

Ketersambungan sanad keilmuan itu penting karena beberapa faktor; pertama, untuk menghindari penyimpangan dan pemalsuan ilmu yang diajarkan Rasulullah SAW kepada umatnya.

Kedua, untuk menjaga kemurnian sumber-sumber ajaran agama Islam, seperti al-Qur'an dan Hadits dari tindakan tahrif atau distorsi teks agama.

Al-Quran menjelaskan bahwa suatu saat akan ada orang yang akan melakukan distorsi ayat, tetapi Allah SWT tegas menyatakan bahwa Ia akan menjaga kemurnian ayat-ayat al-Quran, sebagaimana firman-Nya:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا ٱلذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَٰفِظُونَ

Artinya: Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dzikr (al-Quran) dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya.(QS. Al Hijr: 9).

Adanya sanad ini, kita bisa membedakan antara keilmuan umat Islam dengan keilmuan non Islam. Kemurnian keilmuan (ajaran) Islam terjaga melalui sanad seorang guru ke guru dan dari guru ke murid. Dengan adanya ketersambungan sanad ilmu ini-lah kita bisa terhindar dari ajaran-ajaran yang menyimpang.

Abdullah bin Mubarak salah satu murid imam Malik dalam kitab Muqaddimah Shahih Muslim berkata:

الإسناد من الدين ولولا الإسناد لقال من شاء ما شاء

Artinya: Sanad merupakan bagian dari agama, andai tidak ada sanad, maka seseorang seenaknya ia berkata terhadap apa yang ia hendak katakan.

Dalam kitab at-Tibyan fi Adabi Hamalatil Quran. [1/25]. Ibnu Sirin dan Malik bin Anas dan selain keduanya berkata:

إن هذا العلم دين فانظروا عمن تأخذوا دينكم

Artinya: Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kamu mengambil agamamu (ilmumu).

Dan juga Ibnu Arabi dalam kitab al-Junub al-Araby hal. [4 ] berkata:

فما زال السلف يزكون بعضهم بعضا ويتوارثون التزكيات خلفا عن سلف و كان علماؤنا لا يأخذون العلم إلا ممن زكي وأخذ الإجازة من أشياخه

Artinya: Para ulama salaf selalu memuji satu sama lainnya dan terus terwariskan dari generasi ke generasi dan demikian para ulama kita tidak mengambil ilmu terkecuali dari orang yang bersih dan mengambil ijazah dari para gurunya.

 

CARA MENDAPATKAN SANAD

Syayikh Thahir bin Shaleh al-Damasyqi dalam kitabnya Taujih al-Nazhar ila Ushul al-Atsar. [2/769]. menjelaskan ada delapan cara untuk mendapatkan sanad periwayatan sebagai berikut:

وهي ثمانية السماع من الشيخ والقراءة على الشيخ والإجازة والمناولة والمكاتبة وإعلام الشيخ والوصية الكتاب والوجادة ...إلى أن قال... وهو من باب المنقطع والمرسل غير أنه أخذ شوبا من الاتصال لقوله وجدت بخط فلان

Artinya: Terdapat delapan cara mengambil riwayat hadits, yaitu (1) mendengar dari guru, (2) membaca di hadapan guru, (3) ijazah sanad dari guru, (4) memberi riwayat (al-munawalah), (5) berkirim tulisan (al-mukatabah), (6) pemberitahuan dari guru (i’lam al-syekh), (7) mewasiatkan sebuah tulisan, dan (8) menemukan tulisan guru (al-wijadah) tanpa pernah bertemu atau mendapat ijazah dan semisalnya. Teori terakhir ini masuk dalam kategori _riwayat munqathi’_ (terputus sanadnya) dan mursal, hanya ada nuansa bersambungnya sanad karena model periwayatannya menggunakan redaksi semisal “aku menemukan riwayat di tulisan syekh demikian."

Namun demikian, cara mendapatkan sanad keilmuan tentu tidak sama dengan cara mendapatkan sanad periwayatan hadist. Dalam memperoleh sanad keilmuan zaman ini cukup dengan tiga metode; Pertama, Sima’i, yaitu mendengarkan bacaan guru atas kitab yang diriwayatkan. Kedua, Qiraah, yaitu membaca kitab tersebut dan didengarkan langsung oleh seseorang guru. Kedua metode ini disebut dengan metode talaqqi. Ketiga, Ijazah, yaitu izin seseorang guru untuk meriwayatkan kitab tersebut.

 

SANAD ILMU FIQIH MASYAIKH DARUL ULUM

Kyai Haji Muhammad Romly Tamim selepas belajar al-Quran kepada ayahnya sendiri dan kakak iparnya yaitu kyai Aljuraimi suami dari Nyai Hj. Fatimah, seorang Mursyid dan pembawa Thoriqoh Qodiriyah Wa Naqsyabandiyah pertama di Pondok Darul Ulum Jombang. Kyai Romly berkelana menimba ilmu kepada Syayikhona Kholil Bangkalan Madura. Beliau Romly Tamim muda belajar agama seperti Al-Qur'an, ilmu alta (Nahwu, Sharraf), Fiqih, dan Tasawwuf serta ilmu lainnya

Setelah dirasa cukup belajar kepada Syayikhona Kholil Bangkalan, beliau melanjutkan belajar ke pesantren Tebuireng Jombang dalam asuhan langsung KH. Hasyim Asy'ary. Romly Tamim muda ketika itu  sudah berumur 25 tahun, usia yang cukup matang dan dewasa. Romly Tamim tergolong orang yang alim dan cerdas sehingga membuat KH. Hasyim Asy'ary menaruh hati padanya dan mengangkatnya sebagai lurah pondok.

Dari sini dapat diketahui bahwa silsilah sanad keilmuan kyai Romly Tamim bersambung pada dua kyai besar Jawa dan Madura, yaitu kyai Kholil Bangkalan dan kyai Hasyim Asy'ari Jombang. Namun untuk sanad keilmuan fiqih beliau didapat dari KH. Hasyim Asy'ary. Kalau kita mau mengetahui runtutan silsilah sanad fiqih masyayikh Darul Ulum Jombang, maka dijelaskan sebagai berikut;

Kyai Romly Tamim (W.1377 H) mengambil (belajar) kepada KH. Hasyim Asy'ary al-Jawi (W.1336 H.), KH. Hasyim Asy'ary belajar kepada syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani al-Jawi (W.1316 H), syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani al-Jawi belajar kapada syayikh Ibrahim al-Bajuri (W.1316 H).

Dengan runtutan silsilah yang demikian ini, maka dapat dipahami, bahwa sanad keilmuan fiqih masyayikh Darul Ulum dengan sanad fiqih syayikh Abdul Aziz Asy-Syahawi sama bertemu pada syayikh Ibrahim al-Bajuri (W.1276 H) pengarang kitab Jauharu at-Tauhid.

Adapun rincian titik temu sanad masyayikh Darul Ulum dan syayikh Abdul Aziz Asy-Syahawi al-Azhary dijelaskan, bahwa syaikh Ibrahim al-Bajuri (W.1276 H) mempunyai tiga santri besar, ketiga santrinya juga mempunyai santri yang berpengaruh besar di negara-negara  yang mayoritas berpenduduk Islam. Ketiga murid-murid syayikh Ibrahim al-Bajuri adalah:

Pertama, Muhammad Nawawi al-Bantany al-Jawi (W.1316 H) mempunyai murid KH. Hasyim Asy'ary al-Jawi (W.1336 H), KH. Hasyim mempunyai murid Kyai Muhammad Romly Tamim (W.1377 H), Jombang Jawa Timur

Kedua, Muhammad bin Ibrahim bin Abdullah al-Arabi (W.1380 H), memapunyai murid al-Qodhi Abu Ali Al-Masysyath (W.1399 H), beliau mempunyai murid Muhammad Zainuddin bin Abdul Majid al-Fansury (W.1418 H), Lombok Nusa Tenggara Barat

Ketiga, Umar bin Ja'far al-Sabrawi (W.1303 H) mempunyai murid Abdul Majid Asy-Syahawi (W.1346 H), mempunyai murid Abdul Hamid Asy-Syahawi (W.1388 H) dan belai mempunyai murid Grand syaikh Al Azhar Abdul Aziz Asy-Syahawi, Mesir

 

KARYA SYAYIKH IBRAHIM AL-BAJURI

Sebenarnya kitab-kitab karya Syayikh Ibrahim al-Bajuri banyak, hanya saja belum sempat tuntas. Yang tuntas hanya berberapa saja, diantaranya:

1). Kitab Jauharu at-Tauhid 2). Hasyiah 'ala Syarhi Kalima at-Tauhid 3). Tuhafatu al-Murid ala Jauhari at-Tauhid 4). dan Hasyiah 'ala Fath al-Qorib (Fiqih)

 

KARYA SYAYIKH MUHAMMAD NAWAWI  AL-BANTANI AL-JAWI

Kitab-kitab karya Syayikh Nawawi al-Bantani kurang lebih mencapai 115 judul kitab meliputi fan-fan ilmu, seperti Aqidah, Fiqih, Taswwuf, Tafsir, Tarikh, Hadist, Bahasa dan sastra Arab.

Diantara karya-karyanya:

Bidang Fiqih:

kitab Sullamu al- Munajat, Kasyifatu as-Syaja, Nihayatu as- Zain dan lain-lain

Bidang Aqidah:

Naqawat al-Aqidah, Tijan ad-Durari ala Risalat al-Bajuri, Ar-Risalat al-Jami’ah bayna Ushul ad-Din wa al-Fiqh wa

at-Tashawwuf, Al-Bahjah al-Hayyidah li Halli Naqawat al Aqidah, Hilyatu as-Shibyan ala Fath ar-Rahman dan Fath al-Majid fi Syarh ad-Durr al-Farid

Bidang Tafsir:

Marah Labid li Kasyfi al-Ma’na al-Qur’an al-Majid (Tafsir al-Munir), Hilyat ash-Shibyan fi Syarh Fath ar-Rahman fi al-Qira’at

Bidang Tasawwuf:

Qothru al-Ghaits, Naqwat al-Aqidah dan al-Bahjah al-Hayyidah

Bidang Tarikh:

Al-Ibrar ad-Dani fi Maulid Sayyidina Muhammad al-‘Adnan, Bugyat al-‘Awam fi Syarh Mawlid Sayyid al-Anam Shallallahu ‘alaihi wa sallam, li Ibn al-Jawzi dan Fath ash-Shamad al-‘Alim ‘ala Maulid

Bidang Bahasa dan Sastra Arab:

Al-Fushush al-Yaqutiyyah ‘ala ar-Rawdhah al-Bahiyyah, Futuh Ghafir al-Khatiyyah ‘ala al-Kawakib al-Jalilah fi Nazham al-Jurumiyyah li an Nabrawi dan Kasyf al-Murutiyyah Lubab al-Bayan.

 

KARYA KH. HASYIM AS'ARI AL-JAWI

Diantara kitab karya-karya KH. Hasyim Asy' ary:

Adab al-Alim wa al- Muta'allim, Ziyadat Ta'liqat, at-Tanbihat al-Wajibat Liman Yasna'u al-Maulid bi al- Munkarat, Ar-Risalah al-Jami'ah, Annur al-Mubin fi Mahabatti Sayyid al-Mursalin, Hasyiyat 'ala fathi ar-Rahman bi Syarhi risalat al-Wali Risalani li Syaikhi al-Islam Zakariya al-Anshari, Ad Durar al-Muntasirah fi al-masail at-Tis'a Asyarata dan at-Tibyan fi Nahyi an-Muqotha al-Arham wa al-Aqrab wa al-Akhwan.


KARYA KYAI MUHAMMAD ROMLY TAMIM

Disamping seorang mursyid, kiai Mumammad Romly Tamim juga produktif dalam menulis kitab. Di antara kitab-kitab karangan beliau ialah: al Istighotsah bi Hadrati Rabbi al Bariyyah, Tsamratu al- Fikriyah, Risalah al- Waqi’ah, dan Risalah ash-Shalawat an- Nariyah.

 

Tim Media Ma'had Aly Darul Ulum

Berikan Komentar
Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin

LINK TERKAIT