Al-Qur’an Ingin Dihadirkan, Bukan Sekadar Dibaca. Tadabbur Al-Qur’an bukan perkara banyak atau sedikitnya bacaan, tetapi bagaimana hati hadir saat membaca. Dengan hati yang terbuka dari kesombongan, kesediaan melihat keserasian ayat, dan niat untuk memperbaiki diri, Al-Qur’an akan menjadi cahaya yang hidup dalam kehidupan sehari-hari.
Dokumentasi
Oleh: Ainun Muzayanah
Mahasiswa semester Ahir Ma'had Aly darul ulum Peterongan Jombang
Al-Qur’an adalah kitab suci yang paling sering dibaca, namun sering kali paling jarang direnungi. Banyak lisan yang fasih melafalkan ayat, tetapi tidak semua hati benar-benar mendengarkan pesan yang terkandung di dalamnya. Padahal, Al-Qur’an diturunkan bukan sekadar untuk dibaca, melainkan untuk ditadabburi—direnungi, dihayati, dan dijadikan cermin kehidupan.
" Maka apakah mereka tidak mentadaburi Al-Qur'an, ataukah hati mereka terkunci? " (QS.Muhammad {47};24)
Ayat ini menunjukkan bahwa problem utama dalam membaca Al-Qur'an bukanlah kurangnya kemampuan membaca atau memahami bahasa arab, melainkan tertutup nya hati. Dalam salah satu penjelasannya, Gus Awis (Dr. K.H.Afifudfin Dimyati,Lc, MA)
Menyebutkan bahwa tadabbur yang benar tidak bisa dilakukan sembarangan. Ada tiga syarat utama agar Al-Qur’an benar-benar berbicara kepada hati, bukan sekadar lewat di lisan.
Membuka hati dengan menghilangkan kesombongan
Syarat pertama tadabbur adalah hati yang tidak terkunci. Hati yang tertutup tidak akan mampu menerima cahaya Al-Qur’an, seberapa sering pun ayat dibaca. Salah satu penyebab terbesar tertutupnya hati adalah kesombongan.
Kesombongan membuat seseorang merasa:
sudah benar,
sudah paling paham,
tidak butuh dinasihati oleh ayat.
Padahal Al-Qur’an dengan sangat jelas memperingatkan:
“Demikianlah Allah mengunci mati hati setiap orang yang sombong lagi sewenang-wenang.” (QS. Ghāfir [40]: 35)
Ayat ini menunjukkan bahwa kesombongan bukan sekadar penyakit akhlak, tetapi penghalang hidayah. Selama seseorang membaca Al-Qur’an dengan perasaan lebih tinggi dari ayat yang dibaca, maka tadabbur tidak akan pernah terjadi.
Di sinilah perbedaan mendasar antara tafsir dan tadabbur. Tafsir membutuhkan ilmu, kitab, dan metode. Sedangkan tadabbur membutuhkan kerendahan hati. Orang awam bisa bertadabbur, sementara orang alim pun bisa gagal bertadabbur jika hatinya dikuasai rasa ujub dan merasa paling benar.
Cara membuka hati untuk tadabbur bukan semata-mata dengan menambah bacaan, tetapi dengan mengosongkan diri dari kesombongan, lalu datang kepada Al-Qur’an sebagai hamba yang butuh petunjuk, bukan sebagai hakim yang ingin menilai
Tadabbur untuk Menemukan Keserasian Al-Qur’an
Syarat kedua tadabbur menurut Gus Awis adalah menjadikan Al-Qur’an sebagai satu kesatuan yang serasi dan saling menguatkan, bukan sebagai teks yang dicurigai dan dicari-cari perbedaannya. Allah Ta‘ālā berfirman:
“Seandainya Al-Qur’an itu datang dari selain Allah, niscaya mereka akan menemukan banyak pertentangan di dalamnya.” (QS. An-Nisā’ [4]: 82)
Tadabbur mengajarkan kita untuk percaya bahwa setiap perbedaan redaksi dalam Al-Qur’an pasti mengandung hikmah. Contoh yang sering dikemukakan adalah perbedaan lafaz dalam kisah Nabi Musa ‘alaihis salām:
فَانْفَجَرَتْ
(QS. Al-Baqarah [2]: 60)
فَانْبَجَسَتْ
(QS. Al-A‘rāf [7]: 160)
Kedua ayat ini sama-sama berbicara tentang air yang keluar dari batu, tetapi menggunakan lafaz yang berbeda. Ketika peristiwa tersebut dinisbatkan kepada Nabi Musa, digunakan lafaz fa-infajarat yang menunjukkan pancaran air yang kuat dan deras. Namun ketika peristiwa itu dikaitkan dengan kaum Nabi Musa, digunakan lafaz fanbajasat yang menunjukkan keluarnya air secara lebih terbatas.
Perbedaan ini bukan kebetulan, melainkan ketelitian makna. Tadabbur membantu kita melihat bahwa Al-Qur’an tidak pernah berlebihan dalam memilih kata. Setiap huruf, setiap lafaz, memiliki posisi dan pesan yang tepat.
Tadabbur sebagai Sarana Menegur dan Mengingatkan Diri
Syarat ketiga—dan yang paling penting—adalah orientasi tadabbur itu sendiri. Tadabbur bukan untuk mencari kesalahan orang lain, bukan untuk menghakimi kelompok tertentu, dan bukan untuk merasa paling suci. Tadabbur adalah proses menegur diri sendiri.
Allah Ta‘ālā berfirman:
“(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh keberkahan, agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.” (QS. Ṣād [38]: 29)
Perhatikan ujung ayat ini: waliyatadzakkara ulul albāb—agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran. Artinya, hasil akhir tadabbur bukan debat, bukan kemenangan argumen, melainkan kesadaran diri.
Jika setelah membaca Al-Qur’an seseorang semakin lembut pada dirinya, semakin mudah mengakui kesalahan, dan semakin berhati-hati dalam bersikap, maka itulah tanda tadabbur bekerja. Sebaliknya, jika seseorang rajin membaca Al-Qur’an namun semakin keras kepada orang lain dan semakin sulit menasihati dirinya sendiri, maka perlu dipertanyakan: apakah ia membaca dengan tadabbur, atau sekadar membaca?
PENUTUP
Al-Qur’an Ingin Dihadirkan, Bukan Sekadar Dibaca. Tadabbur Al-Qur’an bukan perkara banyak atau sedikitnya bacaan, tetapi bagaimana hati hadir saat membaca. Dengan hati yang terbuka dari kesombongan, kesediaan melihat keserasian ayat, dan niat untuk memperbaiki diri, Al-Qur’an akan menjadi cahaya yang hidup dalam kehidupan sehari-hari.