Salah satu hal menarik dari “Al-Washaya Al-‘Asyr” adalah tidak disinggungnya perkara makanan dan minuman. Ini menyiratkan pesan yang dalam: bahwa menjaga kemurnian moral, baik dalam hubungan dengan Tuhan maupun sesama manusia, jauh lebih utama daripada tenggelam dalam perdebatan panjang seputar hukum halal dan haram.
Siapa sangka, di tengah gurun yang kering dan bebatuan Gunung Sinai yang sunyi, justru terpantik salah satu percikan paling cemerlang dalam sejarah moral umat manusia. Di sana, menurut ajaran Yahudi-Kristiani, Tuhan menyampaikan sepuluh perintah langsung kepada Nabi Musa—yang dikenal sebagai The Ten Commandments, termaktub dalam Kitab Keluaran (Exodus) 20:1–17.
Sepuluh perintah ini bukan hanya kumpulan larangan dan anjuran; ia adalah kerangka etis yang membentuk kesadaran kolektif masyarakat Barat selama ribuan tahun. Larangan menyembah berhala, menghormati orang tua, tidak membunuh, tidak berzina, tidak mencuri, dan tidak bersaksi palsu—semuanya berakar pada satu gagasan utama: manusia tak bisa lepas dari tanggung jawab moral terhadap sesamanya dan terhadap Tuhan.
Lalu, apa saja sebenarnya isi dari ‘The Ten Commandments” yang begitu legendaris itu? Berikut adalah sepuluh perintah yang menjadi landasan moral dan etika dalam ajaran Yahudi-Kristiani (versi bahasa Indonesia) :
1. Jangan ada padamu tuhan-tuhan lain selain Aku.
2. Jangan membuat patung untuk disembah.
3. Jangan menyebut nama Tuhanmu dengan sembarangan.
4. Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat.
5. Hormatilah ayah dan ibumu.
6. Jangan membunuh.
7. Jangan berzina.
8. Jangan mencuri.
9. Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.
10. Jangan mengingini milik sesamamu.
Tapi tahukah kamu? Al-Qur’an juga memuat sepuluh wasiat—yang oleh sebagian ulama disebut sebagai “Al-Washaya Al-‘Asyr”, dan tercantum dalam QS Al-An’am ayat 151–153. Isinya? Tak jauh berbeda: mulai dari tauhid, keadilan, hingga larangan pembunuhan dan perbuatan keji.
Apakah ini kebetulan? Ataukah pesan langit memang berpijak pada nilai yang sama—meski disampaikan lewat rasul yang berbeda?
Salah satu hal menarik dari “Al-Washaya Al-‘Asyr” adalah tidak disinggungnya perkara makanan dan minuman. Ini menyiratkan pesan yang dalam: bahwa menjaga kemurnian moral, baik dalam hubungan dengan Tuhan maupun sesama manusia, jauh lebih utama daripada tenggelam dalam perdebatan panjang seputar hukum halal dan haram.
Al Washayaa al-‘Asyr ini tertuang dalam QS. Al - An’am [7] : 151 – 153 berikut :
قُلْ تَعَالَوْا اَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ اَلَّا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًاۚ وَلَا تَقْتُلُوْٓا اَوْلَادَكُمْ مِّنْ اِمْلَاقٍۗ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَاِيَّاهُمْۚ وَلَا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَۚ وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِيْ حَرَّمَ اللّٰهُ اِلَّا بِالْحَقِّۗ ذٰلِكُمْ وَصّٰىكُمْ بِهٖ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُوْنَ
وَلَا تَقْرَبُوْا مَالَ الْيَتِيْمِ اِلَّا بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ حَتّٰى يَبْلُغَ اَشُدَّهٗۚ وَاَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيْزَانَ بِالْقِسْطِۚ لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَاۚ وَاِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوْا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبٰىۚ وَبِعَهْدِ اللّٰهِ اَوْفُوْاۗ ذٰلِكُمْ وَصّٰىكُمْ بِهٖ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَۙ
وَاَنَّ هٰذَا صِرَاطِيْ مُسْتَقِيْمًا فَاتَّبِعُوْهُۚ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيْلِهٖۗ ذٰلِكُمْ وَصّٰىكُمْ بِهٖ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ
Ayat ini memerintahkan Rasul saw. mengajak mereka meninggalkan posisi yang rendah dan hina yang tercermin pada kebejatan moral dan perhambaan diri kepada selain Allah swt., menuju ketinggian derajat dan keluhuran budi pekerti.
Ibnu Mas'ud berkata, " Barang siapa ingin mengetahui wasiat pamungkas Rasulullah, hendaklah membaca ayat-ayat ini." Ibnu Abbas berkata, "Dalam surah al-An'aam ini ada ayat- ayat muhkam yang merupakan ummul kitab (induk kitab)." Kemudian, dia membaca ayat ini.
Para ulama menamakan sepuluh ajaran pokok itu "al-Washaya al-'Asyr" (sepuluh perintah), yang mana dalam ayat 151 ini disebutkan lima yaitu:
اَلَّا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا
Pokok pertama yang paling mutlak adalah larangan mempersekutukan Allah dengan apa pun dalam segala aspek kehidupan, baik dalam keyakinan di hati, perkataan, ataupun perbuatan.
وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا
Setelah Allah memerintahkan manusia agar bertauhid dan jangan mempersekutukan-Nya, maka Allah memerintahkan manusia agar berbuat baik terhadap kedua orang tua. Urutan ini jelas menerangkan bagaimana pentingnya berbuat baik terhadap kedua orangtua, Berbuat baik kepada orang tua ialah menghormati keduanya baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan penuh rasa cinta dan kasih sayang, bukan karena takut atau terpaksa.
وَلَا تَقْتُلُوْٓا اَوْلَادَكُمْ مِّنْ اِمْلَاقٍۗ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَاِيَّاهُمْۚ
Perintah berbuat baik kepada orang tua diikuti dengan larangan kepada orang tua membunuh anak mereka disebabkan kemiskinan yang menimpa mereka, karena Tuhan akan memberi rezeki kepada mereka dan anak-anak mereka.
وَلَا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَۚ
Allah melarang mendekati perbuatan-perbuatan keji apalagi mengerjakannya, baik berupa perbuatan, seperti berzina, atau menuduh orang berzina, baik perbuatan itu dilakukan dengan terang-terangan atau dengan sembunyi. Pendapat lain mengatakan bahwa yang dimaksud dengan perbuatan yang nampak (terang) ialah semua perbuatan dengan anggota tubuh, sedangkan yang tersembunyi adalah perbuatan hati, seperti takabur, iri hati, dan sebagainya.
وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِيْ حَرَّمَ اللّٰهُ اِلَّا بِالْحَقِّ
Pada ayat ini Allah melarang pula membunuh orang tanpa sebab yang benar menurut ajaran Tuhan.
Sedangkan dalam ayat 152 disebutkan empat wasiat. Dan yang sisanya (yang kesepuluh) terdapat pada ayat 153. Wasiat-wasiat itu adalah :
وَلَا تَقْرَبُوْا مَالَ الْيَتِيْمِ اِلَّا بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ حَتّٰى يَبْلُغَ اَشُدَّه
Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim seperti melakukan hal-hal yang mengarah kepada pengambilan hartanya dengan alasan yang dibuat-buat kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat dan lebih menguntungkan seperti menginvestasikannya agar berkembang, atau membayar zakatnya jika telah mencapai satu nisab sampai dia mencapai usia dewasa.
وَاَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيْزَانَ بِالْقِسْطِۚ
Sempurnakanlah takaran dan timbangan bi al – qisth, yakni dengan adil, sehingga kedua pihak yang menimbang dan ditimbangkan merasa senang, dan tidak dirugikan.
وَاِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوْا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبٰىۚ
Perintah berlaku jujur dalam perkataan. Apabila berbicara, seperti pada saat bersaksi atau memutuskan hukum terhadap seseorang, bicaralah sejujurnya. Sebab, kejujuran dan keadilan adalah inti persoalan hukum. Sekalipun persaksian itu untuk kerabatmu.
وَبِعَهْدِ اللّٰهِ اَوْفُوْا
Penuhilah janji Allah. Yaitu janji untuk mematuhi ketentuan yang digariskan oleh-Nya, baik dalam bidang ibadah, muamalah, maupun lainnya. Memenuhi janji ini akan mendatangkan kebaikan bagi manusia.
وَاَنَّ هٰذَا صِرَاطِيْ مُسْتَقِيْمًا فَاتَّبِعُوْهُ
Allah menjelaskan bahwa semua perintah dan larangan yang telah disebut pada ayat 151 dan 152 adalah jalan kebenaran yang harus diikuti. Karena inilah jalan yang benar, yang bisa memberikan jaminan kebahagiaan dan ketenteraman hidup di dunia dan di akhirat. Jika tidak mengikutinya, maka akan menimbulkan petaka dalam kehidupan.
Kemudian, terbaca sangat jelas bahwa masing – masing dari ketiga ayat diatas memiliki penutup yang berbeda. Lima wasiat pertama di tutup dengan firmannya : لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُوْنَ la’allakum ta’qilun (supaya kamu memahami). Disini menunjukkan tuntutan rasionalitas, karena siapa yang menggunakan akalnya dia pasti mengetahui betapa buruknya mempersekutukan Allah, durhaka pada orang tua, membunuh dan beberapa perbuatan keji lainnya. Manusia yang di anugerahi akal tidak akan melangkahkan kaki ke arah sana, kecuali jika tidak di pengaruhi oleh hawa nafsunya. Karena itu, ayat ini menekankan bahwa cukup dengan menggunakan akal yang sehat, manusia akan terdorong untuk menghindarinya.
Ayat 152 ditutup dengan لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَۙ la’allakum tadzakkarun (agar kamu mengingat). Disini menunjukkan bahwa yang menjadi sasaran adalah ranah hati dan ingatan. Karena larangan – larangan pada ayat di atas adalah hal yang sulit dan memerlukan penalaran, sehingga diperlukan pemikiran dan ingatan untuk mempertimbangkan kemaslahatan dan mudhorot yang diakibatkannya dalam kehidupan bermasyarakat. Pesan ayat ini menunjukkan peringatan keras dan tuntunan, sehingga ditutup dengan kata yang menunjuk kepada peringatan itu.
Ayat 153 ditutup dengan لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ la’allakum tattaqun (agar kamu bertakwa / menghindari dari bencana dan siksa). Oleh al-iskafi dinilai mengandung tuntunan bahwa agama yang disyari’atkan Allah swt. Merupakan jalan menuju kebahagiaan yang abadi. Karena itu ayat ini menelusuri jalan itu, dan tidak menoleh ke jalan – jalan lain, sehingga dapat menghindari kedurhakaan sekaligus dapat bertakwa, yakni menghindari bencana dan siksa-nya.
Sementara itu ulama yang lain menilai bahwa urutan penutup ketiga ayat di atas, yakni berakal, mengingat dan bertakwa menunjukkan hubungan sebab akibat. Hasil penggunaan akal adalah terus menerus awas dan ingat, sedang mereka yang terus awas dan ingat, akan terhindar dari bencana dan siksa, dan itulah makna serta hasil akhir yang diharapkan atau dengan kata lain yaitu takwa.
Hikmah Taqdim dan Ta’khir dalam QS. Al-An’am [6]:151 dan QS. Al-Isra’ [17]:31
Dalam kitab Nadzorot Lughawiyah (salah satu bahan ajar Ma’had ‘Aly), dijelaskan alasan perbedaan urutan lafaz dalam dua ayat yang sama-sama membahas larangan membunuh anak karena alasan ekonomi. Pada QS. Al-An’am [6]:151, Allah berfirman:
نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ
("Kami memberi rezeki kepada kalian dan kepada mereka.")
Sedangkan pada QS. Al-Isra’ [17]:31, redaksinya berbeda:
نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ
("Kami memberi rezeki kepada mereka dan kepada kalian.")
Perbedaan ini bukan tanpa makna. Pada QS. Al-An’am, konteksnya adalah pembunuhan anak yang dilakukan karena kemiskinan yang sedang dialami oleh orang tua. Maka, Allah mendahulukan jaminan rezeki bagi orang tuanya: نرزقكم—karena mereka yang sedang berada dalam kesulitan. Setelah itu baru disebutkan jaminan untuk anak-anak mereka: وإياهم. Seolah-olah Allah berkata: “Kalian (orang tua) justru diberi rezeki karena mereka (anak-anak), maka jangan membunuh mereka.”
Sementara itu, pada QS. Al-Isra’, konteksnya berbeda. Di sini, Allah menggunakan kata خشية إملاق, yang berarti “takut jatuh miskin”—yakni belum miskin, tapi khawatir akan menjadi miskin bila memiliki banyak anak. Maka, Allah mendahulukan jaminan rezeki untuk anak-anak mereka: نرزقهم sebelum menyebutkan jaminan untuk orang tuanya: وإياكم. Artinya, orang kaya yang takut miskin karena memiliki anak-anak justru diingatkan bahwa rezeki anak sudah ditanggung oleh Allah.
Imam Ar-Razi juga menjelaskan bahwa frasa من إملاق menunjukkan kemiskinan yang nyata dan sedang dialami, sedangkan خشية إملاق menunjukkan kekhawatiran atas kemiskinan di masa depan.
Referensi :
Quraish Shihab, Tafsir Al Mishbah, Jakarta, Lentera Hati, Jilid 4, hl 338 - 353
https://quran.nu.or.id/al-anam/151
https://quran.nu.or.id/al-anam/152
https://quran.nu.or.id/al-anam/153
https://tafsirweb.com/2275-surat-al-anam-ayat-151.html
https://tafsirweb.com/2276-surat-al-anam-ayat-152.html
https://tafsirweb.com/2277-surat-al-anam-ayat-153.html
Sholeh bin Husein Al-'aayed, Nadhorot Lughowiyah Fi Al-Qur'an Al-Karim, Dar Kunuz Isybiliya, cet 3, hl 175-177
Fakhr Al-Diin Al-Rozi, Mafatiih Al-Ghoib, Dar Al-Hadits Kairo, hl 211-216
https://lifehopeandtruth.com/bible/10-commandments/the-ten-commandments/10-commandments-list/
https://youtu.be/mapXZDV_btA?si=jEYcX0-IN80hlxdK
إذا بدأ كل شيء حولك مظلمًا ، انظر مرة أخرى ، قد تكون أنت النور.
― جلال الدين الرومي
“Kala dunia tampak tenggelam dalam gulita, jangan bergegas menyerah, pandanglah sekali lagi—karena bisa jadi, cahaya yang kau rindukan justru memancar dari dirimu sendiri.”
Naily Syarofah Maulidiyah
Mahasantri Semester 4
Tim Jurnalis Ma'had Aly Darul Ulum Jombang