Transformasi Menuju Generasi Berilmu dan Beradab: Pesan Pengarahan dr. Dr. KH. Dzulfikar As'ad, MMR pada MOM Ma'had Aly Darul 'Ulum Jombang

Pondok Pesantren Darul 'Ulum Rejoso Jombang didirikan pada tahun 1885 oleh Kiai Tamim Irsyad. Dalam perjalanannya, kepemimpinan dan pengasuhan pesantren diteruskan secara berkesinambungan melalui lintas generasi:

Dokumentasi


JOMBANG – Kehadiran mahasantri baru Ma'had Aly Darul 'Ulum Jombang tahun akademik 2026/2027 disambut dengan rangkaian pembekalan keilmuan dan keagamaan melalui kegiatan Masa Orientasi Mahasantri (MOM). Dalam kesempatan pengarahan khusus, dr. Dr. KH. Dzulfikar As'ad, MMR (Gus Uip), anggota Majelis Pimpinan Pondok Pesantren Darul 'Ulum Bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang), menyampaikan tajuk penting mengenai peradaban, nilai-nilai etika, serta arah transformasi intelektual mahasantri.

Pengarahan ini menjadi pilar pembentukan karakter mahasantri agar tidak hanya unggul secara akademis dan penguasaan turats (kitab kuning), tetapi juga matang secara spiritual, memiliki kedalaman adab, serta mampu menjadi teladan sosial di tengah masyarakat.

1. Pendahuluan dan Sejarah Kepemimpinan Pesantren

Mengawali pengarahannya, dr. Dr. KH. Dzulfikar As'ad, MMR memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT serta shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Beliau menegaskan pentingnya mahasantri memahami sejarah serta akar keilmuan lembaga tempat mereka menimba ilmu.

Pondok Pesantren Darul 'Ulum Rejoso Jombang didirikan pada tahun 1885 oleh Kiai Tamim Irsyad. Dalam perjalanannya, kepemimpinan dan pengasuhan pesantren diteruskan secara berkesinambungan melalui lintas generasi:

  • Generasi Pertama (Pendiri): KH. Tamim Irsyad.

  • Generasi Kedua: Para putra pendiri, di antaranya KH. Romly Tamim, KH. Dahlan Kholil, dan KH. Umar Tamim.

  • Generasi Ketiga: Para cucu pendiri, seperti KH. As'ad Umar, KH. Tamim Romly, KH. Kholil Dahlan, dan masyayikh lainnya.

  • Generasi Keempat (Masyayikh Saat Ini): Generasi penerus yang kini menjalankan roda kepemimpinan dan pengelolaan unit-unit di Darul 'Ulum, termasuk dr. Dr. KH. Dzulfikar As'ad, MMR (bin KH. As'ad Umar bin KH. Umar Tamim bin KH. Tamim Irsyad), KH. Kholil Dahlan, KH. Hamid Bisri, KH. Zaimuddin W As'ad, serta jajaran pimpinan lainnya.

Sebagai bagian dari Majelis Pimpinan Bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang), KH. Dzulfikar As'ad menekankan bahwa tugas Litbang adalah mengawal dan mengembangkan seluruh potensi keilmuan serta tata kelola kelembagaan agar pesantren senantiasa relevan dengan perkembangan zaman tanpa merusak marwah keislaman dan keaslian tradisi salaf.

2. Pokok Pemikiran: "Orang Beradab Pasti Berilmu, Orang Berilmu Belum Tentu Beradab"

Tema sentral yang diangkat dalam pengarahan ini adalah perbandingan mendasar antara ilmu dan adab. Beliau menegaskan sebuah kaidah filosofis:

"Orang yang beradab itu pasti memiliki ilmu, tetapi orang yang berilmu belum tentu memiliki adab."

Penjelasan dan Realitas Sosial

Seseorang yang benar-benar beradab dipastikan memiliki ilmu, karena ia memahami tata cara menghormati guru, kiai, orang tua, pimpinan, serta sesama manusia. Sebaliknya, ilmu pengetahuan yang tinggi tanpa diimbangi oleh adab hanya akan melahirkan sosok yang pandai namun tidak beretika.

Beliau menyoroti fenomena sosial di Indonesia, di mana tingkat pendidikan formal masyarakat semakin tinggi (S1, S2, hingga S3). Namun, maraknya kasus korupsi dan Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang menjerat berbagai oknum pejabat, kepala daerah, hingga penegak hukum menjadi bukti nyata bahwa kecerdasan intelektual dan tingginya gelar akademis tidak menjamin keluhuran budi pekerti seseorang apabila ia kehilangan adab dan keamanahan.

Oleh karena itu, di Ma'had Aly Darul 'Ulum, integrasi antara ilmu dan adab bukanlah pilihan "salah satu" (pilihan "atau"), melainkan kewajiban yang harus dimiliki secara bersamanya.

3. Manifestasi Adab dan Rasa Syukur kepada Sesama Manusia

Adab yang paling mendasar dalam kehidupan sehari-hari dimulai dari cara seseorang berinteraksi dan mengapresiasi sesama manusia. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW:

مَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللهَ

Artinya: "Barangsiapa yang tidak berterima kasih kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah." (HR. Tirmidzi)

Komparasi Perilaku dan Stereotip Budaya

Dalam pengarahannya, KH. Dzulfikar As'ad memberikan gambaran komparatif mengenai budaya menghargai dan meminta maaf:

  • Masyarakat Barat: Memiliki kebiasaan yang sangat kuat dalam mengucapkan terima kasih ("Thank You") untuk hal-hal kecil sekalipun sebagai bentuk apresiasi sosial. Namun, dalam konteks tertentu, mereka cenderung sangat irit dalam meminta maaf karena keterikatan pada standar operasional yang kaku.

  • Masyarakat Indonesia / Jawa: Sangat mudah mengucapkan kata maaf (bahkan sering mengawali pembicaraan atau pidato dengan permohonan maaf), namun terkadang masih kurang dalam mengapresiasi orang lain secara terbuka melalui ucapan terima kasih (sugeng/matur nuwun).

Etika Tutur Kata dan Interaksi Santri

Pentingnya membangun aura positif di lingkungan kampus dan asrama ditunjukkan melalui:

  • Mengucapkan Salam dan Tersenyum: Tersenyum dan menyapa sesama merupakan bagian dari ibadah yang menularkan energi positif.

  • Menjaga Bahasa dan Panggilan: Berbeda dengan interaksi kasar di pasar (seperti berteriak, tertawa terbahak-bahak, atau memanggil teman dengan sebutan fisik/ejekan), santri dan mahasantri wajib menjaga tata bahasa yang santun, memanggil nama dengan baik, serta menghindari ucapan yang merendahkan.

4. Adab Ekologis: Mencintai Alam Ciptaan Allah SWT

Keberadaban seorang Muslim yang berilmu tidak hanya terbatas pada hubungan antarmanusia (hablum minan-naas), tetapi juga mencakup hubungan dengan alam sekitar (hablum minal-'alam).

KH. Dzulfikar As'ad menegaskan bahwa bukti cinta seseorang kepada Allah SWT adalah dengan mencintai dan menjaga seluruh ciptaan-Nya. Beliau memberikan refleksi historis mengenai perubahan lingkungan:

  • Pada masa kecil beliau, sungai-sungai di sekitar Rejoso sangat jernih dan bersih, sehingga dapat digunakan untuk mandi dan koin yang dilemparkan ke dalam air masih dapat terlihat dengan jelas.

  • Saat ini, akibat menurunnya kesadaran ekologis sebagian masyarakat, sungai dan lingkungan banyak tercemar oleh limbah dan sampah.

Mahasantri sebagai kaum terpelajar dituntut untuk memiliki kepedulian lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan dan senantiasa menjaga kebersihan kompleks pesantren serta lingkungan sekitarnya.

5. Penghormatan Utama: Kiai, Guru, dan Birrul Walidain

Dalam tradisi pesantren, penghormatan kepada kiai dan guru merupakan hal yang sangat dijunjung tinggi. Namun, dr. Dr. KH. Dzulfikar As'ad, MMR mengingatkan agar penghormatan kepada kedua orang tua kandung (Birrul Walidain) senantiasa ditempatkan pada posisi tertinggi.

Prinsip ini berlandaskan pada hadits Nabi SAW:

رِضَى اللهِ فِي رِضَى الْوَالِدَيْنِ وَسَخَطُ اللهِ فِي سَخَطِ الْوَالِدَيْنِ

Artinya: "Keridhaan Allah tergantung pada keridhaan kedua orang tua, dan kemurkaan Allah tergantung pada kemurkaan kedua orang tua." (HR. Tirmidzi)

Seni Mengabarkan Keadaan kepada Orang Tua

Sebagai bentuk bakti kepada orang tua selama menempuh pendidikan perguruan tinggi di Ma'had Aly, beliau memberikan petunjuk praktis:

  • Senantiasa Mengabarkan Berita Baik: Berikan kabar mengenai kelancaran perkuliahan, prestasi, serta kondisi kesehatan yang baik. Kabar-kabar positif akan menentramkan jiwa orang tua, memberikan kebahagiaan, dan secara psikologis dapat memperpanjang usia mereka.

  • Menyelesaikan Masalah Mandiri: Masalah-masalah kecil atau kendala pribadi hendaknya diselesaikan secara mandiri tanpa harus langsung dibebankan kepada orang tua yang dapat membuat mereka cemas dan kepikiran.

6. Fondasi Tauhid, Keimanan, dan Perbandingan Peradaban

Meskipun bangsa-bangsa Barat secara fisik dan tata kelola sosial terlihat tertata dan berilmu, KH. Dzulfikar As'ad menekankan bahwa umat Islam memiliki keunggulan hakiki yang tidak dimiliki oleh peradaban lain, yaitu Iman dan Tauhid.

Prinsip Tauhid yang kokoh terangkum dalam Surah Al-Ikhlas:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ۞ اللَّهُ الصَّمَدُ ۞ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ۞ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Artinya: "Katakanlah (Muhammad), 'Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia.'" (QS. Al-Ikhlas: 1-4)

Keberkahan Syiar Islam

Beliau membagikan pengalaman spiritual saat berkunjung ke berbagai negara di Eropa (seperti Jerman, Prancis, Inggris, dan Rusia):

  • Banyak gereja di Eropa yang sepi dari jemaat dan akhirnya diubah fungsinya menjadi masjid karena pertumbuhan umat Islam yang pesat.

  • Meskipun diterpa isu Islamophobia, syiar Islam di berbagai belahan dunia justru semakin berkembang pesat, ditandai dengan maraknya fasilitas halal dan pusat-pusat komunitas Muslim.

Keyakinan Tauhid inilah yang menjadi kunci utama penerimaan amal ibadah di sisi Allah SWT.

7. Tanggung Jawab Mahasantri sebagai Uswah Hasanah

Sebagai peserta didik di tingkat perguruan tinggi pesantren (Ma'had Aly), mahasantri memegang status sebagai senior di tengah ribuan siswa/santri jenjang menengah (SMP/MTs, SMA/MA/SMK) di kompleks Pondok Pesantren Darul 'Ulum.

Pengangkatan Derajat Orang Berilmu

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Mujadilah ayat 11:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Artinya: "Niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat." (QS. Al-Mujadilah: 11)

Menjadi Manusia yang Bermanfaat

Pengangkatan derajat tersebut harus diimbangi dengan peran aktif mahasantri untuk menjadi teladan (uswah hasanah) dan memberikan manfaat nyata bagi lingkungan sekitar, sesuai sabda Rasulullah SAW:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Artinya: "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." (HR. Thabrani)

Di akhir pengarahannya, dr. Dr. KH. Dzulfikar As'ad, MMR memberikan dorongan semangat kepada seluruh mahasantri—baik yang menempuh jalur beasiswa (seperti LPDP/PBSB) maupun jalur mandiri—agar senantiasa menaati tata tertib Ma'had Aly, memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, serta meluruskan niat semata-mata mencari keridhaan Allah SWT.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ


IT & Media Ma'had Aly Darul Ulum Jombang

Berikan Komentar
Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin

LINK TERKAIT