Pada akhir kajian, KH Thoyfur menjelaskan historiografi penyusunan Al-Qur'an, mulai dari zaman Nabi Muhammad, Khalifah Abu Bakar, hingga Khalifah Utsman bin Affan. Kodifikasi Al-Qur'an dilakukan pada masa Khalifah Utsman karena banyaknya penghafal Al-Qur'an yang gugur dalam perang melawan kaum murtad. Al-Qur'an yang telah dikodifikasi ini kemudian diduplikasi menjadi beberapa mushaf yang disebarkan ke kota-kota besar pada masa itu, seperti Mekkah, Basrah, Kufah, dan Syam.
Gambaran tersebut menyimpukan bahwa dalam melestarikan Sunni di Pulau Madura melalui karya tulisan berupa kitab, ulama pesantren yang patut untuk dipelajari adalah Kyai Toifur Ali Wafa.
Beliau mengatakan : Manusia terbagi menjadi tiga kelompok 1. Orang yang beriman 2. Orang Kafir 3. Orang yang ragu Kelompok kedua dan ketiga itu akan mempunyai persamaan ketika di akhirat.
Tafsir Al-Mu'tasham fii Tafsir al-Qur'an Al-Mu'azzam karya KH. Zamroji Halim adalah karya yang menunjukkan keluasan ilmu dan bacaan penulisnya. Kitab ini sangat layak untuk dibaca dan dijadikan rujukan bagi siapa saja yang ingin memperdalam pemahaman terhadap Al-Qur'an.
KH. Zamroji Halim, yang dikenal dengan nama pena beliau, memiliki nama lengkap Ahmad Zamroji Halim. Setelah menunaikan ibadah haji, nama beliau berubah menjadi Abdul Halim Al-Halimi Abu Hatim Al-Asham.
“Ayat-ayat ono ing duwur nerangke yen bondo, kedudukan, iku ora keno digawe anggak-anggakan, yen wis mati bondone iku ora keno nebusi duso,opo maneh pangkate kang wus ilang”.