Syekh Izzuddin bin Abdussalam telah membuktikan bahwa keterbatasan finansial bukanlah penghalang bagi seseorang untuk menjadi alim. Ia menjadi simbol harapan bahwa seseorang yang lahir dari keluarga miskin pun mampu tumbuh menjadi seorang ulama besar yang keilmuannya diakui oleh dunia Islam.
Syajaratul Ma’arif merupakan salah satu karya monumental dalam khazanah Islam. Kitab ini tidak hanya membahas tafsir Al-Qur’an, tetapi juga membimbing pembaca untuk mencapai ihsan dalam berbagai aspek kehidupan. Dengan pendekatan yang kuat dalam tauhid, akhlak, dan fikih, kitab ini menjadi rujukan penting bagi siapa saja yang ingin mendalami Islam secara mendalam dan sistematis.
Panitia dan pihak Pondok Pesantren Darul Ulum mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam menyukseskan acara ini. Sampai jumpa di Pekan Ngaji Tafsir Nusantara selanjutnya.
Dengan terselenggaranya acara ini, PBNU menegaskan komitmennya untuk terus mendorong semangat belajar dan mengajar di kalangan masyarakat. Pendidikan dianggap sebagai fondasi penting dalam membentuk karakter serta menciptakan masa depan bangsa yang lebih baik.
Sesi ini dipandu oleh moderator yang dengan baik mengarahkan jalannya diskusi, sehingga pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dapat terjawab dengan jelas. Semoga kajian ini bermanfaat dan semakin memperkaya khazanah keilmuan kita dalam memahami tafsir Al-Qur’an.
KH Thoyfur mengakhiri pertemuan dengan mengijazahkan kitab Firdaus al-Na’im kepada para peserta Pekan Ngaji Tafsir Nusantara. Beliau juga memohon maaf atas keterbatasannya hadir secara langsung, serta memanjatkan doa untuk kesehatan dirinya dan para peserta.