Ketika membaca Al-Qur’an, seseorang dianjurkan untuk: Mendengarkan bacaan dengan penghayatan. Melihat mushaf dengan kekhusyukan. Merenungkan makna dengan hati dan akal bersih.
Setiap makhluk hidup di dunia ini pasti memiliki cobaan masing-masing. Ada yang diuji dengan keimanan dan ketakwaan, ada pula yang diuji dengan rasa tidak percaya diri (insecure), merasa dirinya tidak mampu, atau dihimpit oleh berbagai permasalahan hidup—baik dengan teman maupun orang-orang terdekat. Sering kali, kita merasa ingin menyerah saat berada dalam kondisi seperti ini. Alih-alih bertahan, kita merasa menjadi orang paling menderita di muka bumi.
Suasana khidmat mewarnai prosesi pelantikan pengurus baru Dewan Mahasantri (DEMA) Ma'had Aly Darul Ulum. Dalam acara tersebut, KH. M. Afifuddin Dimyati, Lc., M.A., selaku Mudir Ma'had Aly Darul Ulum, menyampaikan sambutan yang mendalam, mengupas makna kepemimpinan dari perspektif Al-Qur'an.
Al-Qur’an memberikan panduan yang jelas dan menyeluruh dalam menghadapi penyalahgunaan kekuasaan dan korupsi. Melalui ayat-ayat seperti QS. An-Nisa: 58, QS. Al-Ma’idah: 8, dan QS. Al-Baqarah: 188, kita diajarkan untuk menunaikan amanah, menegakkan keadilan, dan menjauhi perbuatan yang merugikan masyarakat. Dalam konteks kekuasaan dan kepemimpinan, Al-Qur’an mendorong penguasa dan pemegang amanah untuk berintegritas, bertanggung jawab, dan berlaku adil tanpa memandang kepentingan pribadi.
Salah satu hal menarik dari “Al-Washaya Al-‘Asyr” adalah tidak disinggungnya perkara makanan dan minuman. Ini menyiratkan pesan yang dalam: bahwa menjaga kemurnian moral, baik dalam hubungan dengan Tuhan maupun sesama manusia, jauh lebih utama daripada tenggelam dalam perdebatan panjang seputar hukum halal dan haram.
Walaupun secara linguistik kata الوالدين lebih condong kepada ibu, namun makna zhahir ayat tetap menunjuk kepada keduanya: ayah dan ibu. Sebagaimana dalam firman Allah: وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا “Hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua (ibu dan ayah).”