Pada ahad, 18 Oktober 2026 mendatang, Ma’had Aly Darul Ulum kembali menggelar Muhadharah Ammah bertema “Menjaga Keaslian Metodologi dan Sanad Tafsir Jalalain”. Kegiatan yang terbuka untuk umum ini akan menghadirkan Dr. Sa’id Muhammad Ali, mudarris Masjid Al-Azhar, Kairo, Mesir, sebagai narasumber.
Dalam momentum safari dakwah dan lawatan ilmiahnya di Nusantara, Syaikh As-Said Muhammad Ali Al-Azhari berkenan hadir untuk menyapa para akademisi santri dan masyarakat luas dalam majelis Muhadharah Ammah yang diselenggarakan oleh Ma'had Aly Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang.
Keikutsertaan panitia dalam tanggung jawab di divisi lain sifatnya adalah ta'awun saling membantu dengan sukarela. Kita harus ikhlas dan harus ikut. Ada konsep ta'awun dan ukhuwwah di sini jangan sendiri-sendiri, kalau bisa malah tawarkan bantuan kepada yang lain. Kami sangat berterima kasih atas kerja sama dan jerih payah seluruh panitia yang tidak bisa dibalas secara materi, tetapi semoga Allah membalas di akhirat, atau dengan kesehatan, jodoh yang baik, dan ilmu yang bermanfaat.
Penyelenggaraan kegiatan ini merupakan sebuah upaya konkret untuk menghadirkan kembali relevansi 'Ulumul Qur'an di konteks keindonesiaan. Langkah ini menyusul kesuksesan agenda tahun sebelumnya, yaitu Pekan Tafsir Nusantara, yang berhasil menghadirkan para mufasir kenamaan Indonesia yang telah memublikasikan karya-karya mereka ke hadapan khalayak luas.
Syaikh Prof. Dr. Muhammad Salim Abu ‘Ashi menegaskan bahwa warisan keilmuan Islam (turats) harus disikapi secara moderat, yaitu tidak diterima secara membabi buta maupun ditolak secara total. Untuk relevan dengan realitas kontemporer, pemahaman Al-Qur'an harus didasarkan pada metode yang kuat, yaitu: Metodologi pemahaman teks (ilmu ushul fiqh). Metodologi verifikasi teks (ilmu musthalah hadits). Metode berpikir logis (ilmu manthiq). Beliau juga menekankan pentingnya membedakan Al-Q
Sesi ini dipandu oleh moderator yang dengan baik mengarahkan jalannya diskusi, sehingga pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dapat terjawab dengan jelas. Semoga kajian ini bermanfaat dan semakin memperkaya khazanah keilmuan kita dalam memahami tafsir Al-Qur’an.
Pesan yang disampaikan oleh KH. Miftakhul Akhyar mengandung harapan besar agar umat Islam menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Dengan demikian, kita tidak hanya dapat meraih kebahagiaan duniawi, tetapi juga kebahagiaan akhirat. Semoga pesan ini menjadi dorongan bagi kita semua untuk terus belajar, berkembang, dan memberikan manfaat kepada orang lain, serta menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber inspirasi dalam menjalani kehidupan yang penuh tantangan.
Setelah acara seremonial yakni sambutan, mauidhoh hasanah, dan ramah tamah, maka acara di siang hari ini dilanjut dengan acara sarasehan "Diskusi Tafsir Hidayatul Qur'an" oleh Tim konstributor daras tafsir, tim nahdlatut turots, LTN, dan Mahasantri Ma'had Aly Darul ulum.
Pentingnya mempelajari ulumul quran menurut beliau adalah, agar tidak terjadi kesalahan dalam membaca alquran karena kesalahan kecil seperti demikian akibatnya bisa fatal, sedangkan beliau menegaskan mengenai sifat alquran dan bersifat sepanjang masa, dan mengkritik orang orang yang menganggap alquran secara tekstual dengan menyodorkan sifat dari ilmu sababun nuzul oleh sebab itu muncullah kaidah "Al-ibratu bil umumil lafdzi la bi khusus al sabab".